Apa itu Novena?
oleh: Romo William P. Saunders *


Dalam artikel yang terakhir disinggung mengenai Novena bagi Arwah Semua Orang Beriman. Saya ingat, ibu saya biasa mendaraskan bermacam doa novena. Dapatkah dijelaskan asal-mula novena dan perannya dalam Gereja pada masa sekarang?
~ seorang pembaca di Springfield

Singkatnya, novena adalah doa pribadi atau doa bersama selama sembilan hari berturut-turut yang dipanjatkan guna mendapatkan suatu rahmat khusus, memohon suatu karunia khusus atau menyampaikan suatu permohonan khusus. Novena berasal dari kata Latin “novem” yang artinya “sembilan”. Seperti tampak dalam definisi di atas, novena selalu menyiratkan adanya kepentingan yang mendesak.

Dalam liturgi Gereja, novena dibedakan dari oktaf, yang sifatnya lebih pada perayaan, entah sebelum atau sesudah suatu pesta penting. Misalnya, dalam penanggalan liturgi Gereja, kita merayakan Oktaf sebelum Natal, di mana pendarasan antifon “O” membantu kita mempersiapan diri menyambut kelahiran Juruselamat kita. Kita juga merayakan Oktaf Natal dan Paskah, yang meliputi hari pesta itu sendiri dan tujuh hari sesudahnya, guna menekankan sukacita misteri-misteri yang dirayakan.

Sulit ditentukan dengan tepat, asal mula novena sebagai bagian dari harta rohani Gereja. Perjanjian Lama tidak mencatat adanya perayaan selama sembilan hari di kalangan bangsa Yahudi. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus, Tuhan memberikan Perutusan Agung kepada para rasul, dan kemudian menyuruh mereka untuk kembali ke Yerusalem dan menunggu datangnya Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul dicatat, “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kis 1:12, 14).Sembilan hari sesudahnya, Roh Kudus turun atas para rasul pada hari Pentakosta. Kemungkinan, “periode doa sembilan hari” yang dilakukan oleh para rasul inilah yang menjadi dasar dari doa novena.

Jauh sebelum kekristenan, bangsa Romawi kuno juga mempraktekkan doa selama sembilan hari demi berbagai macam kepentingan. Penulis Livy mencatat bagaimana doa sembilan hari itu dirayakan di Gunung Alban guna menolak bala atau murka para dewa seperti yang diramalkan oleh para tukang tenung. Begitu pula, doa sembilan hari dipersembahkan apabila suatu “hal baik” diramalkan akan terjadi. Keluarga-keluarga juga menyelenggarakan masa duka selama sembilan hari atas kematian orang yang dikasihi dengan suatu perayaan khusus sesudah pemakaman yang dilakukan pada hari kesembilan. Pula, bangsa Romawi merayakan parentalia novendialia, suatu novena tahunan (13-22 Februari) guna mengenangkan segenap anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Karena novena telah merupakan bagian dari budaya Romawi, ada kemungkinan umat Kristiani “membaptis” praktek kafir ini.

Apapun yang mungkin merupakan asal mula novena, di kalangan umat Kristiani perdana memang sungguh ada masa berkabung selama sembilan hari atas meninggalnya seseorang yang dikasihi. Maka, pada akhirnya, dipersembahkanlah suatu Misa novena bagi kedamaian kekal jiwa. Hingga sekarang, terdapat praktek novendialia atau Novena Paus, yang dilaksanakan apabila Bapa Suci berpulang, seperti yang kita saksikan saat wafatnya Paus Yohanes Paulus II yang terkasih.

Pada Abad Pertengahan, terutama di Spanyol dan Perancis, doa novena biasa dipanjatkan sembilan hari menjelang Natal, melambangkan sembilan bulan yang dilewatkan Tuhan kita dalam rahim Santa Perawan Maria. Doa novena khusus ini membantu umat beriman mempersiapkan diri merayakan dengan khidmad kelahiran Tuhan kita. Lama-kelamaan berbagai macam novena disusun guna membantu umat beriman mempersiapkan diri menyambut suatu pesta istimewa atau guna memohon pertolongan seorang kudus dalam suatu masalah tertentu. Beberapa novena populer yang secara luas biasa didaraskan di Gereja kita adalah Novena Medali Wasiat, Novena Hati Kudus Yesus, Novena Roh Kudus, Novena St Yosef, Novena St Yudas Tadeus, dan lain sebagainya.

Cukup sulit mengatakan mengapa kita tidak mendaraskan novena dalam ibadat bersama sesering sebelum Konsili Vatikan II. Saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang imam senior, yang pada intinya mengatakan bahwa cukup banyak orang yang ikut ambil bagian dalam doa novena, tetapi melewatkan Misa Kudus. Padahal, sebagai umat Katolik, fokus terutama dalam spiritualitas dan sembah sujud bersama adalah Ekaristi dan Misa Kudus.

Juga, sebagian orang saya pikir telah menyelewengkan novena dengan takhayul. Di setiap paroki di mana saya pernah ditugaskan, selalu saja saya menemukan salinan Novena St Yudas Tadeus yang pada dasarnya menyatakan bahwa jika orang pergi ke Gereja selama sembilan hari berturut-turut dan meninggalkan salinan Novena St Yudas Tadeus, maka doanya akan dikabulkan - semacam surat berantai rohani; bagaikan mesin Katolik otomatis saja: seperti orang memasukkan uang ke dalam mesin penjual, lalu menekan tombol untuk mendapatkan cola yang diinginkannya; dalam hal ini orang mendaraskan doa-doa, pergi ke gereja, meninggalkan salinan doa, dan beranggapan bahwa dengan demikian doanya pastilah dikabulkan. Yang menyedihkan sekarang ini adalah orang bukan, setidak-tidaknya menyalin dengan tangan, melainkan sekedar memfotokopinya, dan yang terlebih parah, biasanya sayalah yang harus membereskan lembaran-lembaran doa ini yang ditinggalkan dan tercecer di seluruh ruang Gereja.

Walau demikian, novena masih mendapat tempat yang sah dan benar dalam spiritualitas Katolik. Dalam buku Pedoman Indulgensi tertulis, “Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan tekun ikut ambil bagian dalam praktek saleh novena bersama yang diadakan sebelum perayaan Natal, atau Pentakosta, atau Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa.” Di sini, sekali lagi Gereja menekankan bahwa novena merupakan suatu praktek rohani yang saleh, yang memperteguh iman individu dan hendaknyalah individu sungguh tekun, dengan selalu mengingat kebajikan Tuhan yang senantiasa menjawab semua doa-doa kita menurut kehendak ilahi-Nya.

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA 2018


PESAN PAUS FRANSISKUS
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA


“Kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh.8:32).
Berita Palsu dan Jurnalisme untuk Perdamaian

Image result for hari komunikasi sedunia 2018
Saudara-saudariku terkasih,
Komunikasi adalah bagian dari rencana Allah bagi kita dan merupakan cara yang hakiki untuk mengalami persahabatan (fellowship). Diciptakan seturut gambar dan rupa sang Pencipta, kita mampu mengekspresikan dan membagi semua yang benar, baik, dan indah. Kita mampu menggambarkan pengalaman-pengalaman kita sendiri dan dunia di sekitar kita, dan dengan demikian untuk menciptakan ingatan historis dan pemahaman tentang berbagai peristiwa. Namun ketika kita menyerah pada kesombongan dan egoisme kita sendiri, kita juga bisa mengubah cara menggunakan kemampuan kita untuk berkomunikasi. Hal ini dapat dilihat sejak masa paling awal, dalam kisah biblis tentang Kain dan Habel dan menara Babel (bdk. Kej.4:4-16; 11:1-9). Kapasitas untuk memelintir kebenaran adalah kondisi simptomatik (symptomatic condition) kita entah sebagai pribadi entah komunitas. Pada sisi yang lain, ketika kita setia pada rencana Allah, komunikasi menjadi ungkapan efektif pencarian kita yang bertanggungjawab akan kebenaran dan pencarian kita akan kebaikan.
Dalam dunia komunikasi dan sistem digital yang cepat berubah dewasa ini, kita sedang menyaksikan penyebarluasan apa yang telah dikenal sebagai “berita palsu”. Ini mengundang refleksi, yang membuat saya memutuskan untuk kembali membahas tema kebenaran pada Hari Komunikasi Sedunia ini yang sudah diangkat dari waktu ke waktu oleh para pendahulu saya, sejak Paus Paulus VI, yang Pesannya pada tahun 1972 mengambil tema: Komunikasi Sosial dalam Pelayanan Kebanaran”. Dengan cara ini, saya ingin berkontribusi bagi komitmen bersama kita untuk membendung penyebarluasan berita palsu dan untuk menemukan kembali martabat jurnalisme dan tanggungjawab personal para jurnalis untuk mengomunikasikan kebenaran.
1.        Apa yang “palsu” tentang berita palsu?
Istilah “berita palsu” telah menjadi objek diskusi dan debat yang besar. Pada umumnya, istilah itu mengacu pada penyebarluasan disinformasi (informasi yang salah) dalam media on line dan tradisional. Ia berkaitan dengan informasi yang salah, berdasarkan pada data yang tidak ada atau sudah dipelintir untuk mempengaruhi dan memanipulasi pembaca. Penyebarluasan berita palsu bisa demi mencapai tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan melayani kepentingan ekonomis.
Keefektifan berita palsu pertama-tama berkaitan dengan kemampuannya meniru berita yang nyata, kelihatannya masuk akal. Kedua, berita yang salah tetapi dapat dipercaya ini “suka menyalahkan (captious)” karena merebut perhatian orang melalui daya tarik stereotip-stereotip dan prasangka-prasangka sosial umum, dan mengeksploitasi emosi-emosi sesaat seperti kecemasan, rasa jijik, amarah, dan frustrasi. Kemampuan menyebarluaskan berita palsu seperti itu sering mengandalkan pemanfaatan manipulatif jaringan sosial dan cara berfungsinya. Kisah-kisah yang tidak benar dapat menyebar sangat cepat bahkan penangkal yang otoritatif gagal untuk mengatasi kerusakannya.
Kesulitan menelanjangi (unmask) dan menghilangkan berita palsu berkaitan juga dengan fakta bahwa banyak orang berinteraksi dalam lingkungan digital yang homogen tidak mampu membedakan perspektif dan opini. Disinformasi dengan demikian bertumbuh subur dalam absennya konfrontasi yang sehat dengan sumber informasi lain yang mampu secara efektif menantang prasangka-prasangka dan menciptakan dialog yang konstruktif; sebagai gantinya, ia berisiko mengubah orang menjadi kaki tangan yang gagap dalam menyebarluaskan gagasan-gagasan yang bias dan tidak berdasar. Tragedi disinformasi adalah bahwa ia mendiskreditkan orang lain, menempatkan mereka sebagai musuh, sampai mengutuk mereka dan mengobarkan konflik. Berita palsu adalah suatu tanda perilaku intoleran dan hipersensitif, dan hanya membawa kepada tersebarnya kesombongan dan kebencian. Itulah hasil akhir dari kebohongan.
2.        Bagaimana kita dapat mengenali berita palsu?
Tiada seorang pun dari kita yang bisa merasa dibebaskan dari kewajiban memerangi kesalahan-kesalahan ini. Ini bukan tugas mudah, karena disinformasi sering berdasarkan pada retorika yang dengan sengaja mengelak dan agak menyesatkan dan kadang dengan penggunakan mekanisme psikologis yang canggih. Upaya-upaya yang patut dipuji sedang dibuat untuk menciptakan program-program pendidikan yang bertujuan membantu orang menafsirkan dan menilai informasi yang disediakan oleh media, dan mengajari mereka untuk mengambil bagian aktif dalam membongkar kedok kebohongan, daripada secara tidak sadar berkontribusi dalam penyebaran disinformasi. Patut dipuji juga inisiatif-inisiatif kelembagaan dan hokum yang bertujuan mengembangkan regulasi untuk membatasi fenomena ini, untuk mengatakan tiada karya yang sedang dibuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi dan media dalam menemukan kriteria baru untuk memverifikasi identitas-identitas personal yang tersembunyi di balik jutaan profil digital.
Namun, mencegah dan mengidentifikasi cara disinformasi bekerja juga menuntut suatu proses discerment yang mendalam dan hati-hati. Kita perlu menelanjangi apa yang bisa disebut “taktik ular” (snake-tactics), yang digunakan oleh mereka yang menyamarkan diri mereka untuk menyerang kapan dan di mana saja. Inilah strategi “ular licik” (crafty-serpent) dalam kitab Kejadian, yang pada awal kemanusiaan, menciptakan berita palsu (Cf. Kej. 3:1-15), yang menjadi awal sejarah tragis dosa  manusia, mulai dengan pembunuhan saudara yang pertama (cf. Kej. 4), dan terus berlanjut dalam kejahatan tak terhitung lainnya melawan Allah, sesama, masyarakat, dan ciptaan. Strategi “Bapak Kebohongan” (Yoh. 8:44) yang terampil ini, justeru peniruan, bentuk bujukan yang licik dan berbahaya yang perlahan-lahan masuk ke dalam hati dengan argumentasi-argumentasi yang palsu dan memikat.
Dalam cerita tentang dosa pertama, si penggoda mendekati perempuan dengan berpura-pura menjadi sahabatnya, yang sangat perhatian dengan kesejahteraannya, dan mulai dengan mengatakan sesuatu yang hanya sebagiannya benar: “Apakah Allah  sungguh mengatakan kepadamu untuk tidak memakan dari pohon apa pun di taman?” (Kej. 3:1). Dalam kenyataannya, Allah tidak pernah memberitahukan kepada Adam untuk tidak makan dari pohon apa pun, tetapi hanya dari satu pohon: “Dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat janganlah kamu makan” (Kej.2:17). Perempuan itu mengoreksi si ular, tetapi membiarkan dirinya masuk dalam provokasinya: “Dari pohon yang terletak di tengah taman Allah berkata, “Engkau tidak boleh memakannya atau menyentuhnya, nanti kamu mati” (Kej. 3:2). Jawabannya ditulis dalam kata-kata yang legalistik dan negatif; setelah mendengarkan sang penipu dan membiarkan dirinya masuk dalam fakta versi dia, si perempuan tersesat. Demikianlah dia mengindahkan kata-kata peneguhannya “Kamu tidak akan mati” (Kej 3:4).
Dekonstruksi sang penggoda kemudian berubah menjadi kebenaran: “Allah tahu bahwa pada hari kamu memakannya matamu akan dibuka dan kamu akan menjadi seperti allah, mengetahui yang baik dan yang jahat” (Kej.3:5). Perintah kebapakan Allah demi kebaikan mereka, dinodai oleh bujuk rayu musuh: “Perempuan itu melihat bahwa pohon itu baik untuk dimakan, memikat mata, dan menarik hati” (Kej.3:6). Episode biblis ini menerangi unsur hakiki bagi refleksi kita: tiada hal seperti disinformasi yang tidak berbahaya; sebaliknya, mempercayai kebohongan bisa mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan. Bahkan distorsi kebenaran yang kelihatannya kecil pun bisa memiliki akibat-akibat yang berbahaya.
Taruhannya adalah keserakahan kita. Berita palsu sering menjadi viral, menyebar sangat cepat sehingga sulit untuk dihentikan, bukan karena rasa berbagi (sense of sharing) yang menginspirasi media sosial, melainkan karena menarik bagi ketamakan tak terpuaskan yang dengan mudah ditimbulkan dalam diri manusia. Tujuan-tujuan ekonomis dan manipulatif yang mendukung disinformasi berakar pada kehausan akan kekuasaan, suatu hasrat untuk memiliki dan menikmati, yang pada akhirnya menjadikan kita korban dari sesuatu yang jauh lebih tragis; kuasa tipu daya si jahat yang berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan lainnya untuk merampas kita dari kebebasan batiniah. Itulah mengapa pendidikan untuk kebenaran berarti  mengajari orang untuk melihat, mengevaluasi dan memahami hasrat terdalam dan kecenderungan-kecenderungan kita, supaya kita tidak menjadi buta terhadap apa yang baik dan menyerah pada setiap perncobaan.
3.        “Kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32)
Kontaminasi yang terus menerus oleh bahasa yang menipu bisa berakhir dengan mengelamkan hidup batiniah kita. Pengamatan Dostoevsky mencerahkan: “Orang yang membohongi diri mereka sendiri dan mendengarkan kebohongan mereka sendiri pada akhirnya membuat mereka tidak mampu membedakan kebenaran dalam diri mereka sendiri, atau di sekitar mereka, dan dengan demikian kehilangan semua rasa hormat bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam keadaan tidak memiliki rasa hormat mereka berhenti mencintai, dan untuk mengisi dan mengalihkan diri mereka sendiri tanpa cinta, mereka memberi jalan bagi hasrat dan kesenangan yang kasar, dan tenggelam dalam bestialitas (kebinatangan) keburukan mereka, semua berawal dari membohongi orang lain dan diri mereka sendiri secara terus-menerus”. (The Brothers Karamazov, II, 2).
Jadi bagaimana kita membela diri kita sendiri? Penangkal yang paling radikal terhadap virus kebohongan adalah pemurnian (purifikasi) oleh kebenaran. Dalam Kekristenan, kebenaran bukan hanya realitas konseptual berkenaan dengan bagaimana kita menilai sesuatu, mendefinisikannya sebagai benar atau salah. Kebenaran bukan hanya menyatakan hal-hal yang tersembunyi, “mengungkapkan kenyataan”, sebagaimana istilah Yunani Kuno, aletheia (dari a-lethes, “tidak tersembunyi”) yang mungkin membuat kita percaya. Kebenaran melibatkan seluruh hidup kita. Dalam kitab suci, kebenaran membawa dalam dirinya pengertian; dukungan, soliditas, dan percaya, sebagaimana dinyatakan secara tidak langsung oleh akar kata “aman”, sumber dari ungkapan liturgis kita Amin. Kebenaran adalah sesuatu yang padanya kamu bisa bersandar, sehingga tidak jatuh. Dalam pengeritan relasional ini, satu-satunya yang sungguh-sungguh dapat diandalkan dan dipercaya—Dia yang dapat kita diperhitungkan—adalah Allah yang hidup. Oleh karena itu, Yesus dapat berkata: “Akulah kebenaran” (Yoh. 14:6). Kita menemukan dan menemukan kembali kebenaran ketika kita mengalaminya dalam diri kita dalam kesetiaan dan kepercayaan Dia yang mengasihi kita. Hanya inilah yang mampu membebaskan kita: “kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).
Kemerdekaan dari kebohongan dan upaya menjalin relasi: dua unsur ini tidak dapat hilang kalau kata-kata dan gestur kita benar, otentik, dan dapat dipercaya. Untuk mencermati kebenaran, kita perlu mencermati apapun yang mendorong persekutuan (communion) dan mempromosikan kebaikan dari apapun yang cenderung mengisolasi, membagi dan menentang. Kebenaran, oleh karena itu, tidak sungguh-sungguh dipahami ketika dipaksakan sehingga menjadi impersonal, kecuali kalau ia mengalir dari relasi yang bebas antara pribadi-pribadi, dari saling mendengarkan satu sama lain. Kita juga tidak bisa berhenti mencari kebenaran karena kebohongan bisa selalu menyusup, bahkan ketika kita sedang menyatakan hal-hal yang benar. Suatu argumen yang tanpa cela, bisa benar-benar berdasarkan pada fakta yang tidak dapat disangkal, tetapi jika digunakan untuk menyakiti orang lain, dan untuk mencemarkan pribadi tersebut di mata orang-orang lain, betapapun benarnnya, itu tidaklah tulus (truthful). Kita dapat mengenali kebenaran pernyataan-pernyatan berdasarkan buah-buah yang mereka hasilkan: apakah mereka menimbulkan perselisihan, menciptakan perpecahan, mendorong pemisahan, atau pada sisi lain, mereka membangkitkan refleksi yang kaya dan matang yang menuntun kepada dialog konstruktif dan hasil-hasil yang berguna.

4.        Perdamaian adalah berita yang benar
Penangkal terbaik terhadap kebohongan bukanlah strategi, tetapi orang: orang yang tidak tamak tetapi siap mendengarkan, orang yang berusaha terlibat dalam dialog yang tulus sehingga kebenaran bertumbuh; orang yang tertarik oleh kebaikan dan bertanggung jawab terhadap cara mereka berbahasa. Jika tanggungjawab adalah jawaban terhadap penyebaran berita palsu, maka tanggung jawab berat berada pada pundak mereka yang pekerjaannya adalah menyiapkan informasi, yakni para jurnalis, pelindung berita. Dalam dunia sekarang ini, profesi merekalah, dalam segala pengertian, bukan sekadar sebuah pekerjaan, itu adalah sebuah misi. Di tengah hiruk pikuk makan dan mencari makan, mereka harus mengingat bahwa jantung informasi bukanlah kecepatannya diberitakan, atau pengaruhnya terhadap audiens, tetapi pribadi-pribadi. Menginformasikan orang lain berarti membentuk mereka; itu berarti bersentuhan dengan kehidupan orang lain. Itulah alasan mengapa memastikan akurasi sumber dan melindungi komunikasi adalah sarana yang nyata untuk mempromosikan kebaikan, melahirkan kepercayaan, membuka jalan bagi persekutuan dan perdamaian.
Maka dari itu, saya mengundang setiap orang untuk mempromosikan jurnalisme perdamaian. Dengan itu, saya tidak memaksudkan bentuk jurnalisme sakarin (manis) yang menolak mengakui adanya masalah-masalah serius atau noda-noda sentimentalisme. Sebaliknya saya memaksudkan suatu jurnalisme yang jujur dan bertentangan dengan kebohongan, slogan-slogan retoris, dan headline (judul berita) sensasional. Suatu jurnalisme yang diciptakan oleh manusia untuk manusia, yang melayani semua, terutama mereka—dan mereka adalah mayoritas di dunia kita—yang tidak bersuara. Suatu jurnalisme yang tidak terlalu berkonsentrasi pada penyampaian/warta berita (breaking news) daripada eksplorasi sebab-sebab mendasar konflik-konflik, untuk membangkitkan pemahaman yang lebih mendalam dan menyumbangkan resolusi dengan menerapkan proses-proses yang bijak. Suatu jurnalisme yang berjuang menunjukkan alternatif terhadap pertengkaran (shouting matches) dan kekerasan verbal.
Untuk tujuan ini, dengan mengambil inspirasi dari sebuah doa Fransiskan, kita dapat berpaling kepada Kebenaran secara pribadi.
Tuhan, jadikanlah kami sarana damai-Mu
Bantulah kami mengenali kejahatan tersembunyi dalam komunikasi yang tidak
membangun persekutuan.
Bantulah kami untuk menghapus racun dari penilaian-penilaian kami.
Bantulah kami untuk berbicara tentang orang lain sebagai saudara dan saudari kami.
Engkau benar dan dapat diandalkan; semoga kata-kata kami menjadi benih-benih
kebaikan bagi dunia:
di mana ada keributan bantulah kami untuk belajar mendengarkan;
di mana ada kebingunan jadikanlah kami menginspirasi harmoni;
di mana ada ambiguitas, jadikanlah kami pembawa kejelasan;
di mana ada pengucilan, jadikanlah kami pembawa solidaritas;
di mana ada sensasionalisme, jadikan kami pembawa ketenangan hati;
di mana ada superfisialitas, biarkanlah kami mengajukan pertanyaan nyata;
di mana ada prasangka, biarkan kami membangun kepercayaan;
di mana terjadi permusuhan, jadikan kami pembawa rasa hormat;
di mana ada kepalsuan, jadikan kami pembawa kebenaran,
Amin.

Fransiskus

Diterjemahkan oleh: Jerry Nardin, CMF
Jogja, 26-27 Januari 2018

Berdoa dengan benar secara Katolik



Mengapa kita berdoa?
“Prayer is the raising of one’s mind and heart to God or the requesting of good things from God.” But when we pray, do we speak from the height of our pride and will, or “out of the depths” of a humble and contrite heart? He who humbles himself will be exalted; humility is the foundation of prayer. Only when we humbly acknowledge that “we do not know how to pray as we ought,” are we ready to receive freely the gift of prayer. “Man is a beggar before God.” (CCC, 2559)
KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.
Itulah sebuah pemahaman tentang arti doa dari ajaran Gereja Katolik. Berdoa adalah getaran hati suara nurani yang menyapa Allah. Suatu permohonan dan syukur kepada Allah. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman kita akan lemah tanpa daya, kering dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek tak terkecuali wajib berdoa. Namun berdoa macam mana yang benar secara Katolik? Itulah yang menjadi pokok persoalan kita. Kemarin pada tgl 7 Desember 2010 ketika terjadi pertemuan darat tim katolisitas.org dengan para pengunjung umat katolik di Jakarta, saya menyinggung perihal berdoa secara benar dan katolik. Sudah banyak kali saya mendengarkan orang Katolik berdoa tidak sesuai dengan iman Katolik. Doanya mengambang, intensi tidak berisi dan kesulitan dalam mengakhiri doanya. Lalu bagaimana berdoa secara benar dan Katolik? Menurut pengalaman rohani dari St Theresa dari Lisieux doa adalah:
“For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” (suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju tahta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akalbudi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita (bdk. St. Therese of Lisieux, Manuscrits autobiographiques, C 25r.).
Berdoalah menurut pola ”Doa Bapa Kami”.
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (Matius 6:9-13). Dalam doa Bapa Kami ada 3 pokok penting yang mendapat perhatian saat kita hendak doa: 1). Menyebut nama Allah dengan atributnya (kemahakuasaan Allah). Menyapa Allah sebagai Bapa yang sungguh dekat di hati manusia. Dia yang tidak jauh namun ada dan tinggal di anatara kita sebagai Bapa kita. Memohon datangnya kerajaan-Nya di dunia. 2). Intensi (permohonan) kita kepada Allah Bapa yakni rezeki setiap hari, kesehatan jiwa dan badan. 3) Menutup doa dengan memohon agar dikuatkan iman kita sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Terakhir setiap doa yang benar dan katolik ditutup dengan rumusan panjang lengkap bersifat trinitaris Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, atau rumusan pendek kristologis, yaitu “…. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.” Pola doa Bapa Kami juga memberikan contoh kepada kita untuk berdoa secara benar dan sungguh Katolik (di bawah artikel ini diberikan contoh yang benar).
Sifat-sifat yang menyertai doa yang benar:
a) Berdoalah dengan tekun.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7). Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Lukas 18:1-7). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,… (Kisah Para Rasul 1:14)
b) Berdoalah secara tersembunyi dengan rendah hati.
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6). Tempat tersembunyi yang dimaksudkan dalam sabda Tuhan ini adalah di dalam hati. Hati adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Kerendahan hati adalah dasar dari doa yang benar. Berdoalah dengan rendah hati dan dengan pertobatan. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).
c) Berdoalah dengan tidak bertele-tele.
Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Matius 6:7). Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas22:40).
d) Berdoalah dalam pribadi Tuhan Yesus.
Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:13-14). Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yohanes 15:7). Berdoalah dengan iman dan keyakinan bahwa doamu sedang dikabulkan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Markus.11:24).
e) Berdoalah dengan kuasa dari Roh Kudus.
”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8)
f) Berdoa itu mempersatukan umat beriman dengan Allah Bapa.
Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 3:18-21: “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia  yang dapt melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya”. Teks dari “Catechism of the Catholic Church”  (Katekismus Gereja Katolik) di bawah ini menambah pemahaman kita tentang berdoa.
“In the New Covenant, prayer is the living relationship of the children of God with their Father who is good beyond measure, with his Son Jesus Christ and with the Holy Spirit. The grace of the Kingdom is “the union of the entire holy and royal Trinity….with the whole human spirit.” Thus, the life of prayer is the habit of being in the presence of the thrice-holy God and in communion with him. This communion of life is always possible because, through Baptism, we have already been united with Christ. Prayer is Christian insofar as it is communion with Christ and extends throughout the Church, which is his Body. Its dimensions are those of Christ’s love” (CCC, 2565).
KGK 2565      Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-2).

Contoh doa pribadi yang benar dan Katolik.
Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi kami. Engkau telah melindungi kami selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Kami mohon berikanlah kami hati yang sanggup bersyukur dan hati yang selalu memberi kepada orang lain dari anugerah yang telah kami terima daripada-Mu. Semoga kami sanggup melakukan itu dengan menolong sesama yang berkekurangan. Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. (Penutup doa bersifat trinitaris: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan sepanjang hari ini. Kami mohon pengampunan darimu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. (Penutup doa bersifat kristologis di mana Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya dan bersifat universal kepada Allah Bapa).


Sumber : http://www.katolisitas.org/berdoa-dengan-benar-secara-katolik/

SEORANG IMAM KATOLIK SELAMA MASA PENDIDIKAN

Image result for SEORANG IMAM KATOLIK MAKASSAR
Seandainya menjadi imam Katolik (biasa dikenal dengan panggilan: Pastor, Pater, Padre, Romo) cukup hanya dengan pergi ke Roma, saya tidak perlu menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh tahun pendidikan dan persiapan untuk menjadi Pastor. Saya cukup menyiapkan sejumlah uang untuk mengurus paspor, membeli tiket pergi-pulang dan biaya akomodasi. Biar tidak lulus SMA, tapi pulang-pulang dari Roma, sudah dapat gelar Pastor. Asyik! Lebih asyik lagi kalau dibiayai pemerintah melalui dana APBN untuk ‘jadi Pastor’ di Roma. Gratis coy! Kalau tidak kebagian dana dari pemerintah, ya pinjam uang dulu, baru ke Roma, yang penting jadi Pastor. Halal! Hore! Tapi ternyata tidak semudah itu menjadi seorang Pastor. Pastor bukanlah gelar yang disematkan karena keturunan atau karrena sudah pergi berziarah ke Roma. Menjadi pastor adalah sebuah Panggilan Ilahi.
Tahukah anda bahwa menjadi imam Katolik (Pastor, Pater, Padre, Romo) membutuhkan waktu dan proses yang panjang? Berikut ini saya sharingkan pengalaman saya selama pembinaan dan pendidikan menjadi seorang Pastor dan bekal-bekal yang saya peroleh, bahwa pastor bukan sekedar jabatan atau profesi, melainkan sebuah Panggilan hidup. O iya, perkenalkan, saya seorang Imam dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), propinsi Kalimantan.
Untuk menjadi seorang Pastor diperlukan waktu yang lumayan lama; sembilan tahun kalau cepat, sepuluh tahun kalau cukup, atau belasan tahun lebih bagus (terhitung dari lulus SMA atau sederajat atau sudah kuliah). Bahkan setelah menjadi Pastor, masih harus belajar lagi. Kok lama banget sih? Bisa gundul kepala ini! Iya, karena menjadi Pastor bukan soal waktu atau jabatan, melainkan soal panggilan dan pelayanan. Dan panggilan itu bukan dari gereja atau umat atau karena punya banyak uang, tetapi proses akan menunjukkan bahwa panggilan itu berasal dari Tuhan.
Kalau panggilan itu dari Tuhan, sekali lagi kalau dari Tuhan, Tuhan mau Pastor mewartakan warta gembira bukan warta duka, warta cinta kasih bukan kebencian, warta persatuan bukan perpecahan, warta kedamaian bukan perang.
Image result for SEORANG IMAM KATOLIK MAKASSARLama memang menjadi Pastor. Tapi selama ini, saya dan para Pastor tidak pernah mengeluh akan lamanya persiapan. Justru malah kalau bisa mau lebih lama agar lebih matang. ‘Ojo kesusu,’ kata pembimbingku dulu.
Lamanya waktu persiapan menjadi Pastor dimaksudkan agar seorang Pastor memiliki pengetahuan yang luas bukan kerdil atau picik, pemahaman yang menyeluruh bukan setengah-setengah atau idiot, kepribadian yang matang bukan suam-suam kuku atau asal nyerocos, memiliki tutur kata kedamaian seorang pemuka agama bukan provokator atau penghasut umat untuk demo atau bahkan perang.
Karena menjadi imam berarti menjadi pelayan. Imam bukan menjadi lahan mencari popularitas atau kekayaan, melainkan panggilan untuk melayani sesama tanpa memasang TARIF pelayanan atau kotbah. Imam menjadi pembawa damai dan harapan, bukan mengajak orang untuk rusuh dan demo sana-sini.
Selama waktu persiapan kami tidak perlu ke Roma atau Yerusalem atau malah ke Israel segala. Begini kisahnya. Sebelum memasuki kuliah diperlukan waktu minimal dua tahun sebagai pengolahan rohani dan kematangan kepribadian; mengolah luka batin dan memurnikan motivasi panggilan menjadi imam. Masa pengolahan ini disebut dengan masa Postulat/ Kelas Persiapan Atas (KPA) selama satu-dua dan dilanjutkan ke masa Novisiat (Tahun Orientasi Rohani) selama satu-dua tahun juga. Baru setelah itu melanjutkan ke jenjang kuliah Filsafat Teologi. Kuliah Filsafat-Teologi ditempuh selama 4 tahun, dilanjutkan dengan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) selama 1-2 tahun, lalu kembali melanjutkan study program Imamat dan atau S2. Setelah melanjutkan program imamat, barulah kami ditahbiskan menjadi diakon dan menjalani praktek Diakon selama enam bulam-setahun. Akhirnya baru ditahbiskan menjadi seorang imam.
Selama berada di bangku kuliah, tidak hanya ilmu Filsafat-Teologi atau Kitab Suci saja yang dipelajari. Kami belajar tentang ilmu yang lain: Pancasila dan kebhinekaan, Psikologi, Moral Hidup, berbagai Bahasa Internasional, Seni Musik, ilmu-ilmu Social-Antropologi, Politik, dan ilmu-ilmu keagamaan: Hinduisme, Budhaisme, Protestanisme dan Islamologi. Holistic! Bukan berarti kami ahli dalam segala bidang. Tidak! Tetapi setidaknya kami paham. Dan kalau paham, kami bisa melihat realitas dan kebenaran dari berbagai sudut pandang yang lebih menyeluruh.
Tidak hanya belajar di ruang kuliah, kami juga mengadakan praktek dan penelitian di lapangan, berdialog dengan orang beragama lain, hidup bersama orang miskin, live in di Pondok Pesantren dan pemukiman orang miskin, praktek di rumah sakit dan perusahan-perusahan sebagai buruh, mengunjungi keluarga-keluarga baik yang seagama maupun yang tidak seagama. Di kampus, kami terlibat dalam organisasi kampus, olah raga dan kesenian antar fakultas dan Perguruan Tinggi, diskusi dan debat dll.
Kami hidup dalam seminari (asrama). Dan sistim pembinaan dan pendidikan di seminari tidak hanya mengarahkan kami menjadi seorang Pastor, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Seminari kami tidak pernah tertutup. Siapapun bisa berkunjung atau bersilahturami. Kegiatan-kegiatan di seminari juga melibatkan pihak luar, bahkan orang yang beragama lain yang ingin berkontribusi, kami selalu terbuka. Misalnya, memberi seminar, mengajari hal-hal praktis dll. Ya, begitulah kami! Setelah sekian lama persiapan, baru kami ditahbiskan menjadi imam.
Lamanya waktu menjadi seorang imam bukan masalah. Karena semakin lama, kami semakin mengenal dunia. Wawasan kami semakin terbuka akan realitas di sekitar dan memahami kebenaran secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong.
Itulah sebabnya menjadi imam Katolik, kami tidak harus pergi ke Roma, tetapi pergi ke saudara-saudara dan lingkungan sekitar untuk mengenal dan memahami kehidupan sekitar secara utuh. Kami dibekali ilmu pengetahuan dan keahlian yang banyak agar memahami realitas secara utuh dan menjadi pembawa damai, tidak menjadi imam yang radikal, yang gagal paham, yang hanya berbicara karena mau mencari keuntungan material.
Kami dibekali berbagai ilmu dalam kurun waktu yang lama agar di hadapan umat, kami tidak mengajari umat untuk membenci orang lain, karena orang lain adalah sesama manusia. Kita sepatutnya saling mencintai! Ilmu Kitab Suci dan Filsafat-Teologi yang kami pelajari dilengkapi dengan ilmu-ilmu yang lain agar pemikiran, pemahaman, analisa dan pengajaran kami seimbang, menyeluruh, membumi dan membawa dampak bagi bonum commune (kesejahteraan bersama).
Lama memang menjadi imam, tapi di situlah bedanya….  ***
Di tulis oleh: Pastor Yoseph Pati Mudaj, MSF