Cari Blog Ini

Minggu, 24 Juni 2012

Inkulturasi Budaya Popular untuk Ekaristi Kaum Muda


Ekaristi Kaum Muda (EKM) seringkali dicirikan dengan beberapa bentuk yang mengundang tanda tanya, seperti: musik pop ‘pasaran’ tanpa ayat suci, modern dance dengan hentakan band pembawa persembahan, atau potongan video klip iklan sebagai pembuka Liturgi Sabda. Ada banyak pihak yang prihatin dengan bentuk EKM macam ini karena simbol budaya popular yang terlihat hura-hura ini dianggap menodai kesucian Ekaristi dan tak membawa umat muda dalam persatuan dengan Allah. Benarkah demikian?
 Konsili Vatikan II menyerukan agar Gereja selalu berusaha menanggapi tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dengan cahaya Injil agar dapat menjawab pertanyaan orang zaman sekarang tentang makna hidupnya (Gaudium et Spes [GS], 4). Seruan ini menjadi kesempatan agar kita maju, berdialog, menanggapi dan menafsirkan juga budaya popular – salah satu tanda zaman yang paling diperhatikan Bapa Suci saat bertemu dengan orang muda – dalam cahaya Injil.
Bentuk budaya ini sendiri sangat dekat dan telah menjadi bagian keseharian kita. Ia ditemukan dalam ‘inskripsi’ sosial yang dikonsumsi massal, seperti: novel, kartun, film, iklan, tari modern, fashion, dan aneka lagu yang saat ini digandrungi masyarakat. Budaya popular memang lahir dari produksi massal berlatar kemajuan teknologi dan kepentingan industri demi konsumsi massif. Karena sifatnya yang ‘populis’ ini, budaya popular sering dikategorikan budaya ‘kelas dua’ atau budaya ‘murahan dari pinggir jalan’. Anggapan ini juga sering datang dari kurangnya pengetahuan tentang budaya popular sebagai locus theologicus baru.
Teologi budaya Paul Tillich atau Kelton Cobb, misalnya, dapat menjadi pegangan untuk melihat substansi religius yang tersembunyi di balik lirik lagu pop, film, iklan atau bahkan fashion dan kata-kata gaul zaman ini. Lagu ‘Mr. Simple’ dari Super Junior, boyband Korea Selatan itu, misalnya mengandung pesan perlawanan terhadap struktur hidup orang muda yang sering menjadi rumit dan penuh tuntutan. Ini dapat menjadi pintu masuk mengolah tema liturgi tentang Allah yang mengasihi kita apa adanya. Penampilan nyeleneh Lady Gaga juga membawa isu ketubuhan; sebuah isu yang dapat direfleksikan dalam tema keselamatan jiwa dan badan.
 EKM yang mengadaptasi simbol budaya popular janganlah dihindari atau buru-buru dicap negatif karena dianggap tak sesuai dengan panduan liturgi yang digariskan Gereja. Alih-alih langsung melarang, lebih baik kita mengusahakan inkulturasi liturgi dengan budaya popular (atau ‘budaya kota’ dan ‘budaya industri’ seperti disebut dalam De Liturgia Romana et Inculturatione [LRI] no. 30) agar pesan Injil teresapkan mendalam sesuai dunia orang muda dan karenanya umat mampu berpartisipasi penuh, sadar dan aktif (Sacrosanctum Concillium [SC], 14).
Usaha inkulturasi dengan simbol budaya popular ini mestinya didukung dengan semangat kritis, kreatif dan setia. Serupa dengan proses inkulturasi dengan budaya-tradisional, unsur yang tak sesuai dengan Injil juga harus disaring atau ditolak. Apalagi budaya popular sarat dengan kepentingan ekonomis dan ideologis kelompok tertentu. Keaslian dan hormat pada ibadat Ekaristi perlu dijaga sehingga apa yang didoakan (lex orandi) sesuai dengan apa yang diimani (lex credendi) (LRI, 27).
Simbol budaya popular yang ditawarkan untuk mengungkapkan Yang Kudus juga harus mudah ditangkap sesuai daya tangkap umat muda serta jangan sampai meniadakan bagian-bagian Ritus Romawi (bdk. LRI, 35-37). Proses adaptasi ini tentu membutuhkan tenaga ekstra gembala dan umat muda sendiri untuk belajar lagi lebih dalam tentang budaya popular, studi media, prinsip hermenutika, psikologi perkembangan, kajian teologi kebudayaan dan liturgi serta dialog tanpa henti dengan kelompok orang muda sendiri. Keberanian para Gembala untuk mendampingi dan berjumpa secara kritis, kreatif-setia budaya popular dalam EKM akan melampaui diskusi klasik profanizing the sacred atau sacralizing the profane.
EKM dengan atribut popularnya itu tidak perlu serta-merta dipandang menginjak-injak kekudusan karena yang Ilahi juga dihadirkan dalam tanda-tanda manusiawi (SC, 59). ‘Yang Kudus’ dan ‘yang profan’ tetaplah berbeda, namun tidak menjadi alasan untuk membuat ‘yang profan’ kehilangan kesempatan untuk membuat ‘Yang Kudus’ makin kelihatan, makin terasakan, makin dihidupi secara nyata oleh orang muda kita!
dimuat di HIDUP edisi 10 Juni 2012

Jumat, 22 Juni 2012

HARAPAN


Hari Minggu Biasa XII

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis


Pastor Sani Saliwardaya, MSC


Hari ini bersama seluruh Gereja, kita merayakan Hari Kelahiran Yohanes Pembaptis. Kelahiran Yohanes Pembaptis sangat penting dalam seluruh rangkaian Rencana Keselamatan Allah bagi manusia, sehingga St. Agustinus berpendapat bahwa perayaan Kelahiran Yohanes Pembaptis semestinya diperingati seperi perayaan Kelahiran Yesus. “Kita merayakan kelahiran Yohanes seperti kita merayakan Kelahiran Yesus. Tidak ada leluhur yang diperingati begitu mulia”.

Kisah Kelahiran Yohanes diceritakan dalam Kitab Suci secara ajaib, dalam arti sarat dengan campur Tangan Ilahi dan pesan-pesan Keselamatan. Orang tuanya, Zakharia adalah seorang imam dari keturunan Abia, dan Elizabet dari keturunan Harun (bdk. Luk. 1:5). Keduanya adalah orang-orang saleh dan benar di hadapan Tuhan. “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Luk. 1:6). Sebagai orang benar dan saleh, mestinya mereka berada dalam rahmat Allah. Dan di sinilah letak tantangan yang mereka hadapi. “Mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya” (Luk. 1:7).

Pasangan suami-istri yang tidak dikaruniai anak, bagi bangsa Israel, merupakan aib. Kita ingat kisah Abraham. Abraham, orang pilihan Allah, juga tidak mempunyai anak sampai pada masa tuanya. Sara, istrinya, juga sudah “mati haid” (Kej. 18:11). Secara natural-biologis, mereka sudah tidak memiliki kemungkinan untuk mempunyai anak. Karena campur tangan Allah (bdk. Kej. 18:10-14), akhirnya mereka mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishak (bdk, Kej. 21:1-3). Dan karena kelahiran anaknya ini, aib Sara dihapuskan sehingga dia berani berkata, “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku. Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara mempunyai anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya” (Kej. 21:6-7).

Kegirangan Sara karena kelahiran Ishak, anaknya ini, bisa disejajarkan dengan kegembiraan Elisabet ketika menerima kunjungan Maria, sanaknya itu. “Siapakah aku inI sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan” (Luk. 1:43-44)

Baik pasutri Abraham-Sara maupun pasutri Zakharia-Elisabet bisa mendapatkan keturunan, di satu pihak, memang karena campur Tangan Allah, tetapi di lain pihak, karena mereka juga senantiasa berharap kepada-Nya. Meskipun menanggung aib karena tidak dikarunia keturunan, mereka tetap menjalani hidupnya dan melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab. Mereka menjalani kehidupannya sebagaimana yang semestinya dijalani. Mereka tidak mengenal putus asa. Mereka memiliki pengharapan yang sangat kuat, yang mengalahkan beban aib yang mereka tanggung dan bahkan rasa keputusasaan. Campur Tangan Penyelenggaraan Ilahi bersamaan dengan Pengharapan yang kuat itulah yang membuahkan hasil kegirangan dan kegembiraan.

Pengharapan mereka yang begitu kuat kepada campur Tangan Allah bukan hanya membuahkan hasil bagi mereka sendiri saja, tetapi keturunan merekapun menjadi orang-orang yang mampu memberikan, menumbuhkan harapan kepada orang lain. Secara khusus, marilah kita memfokuskan perhatian kita pada pesta hari ini, yakni Kelahiran Yohanes Pembaptis.

Yohanes, yang menjadi perintis jalan Pewartaan Yesus, memberitakan kepada bangsanya, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,……..dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan” (Luk.3:3b-4). Situasi konkret bangsa Israel pada saat itu yakni sedang berada dalam kekuasaan bangsa Romawi. Situasi penjajahan ini membuat mereka kehilangan harapan. Sebagai bangsa Terpilih, bangsa yang semestinya dilindungi oleh Tuhan, ternyata mereka diserahkan kepada bangsa lain, bahkan bangsa yang mereka anggap kafir, bangsa Romawi. Harga diri mereka sebagai bangsa Terpilih runtuh. Mereka tidak mempunyai kekuatan fisik untuk memberontak atau melawan bangsa Romawi yang jauh lebih kuat dan lengkap persenjataannya. Mereka menerima situasinya tanpa harapan akan kemerdekaan. Dalam situasi kehilangan harapan itu, muncullah kelompok-kelompok yang mewartakan harapan baru. Kelompok ini mewartakan dan mengingatkan kembali kepada bangsa Israel bahwa Allah YHWH tidak akan pernah melupakan mereka. Allah YHWH akan mengingat perjanjian-Nya; YHWH tetap akan melindungi dan membebaskan mereka. MESSIAS akan datang membawa kebebasan. Kebebasan fisik harus diawali lebih dahulu dengan kebebasan rohani; artinya mereka, bangsa Israel ini harus kembali menaruh harapannya pada Tuhan YHWH. Mereka harus bertobat. Mereka harus membersihkan hati dan budi untuk kembali kepada Tuhan. Mereka harus dibaptis sebagai tanda bahwa mereka bertobat (mohon ampun) dan mereka diampuni oleh Tuhan. Dengan pertobatan dan penyucian inilah Keselamatan yang dari Tuhan akan menjadi nyata, tampak, dan kelihatan. Itulah harapan yang diwartakan oleh Yohanes.

Zakharia & Elisabet, orang tua Yohanes, memiliki harapan yang kuat terhadap campur Tangan Allah. Hidup dalam harapan sedemikian itu menjadi sikap & cara hidup mereka. Keturunan mereka, Yohanes, mewarisi sikap & cara hidup orang tuanya. Yohanes menjadi pewarta harapan bagi orang lain.


Dalam hal ini benarlah ungkapan, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, atau ungkapan lainnya, “demikian orang tua demikian pula anak”. Dalam Camp Pria Sejati ada ungkapan “Video Papi”. Ungkapan-ungkapan itu hendak menekankan bahwa sikap & cara hidup orang tua pada umumnya akan menurun kepada anak (anak)nya.

Jadilah orang tua yang baik dan berpengharapan baik agar anak (anak) kita juga mejadi orang-orang yang baik dan berpengharapan baik pula.

MEMERINTAH DENGAN KETAATAN.






Pada abad kesebelas, Raja Henry III dari Bavaria mulai jenuh dengan kehidupan di istana dan tekanan-tekanan sebagai seorang raja. Ia akhirnya melamar kepada Pryor Richard di sebuah biara lokal dan meminta agar dirinya diterima sebagai anggota biara tersebut. Raja Henry ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi seorang biarawan.


“Ya, Raja,” kata Pryor Richard, “Apakah Anda memahami bahwa Anda harus berjanji untuk taat di sini? Itu akan sulit bagi Anda karena Anda adalah seorang raja.”


“Saya paham,” jawab Raja Henry. “Sisa hidup saya, saya akan taat kepada Anda, sebagaimana Kristus memimpin Anda.”


“Kalau demikian saya akan memberitahukan kepada Anda apa yang harus Anda lakukan,” kata Pryor Richard. “Kembalilah ke tahta Anda dan layanilah dengan setia dimana Allah telah menempatkan Anda.”

Ketika akhirnya Raja Henry III menutup usia, suatu pernyataan ditulis: “Raja telah belajar untuk berkuasa melalui ketaatan.”

Seberapa sering kita seperti Raja Henry III ini ketika menghadapi kejenuhan dan tekanan hidup, baik di pelayanan ataupun di tempat kerja? Kita ingin lari meninggalkan tekanan itu, atau mencari suasana baru yang bisa menyegarkan kita. Kita hanya mencari apa yang menyenangkan hati kita, namun kita jarang bertanya apakah yang Tuhan mau. Pada hal, kemungkinan besar Tuhan ingin kita tetap menjalankan tugas kita sebaik mungkin dimana Ia telah menempatkan kita.


Dari kisah di atas, mari kita belajar untuk menjalankan tanggung jawab kita dengan penuh ketaatan. Ada waktunya ketika kejenuhan itu akhirnya berlalu, dan kita melihat bagaimana indahnya rencana Tuhan di genapi dengan apa yang kita kerjakan.

Mengapa kamu begitu takut dan tidak percaya?




Mengapa kami begitu takut dan tidak percaya?” Ini merupakan teguran yang keras kepada kita semua yang begitu takut dan tidak percaya kepada Yesus. Kisah ini bermula ketika Yesus dan para muird-Nya barada di tengah-tengah danau. Yesus mengajak mereka untuk bertolak ke danau yang lebih dalam. Namun tibat-tiba terjadi angin kencang dan menghempaskan perahu-perahu yang ada di situ termasuk perahu di mana Yesus dan para murid-Nya berada. Karena kondisi yang menakutkan, maka para murid berteriak kepada Gurunya dan membangunkan-Nya. Yesus yang kala itu istirahat menegur mereka, mengapa kamu begitu takut dan tidak percaya.


Teguran Yesus tentu mempunyai makna yang dalam dan luas. Teguran itu juga ditujukan kepada kita. Artinya kalau hidup kita bergantung kepada Yesus, maka Yesus akan menolongnya. Dalam arti lain, bahwa Yesus yang oleh banyak orang hanya dianggap sebagai orang biasa, tetapi mempunyai kuasa yang luar biasa. Bagaimana tidak kuasa. Angin ribut saja takluk kepada Sabda-Nya. Tentu saja orang biasa atau para norlam atau orang pintat pasti juga tidak mampu. Dalam sejarah kenabian, barangkali belum pernah dijumpai bahwa ada seorang nabi yang mampu meredakan angin ribu sebagaimana Yesus lakukan. Walau banyak sekali mukjizat yang telah diperbuat oleh Yesus, namun tidak sedikit pula yna gkukuh tidak percaya bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Mereka yakin bahwa Yesus itu hanyalah orang biasa. Jadi orang yang menyembah Yesus itu adalah suatu kegilaan. Bahkan mereka yang tidak percaya ini melontarkan tuduhan-tuduhan keji bahwa Injil yang dipakai sebagai pedoman hidup umat Kristiani pada umunya adalah Injil buatan manusia dan khususnya buatan Paulus. Tuduhan demi tuduhan terus dilancarkan dengan maksud untuk menggoyahkan iman Kristiani. Bagi umat Kristiani yang imannya cetek (dangkal), bisa jadi mudah terpengaruh oleh tuduhan-tuduhan itu. Bagi mereka yang dungguh-sungguh memperdalam keimanan akan Yesus melalui Kitab Suci dan sumber-sumber lainnya, maka tuduhan itu sebagai kafilah berlalu. Tuduhan itu tidal berdasar dan ;ngawru saja”.


‘Mengapa kamu begitu takut dan tidak percaya?”, demikian Yesus menegur para murid-Nya. Sekali lagi bahwa teguran itu juga dimaksudkan kepada kita. Kita yang hidup[ di dunia sebentar-sebenrtar takut. TAlkut akan kegelapanlah, takut malinglah, takut setanlah, dan lain laisn sbeagaimnya. Lantas kapan kita tidak pernah merasa takut lagi. Oleh karena itu teguran Yesus kepada kita ini merupakan suatu pelajaran yang baik sekali dalam hidup kita. Kita sekali diminat untuk terus begantung dan berprasah kepada Yesus. BUktinya apa bahwa Yesus itu punya kuasa. Ye itu tadi, angin ribu saja dapat dihentukan oleh Sabda-Nya yang mengatakan:” Diam! Tenanglah!”.

Dengan kata lain pula, jangan hidup kita ini terus dijejasli dengan suatu keributan-keributan termasuk hati yang ribut terus. Kita juga diminta untuk tenang. Tak usah banyak omong. Kita diminta diam dan tenang. Jika demikian, maka doa keheningan itu menjadi suatu telada bagfaimana kita harus hidup dalam keheningan. Lagi-lagi ajakan Yesus ini sangat kontroversial dengan ajakan dunia yang selalu penuh dengan hiruk pikuk. Hiruk pikuk politik, hiruk pikuk ekononomi, dan bentuk-bentuk hiruk lainnya yang membuat hati ini gelisah dan tidak tenang.


Jika merenungkan kisah Yesus hari betapa Yesus sangat baik kepada kita. Yesus telah memberikan keteladanan agar kita mencontoh cara hidup-Nya. hendaklah kita selalu berserha diri kepada Dia, karena Dialah yang empunya kuasa atas hidup ini. Dialah Alpha dan Omega. Dialah yang pertama dan terakhir. INi semua dapat kita temukan melalui Sabda-Nya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci.

Jadi pesan iman dari kisah hari ini adalah agar kita terus membangun iman dan kepercayaan kepada Yesus. Kita dimina memasrahkan diri kepada Dia, karena Yesuslah yang empunyai kuasa langit dan bumi, termasuk hidup kita. Demikian refleksi singkat hari ini, Tuhan berkati.-***

Jumat, 15 Juni 2012

Jadwal Kegiatan Pesta Paroki Katedral Makassar 2012


Mukjizat Kerajaan Allah

Hari Minggu Biasa XI
P. Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan: Markus 4:26-34 

Petani mengharapkan mukjijat panenan
Perumpamaan dalam bacaan injil hari ini berceritera tentang seorang petani, yang menabur, melaksanakan pekerjaannya, tidur, bangun, suatu irama hidup yang berlangsung berulang-ulang. Itulah hidup harian dengan tantangan dan urusannya. Setelah suatu waktu tertentu terjadilah sesuatu yang luar biasa. Bumi memberikan buah. Tidak ada penjelasan untuk hal itu, selain daripada urutan kejadian dari tindakan menabur ke tindakan menuai buah. Mula-mula orang hanya dapat melihat tunas, kemudian bulir-bulir buah dan akhirnya biji-biji gandum/padi yang siap dikonsumsi. Suatu mukjijat telah terjadi: dari biji benih, tanpa dapat dijelaskan, muncullah panenan. Setiap tahun terjadi proses yang sama: menabur – bertunas – bertumbuh – berbuah – memanen. Setiap tahun muncul mukjijat. Petani menyerahkan penjelasan akan mukjijat itu kepada alam: dengan sendirinya, secara alamiah. Setiap tahun alam membaharui dirinya. Meskipun hal itu tidak dapat dijelaskan, meskipun selalu muncul hal-hal yang luar biasa, tetapi petani menganggapnya sebagai sesuatu yang muncul dengan sendirinya.

Manusia kini dan optimisme mukjijat teknik
Pada zaman Yesus, hal menabur dan menuai merupakan pengalaman bagi semua orang. Hal itu dapat merupakan pengalaman harian yang setiap kali dapat dialami secara baru. Lain halnya pada masa kini. Tidak banyak orang dapat mengalaminya. Banyak orang kini mengalami sesuatu yang sama sekali berbeda. Meski demikian, pola dasarnya tetap sama. Banyak hal tetap tidak dapat dijelaskan. Kebanyakan orang zaman kini bergaul dengan dunia teknik. Bahkan keberadaan kita zaman kini sedikit banyak tergantung pada manfaat teknologi. Keajaiban teknik menentukan banyak hal di dalam hidup kita, dan karenanya kemajuan teknik tidak mungkin lagi dikesampingkan. Kita bepergian dengan menggunakan mobil atau pesawat, kita dapat menyaksikan orang yang meluncur ke ruang angkasa dengan menggunakan roket atau pesawat ulang alik, bahkan banyak produk makanan yang kita konsumsi setiap hari juga merupakan hasil teknologi. Kesehatan pun tidak bisa lagi lepas dari bantuan teknik. Semuanya sangat tergantung kepada fungsi teknik. Sekali teknik itu tidak berfungsi, banyak sekali hal yang menjadi terganggu bahkan menjadi kacau. Langkanya BBM misalnya akan mempengaruhi banyak sekali hal. Rusaknya mesin listrik atau menurunnya suplay air di sungai-sungai yang selama ini dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listri akan membuat banyak sekali hal menjadi kacau. Jangankah rumah sakit atau industry-industri yang mengandalkan listrik, rumah tangga sekalipun sudah akan merasakannya sebagai musibah bilamana listri tidak menyala sehari saja. Bahkan terganggunya signal telepon saja sudah mengganggu kebiasaan hidup kita. Kita sudah merasa sangat terganggu. Kita harus mengakui bahwa mukjijat teknik sudah sangat berperan di dalam hidup kita, meskipun tidak semuanya dapat kita jelaskan. Banyak seluk beluk teknik tetap merupakan teka teki bagi kita yang menggunakannya.

Kerajaan Allah? 
Mukjijat teknik telah membuat kita kagum bahkan terheran-heran. Kita pun tidak mungkin lagi mengabaikannya di dalam hidup kita, kita sangat terbantu, kita pun sangat bersyukur karenanya. Mukjijat di dalam karya Yesus sebenarnya merupakan pewartaan Kerajaan Allah. Namun baik mukjijat alam maupun mukjijat teknik dalam hidup kita ternyata belum membawa dampak apa-apa terhadap datangnya Kerajaan Allah. Kita tetap jauh dari Kerajaan Allah. Di mana-mana masih terjadi ketidakadilan, penindasan, kelaparan, peperangan untuk saling membinasakan. Setiap hari masih terjadi ratapan penderitaan. Surat kabar dan televisi masih dipenuhi dengan berita-berita yang menunjukkan bahwa Kerajaan Allah masih tak terbayangkan. Bahkan mungkin karena terlalu seringnya muncul berita-berita yang demikian, kita sudah menjadi seperti mati rasa. Peristiwa-peristiwa memilukan menjadi seperti biasa saja, berlalu tanpa gema. Bagaimana membayangkan Kerajaan Allah dalam situasi seperti itu?

Apa yang bisa dipercayai?
Kita menerima teknik dengan segala “mukjijatnya”, bahwa yang semula tidak mungkin menjadi mungkin. Besi bisa terbang. Air bisa menghasilkan api dan strom dalam listrik. Kalau di dalam semuanya itu kita dapat melihat bahwa dasar dari segalanya adalah karya Allah, mukjijat Allah, kekuatan Allah tidak dapat diabaikan. Kita dapat mempercayai, bahwa Allah akan menjadikan segala-galanya baik, bahwa Kerajaan-Nya akan terlaksana. Allah mengerjakan segala sesuatu di luar bayangan manusia. Kerajaan Allah pasti datang, dan melampaui segala bayangan dan pengertian manusia. Kita dapat mempercayai hal itu, meskipun kita tidak dapat menjelaskan: bagaimana.

Tetap menjaga kerinduan akan mukjijat
Seperti mukjijat Kerajaan Allah akan datang. Seperti mukjijat panenan. Kita tidak dapat membayangkan panenan berton-ton beras dari satu karung bibit yang ditanam. Namun proses terjadi begitu saja: biji-biji bertumbuh dan berbuah berlipat-lipat, dan terjadi berulang-ulang. Tanpa disadari, karena terjadi selaras dengan perubahan alamiah, tetapi hasilnya luar biasa. Mukjijat yang seperti itu tetap boleh kita harapkan. 

Di dalam perjuangan kita melawan sisi kelabu hidup kita, kita juga tidak boleh melepaskan kerinduan akan Kerajaan Allah. Penantian di dalam kerinduan akan memberikan kita kekuatan. Dengan kerinduan akan Kerajaan Allah, kita dapat melaksanakan pekerjaan, tugas dan tanggung jawab kita dengan lebih ringan dan “enjoy”. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh di dalam setiap aktivitas kita, tetapi kita tidak perlu putus asa bila mana tidak semua berhasil dengan sempurna. Allahlah yang akan menyempurnakan keterbatasan kita. Kerajaan Allah akan datang, akan terwujud dengan pasti meski dalam suatu proses yang panjang, laksana terang pasti akan datang seiring berlalunya gelap malam. Semua akan terjadi seturut waktunya. Dari pihak kita, kita menyesuaikan diri dengan gerak Allah itu, seperti petani menyesuaikan diri dengan gerak alam. Bekerja mengolah tanah dengan menggunakan cangkul dan sejenisnya pada musim mengolah tanah, menabur benih pada waktunya, menyiangi dengan menggunakan arit pada waktu menyiangi, memupuki dengan pupuk yang tepat pada waktunya, menuai dengan peralatan menuai pada waktu panen. Singkatnya: siap sedia dengan tindakan yang tepat pada waktu yang tepat. Itulah sikap waspada dan tanggap situasi secara kristiani. 

Bola-bola Golf Dalam Toples

Seorang professor berdiri di depan mata kuliah filsafat dan menaruh beberapa barang di atas mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples kosong bekas mayonaise yang besar dan mulai mengisinya dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berpaling kepada pada para muridnya dan bertanya: “Apakah toples itu sudah penuh?”. Para mahasiswa pun menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu kerikil dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang-guncang toples itu dengan ringan, sehingga batu-batu kerikil melesak masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf. Kemudian dia bertanya lagi kepada para muridnya apakah menurut mereka toples itu sudah penuh. Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples yang sama dan mengguncang-guncangkannya lagi … Tentu saja pasir itu menutup semua celah yang masih kosong. Sang Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh, dan para murid dengan suara bulat berkata, “Yaa!”. Tapi mereka belum mengerti apa yang dimaksud sang Profesor.

Terakhir, sang Profesor menyeduh dua cangkir kopi dengan air panas dari dispenser dan menuangkannya ke dalam toples. Air kopi itupun meresap ke dalam pasir di dalam toples itu. Para murid pun tertawa…

“Sekarang,” kata profesor ketika suara tawa mereda, “Saya ingin kalian memahami bahwa toples inimewakili kehidupanmu.”

“Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting dalam kehidupanmu: Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika suatu saat segala sesuatu yang kau miliki hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh.”

“Batu-batu kerikil adalah hal-hal lain yang kau miliki, seperti pekerjaan, karir, rumah dan mobil dan benda-benda lain”. Sedangkan Pasir adalah hal-hal yang lain yang kurang penting – hal-hal yang sepele.”

“Seandainya kalian memasukkan pasir ke dalam toples hidupmu,“ lanjut profesor, “Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu kerikil ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu. Jika kalian menghabiskan waktu dan energi hanya untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang lebih penting”. 

“Jadi, berilah perhatian untuk hal-hal yang paling penting untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check-up kesehatan. Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Adakan waktu untuk membersihkan rumah, mendekorasi kembali ruang tamu, atau memperbaiki mobil atau perabotan”.
“Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf – Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya.”


Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, “Kalau Kopi yang dituangkan tadi, mewakili apa dalam kehidupan kita?” Profesor itu tersenyum, “Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat”

Biji Sesawi

Dua puluh lima anak-anak sekolah bersama dengan guru mereka pergi ke Washington D.C. untuk melihat Gedung Putih. Ketika mereka kembali ke kelas, guru itu menyuruh setiap murid untuk menulis sebuah karangan singkat tentang tamasya ke Gedung Putih. Dua puluh lima karangan merefleksikan dua puluh lima aspek tempat tinggal kepresidenan. Satu anak menulis, "Gedung Putih adalah seperti ini," diikuti dengan penjelasan mengenai ciri yang paling relevan menurut penglihatan mereka. Anak yang lain menggunakan pendahuluan yang sarna di dalam karangannya, tetapi menggambarkan perspektif Gedung Putih secara keseluruhan dengan cara yang berbeda-beda, 

Yesus memberitahu murid-murid-Nya karakteristik Kerajaan Allah yang banyak. Dia menjelaskan segi individual dari peraturan Kerajaan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan. Jadi Dia memperkenalkan perumpamaan-Nya dengan frasa: "Kerajaan Allah adalah seperti .... " 

Perumpamaan tentang biji sesawi sangat kontras dengan perumpamaan gandum dan lalang, di mana perumpamaan biji sesawi ini sangat singkat. Yesus menggambarkan ukuran biji sesawi yang menakjubkan hanya dengan beberapa kata ("pohon" di dalam Injil Matius dan Lukas; di dalam Injil Markus "sayuran") yang berkembang dari biji yang sangat kecil yang ditanam di kebun-kebun. Yesus menekankan perbedaan antara kecilnya biji dan besarnya sayuran dengan jelas. Dia tidak mengatakan sepatah katapun tentang kualitas biji sesawi. Dia dapat menyebutkan kegunaannya untuk makanan dan obat-obatan, warnanya dan rasanya, tetapi yang dimaksudkan perumpamaan ini bukanlah tentang kualitas. 

Yesus menggunakan contoh dari kehidupan sehari-hari, Di dalam masyarakat kita yang modern, tidak banyak orang yang mengenal masalah kebun, yang mereka kenal adalah makanan kalengan, botolan dan makanan bungkusan. Tetapi pada zaman Yesus, hampir setiap orang mempunyai tanah perkebunan sendiri. Bahkan pendeta pun pada zaman itu memberikan sepersepuluh dari rempah-rempah selasih, adas manis dan jintan - dari kebun mereka (Matius 23:23) . Sayuran sesawi selalu ada di setiap kebun. Sayuran ini sangat sering ditanam di tanah yang merupakan batas kebun karen a sayuran ini membutuhkan banyak tempat. Di dalam Injil Matius, tukang kebunnya menanam biji sesawi di ladang, di dalam Injil Lukas ditanam di sebidang tanah, dan di dalam Injil Markus di kebun. 

Tukang kebun itu hanya mengambil satu biji sesawi. Sepertinya jari-jarinya terlalu besar untuk memegang sebutir biji yang sangat kecil. Dia menaburkan biji di ladangnya karena dia tahu bahwa biji yang kecil itu mempunyai kemampuan untuk tumbuh menjadi tanaman yang seukuran pohon[3]. Dia hanya memerlukan satu tanaman. Dan Dia mengetahui kekontrasan an tara biji dan tanaman[4]. Sebenarnya, ukuran biji sesawi yang sangat kedl itu telah terkenal sejak abad pertama. Suatu kali Yesus mengatakan: " Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, ... " (Matius 17:20) [5]. Baik Matius maupun Markus secara eksplisit mengatakan bahwa benih sesawi "adalah yang paling kecil dari semua benih yang lain"[6]. Karena itu, semua kekontrasannya sangat ditampakkan, karena kalimatnya diseimbangkan dengan penjelasan ten tang tanaman yang sudah tumbuh: "tanaman kebun yang sangat besar dan menjadi sebuah pohon." Biji itu benar-benar kecil, sebutir benih yang sangat kecil yang ditanam di ladang dan menjadi sebuah pohon. Suatu mujizat! 

Yesus menyimpulkan perumpamaan ini dengan menyinggung bagian Perjanjian Lama yaitu Daniel 4:12 dan Yehezkiel17:23 dan 31:6. Perikop dari Kitab Daniel ini dikenal oleh pendengarnya karena perikop ini menunjuk kepada mimpi Nebukadnezar ten tang sebuah pohon yang sedemikian kuat sampai ujungnya mencapai surga. Di tanah di bawah rimbunnya pohon itu ditemukan tempat bernaung, dan cabang-cabangnya dihinggapi burung-burung untuk bertengger. Yesus yang berbicara mengenai Firman Allah (Yohanes 3:34) mengajar di dalam Alkitab dengan menggunakan kata-kata kiasan verbal secara tidak langsung, dan mengundang perhatian terhadap perumpamaan Mesianik di dalam Yehezkiel17:23, "Di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di bawah cabang-cabangnya"[7]. 




Hasil Perumpamaan : 

Yesus mengajarkan Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan, mungkin kelihatannya tidak penting dan tidak berarti, khususnya di daerah Galilea pada abad 28 SM. Tetapi Injil Kerajaan diberitakan oleh seorang tukang kayu yang beralih menjadi penginjil yang membawa pengaruh yang kuat terhadap dunia luas. Pengikut-pengikut Yesus terdiri dari beberapa nelayan yang "tidak terpelajar" yang diutus untuk menghasilkan murid-murid dari semua bangsa. Pengikut-pengikut-Nya itu mengobarkan dunia dengan pesan keselamatan yang sampai hari ini diberitakan di hampir semua bahasa yang dikenal di dunia. Benih yang sangat kecil menjadi sebuah pohon yang sampai hari ini memberikan perlindungan dan damai bagi setiap orang di mana pun juga. Dan pada waktu itu masih belum dipergunakan. 

Pohonnya masih belum dewasa; masih dalam pertumbuhan[8]. Kita melihat fenomena pertumbuhan pohon dan kita mengetahui bahwa Allah sedang bekerja mengembangkan Kerajaan-Nya. Kita mengetahui bahwa begitu banyak orang di bumi ini sampai tidak terhitung banyaknya belum mendengar berita baik tentang kasih Allah yang mengampuni. Seluruh bangsa sebenarnya belum memiliki naungan dan perlindungan yang diberikan oleh Kerajaan Allah. Cabang-cabang pohon harus terus bertumbuh dan meluas ke daerah-daerah yang masih membutuhkan Injil sehingga banyak orang akan menemukan perlindungan dan damai[9]. Dan ketika Injil tentang Kerajaan Allah telah diberitakan untuk semua bangsa di dunia, kemudian akhir zaman akan tiba (Matius 24:14) dan pohon itu akan sepenuhnya bertumbuh. 

Minggu, 10 Juni 2012

Indonesian Youth Day 2012 (IYD 2012).

Minggu, 10 Juni 2012 


Di hadapan 62 Krismawan/wati dan umat Paroki Katedral, Bapa Uskup John, Liku Ada’, Pr (Uskup KAMS) memberkati dan memperkenalkan Salib Indonesian Youth Day 2012 (IYD 2012). 

Salib ini nantinya akan dibawa ke Salib Indonesian Youth Day 2012. Rencananya Salib ini akan di bawa keliling ke paroki-paroki yang ada di Keuskupan Agung Makassar. 

Dengan mempertimbangkan ciri-ciri dan kebutuhan OMK Indonesia yang khas dan begitu kompleks di zaman kini serta mutlak membutuhkan pendampingan iman, para Uskup Indonesia yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) saat sidangnya pada Oktober 2010, telah menyetujui diadakan acara bersama bagi Orang Muda Katolik Indonesia pada tingkat nasional, yang disebut Indonesian Youth Day (IYD) pada 2012. 

Mau tahu tujuan IYD 2012?  klik disini saja Tujuan IYD
Siapa aja ya yang diajak? bisa dilihat disini Sasaran Peserta IYDMau tahu bentuk acaranya? nih…Konsep Kegiatan IYDDan seperti inilah Tahap Pelaksanaan IYDJika ingin mengikuti kegiatan ini silahkan baca di sini.

Untuk teman-teman muda yang berminat untuk mengikuti IYD 2012 dapat menghubungi Seksi Kepemudaan di paroki masing-masing atau langsung ke panitia IYD Keuskupan Agung Makassar (0411-315744 -Seksi Kepemudaan KAMS). Di Sanggau orang muda katolik yang berkumpul diharapkan dapat berbagai spirit dukungan, sharing iman dan 

Membangun jaringan yang meneguhkan. Dalam perjumpaan ini diharapkan orang muda katolik dapat semakin meng-Indonesia seperti tema dari IYD sendiri yakni 
“Berakar dan Dibangun dalam Yesus Kritus, Berteguh dalam Iman” (Kol 2:7), dengan sub tema adalah “OMK Semakin Meng-Indonesia”. 

HIDUP EKARISTIS : DARI ALTAR MENUJU LATAR

Hari Raya  Tubuh & Darah
P. Sani Saliwardaya, MSC
Kel. 24:3-8; Ibr. 9:11-18; Mrk. 14:12-16, 22-26

Hari ini, bersama seluruh Gereja, kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari Raya ini senantiasa dikaitkan dengan Perayaan Ekaristi: Perayaan Syukur Agung yang dengannya Gereja memperingati dan mengenang Yesus Kristus yang telah mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan umat manusia. Perayaan Ekaristi itu sendiri bisa dikatakan merupakan penyempurnaan dari Perayaan Syukur bangsa Israel, Hari Raya Roti Tak Beragi.

Dalam Injil MInggu ini dikatakan demikian. “Pada hari pertama dari Hari Raya Roti Tak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid berkata kepada Yesus, ‘Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”.

Hari Raya Roti Tak Beragi asal usulnya merupakan Hari Raya yang berhubungan dengan dunia pertanian, dan berbeda dengan Hari Raya Paskah. Roti Tak Beragi itu sendiri, yang dipandang sebagai lebih murni daripada roti beragi (bdk. Kel. 34:25; 1Kor.5:7-8), merupakan bahan persembahan yang disiapkan sehari menjelang Paskah untuk memperingati perjamuan orang-orang Yahudi pada malam keluarnya mereka dari Mesir: Malam Pembebasan (bdk. Kel. 12:34-39). Hari Raya Roti Tak Beragi, yang berasal dari dunia pertanian itu dilaksanakan selama tujuh hari, dan selama sepekan itu dipersembahkan korban buah-buah bungaran, artinya hasil buah yang pertama dari lahan pertanian, dan juga kemudian roti tak beragi (bdk. Kel. 12:18; Im. 23:6). Karena hari pertama pekan perayaan Roti Tak Beragi itu bertepatan dengan Paskah, maka kemudian kedua perayaan itu disamakan. (bdk. Xavier L├žon-Dufour,  Ensiklopedi Perjanjian Baru, hal. 475).

Makna tentang darah persembahan dapat kita temukan dalam bacaan I MInggu ini. 
Darah tidak boleh dimakan bersama dengan daging persembahan, karena darah adalah simbol kehidupan, dan kehidupan itu adalah milik Allah. Darah binatang persembahan yang dipercikan atau disiramkan ke atas mezbah persembahan menjadikan persembahan itu mempunyai nilai pendamaian atau pengampunan yang terikat dalam perjanjian (bdk. Kel. 24:8, Ensiklopedi Perjanjian Baru, hal. 202).

Ketika dalam perjamuan malam Paskah bersama para murid-Nya, Yesus mengambil roti (tak beragi), mengucap berkat, membagi-bagi dan kemudian  memberikannya kepada para murid-Nya, Yesus berkata, “Ambillah, inilah Tubuh-Ku”. Kemudian, ketika mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada para murid, Yesus berkata, “Inilah Darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang”.  Dengan Sabda-Nya ini, Yesus hendak mengatakan bahwa Pembebasan dan Pendamaian yang terikat dalam Perjanjian dengan Allah Bapa telah beralih kepada Diri-Nya (bdk. Ibr. 9:13-14; 10:4; Rm. 3:25; Mat. 26:28). 

Dalam perjamuan malam Paskah itu, Yesus serentak bertindak sebagai Imam yang mempersembahkan Korban, tetapi serentak Dia adalah Korban itu sendiri. Roti Tak Beragi dan Anggur yang dipersembahkan dalam perjamuan malam Paskah itu kemudian menjadi ungkapan “kehadiran nyata”  Diri Yesus sendiri.

Perjamuan malam Paskah yang dilaksanakan oleh Yesus menjelang wafat-Nya, Perjamuan Malam Terakhir, merupakan model dari setiap Perayaan Ekaristi. Karena itu, setiap Perayaan Ekaristi merupakan  suatu peringatan dan kenangan akan peristiwa Pembebasan dan Pendamaian yang dilaksanakan oleh Yesus. Dan agar perayaan tersebut bisa membawa orang pada suatu kenangan masa lampau yang diperingati dan dihadirkan saat ini  secara berkesinambungan maka disusunlah suatu liturgi, suatu tata cara dan upacara peringatan. Dengan demikian, empat bagian besar dalam Liturgi Ekaristi Gereja Katolik, yakni Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekariti, dan Ritus Penutup, merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipindah-tempatkan. 

Dalam Ritus Pembuka, kita diajak untuk membersihkan budi dan hati serta memuliakan Tuhan, agar kita layak untuk mendengarkan, menerima, serta meresapkan sabda / firman Allah. Dalam Liturgi Sabda, kita diajak untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Allah yang memberikan konteks sejarah iman (kenangan masa lalu dalam iman), yakni tindakan Allah untuk membebaskan dan menganugerahkan kedamaian kepada bangsa terpilih (bacaan dari Perjanjian Lama) yang kemudian memuncak dalam diri Yesus Kristus (bacaan dari Perjanjian Baru). Dalam Liturgi Ekaristi kita diajak untuk memperingati dan menghadirkan kembali peristiwa keselamatan Allah yang mencapai pemenuhannya dalam Diri Yesus Kristus itu dengan merayakan (Doa Syukur Agung) dan menerima Kristus dalam kehidupan kita (Komuni). Dalam Ritus Penutup kita diajak untuk melaksanakan tugas perutusan kita. Setelah menerima berkat perutusan, Imam berkata, “pergilah, kita diutus”. Artinya, bahwa perayaan kenangan dan peringatan keselamatan yang dihadirkan kembali dalam Perayaan Ekaristi di meja Altar semestinya juga kita hadirkan secara kelihatan kepada orang-orang yang kita jumpai di latar (latar adalah bahasa Jawa, yang artinya halaman. Kata latar secara simbolis menunjuk “tempat” di mana terjadi perjumpaan dengan orang-orang lain).

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan oleh Gereja di seluruh dunia, mengajak kita untuk menghidupi makna Perayaan Ekaristi dan menjadikannya sebagai sumber dan kekuatan kita dalam kehidupan sehari-hari (Hidup Ekaristis).  Hidup Ekaristis dapat kita laksanakan jikalau kita, setelah merayakan Perayaan Ekaristi, memindahkan berkat yang kita terima dari atas Altar dan kemudian membawanya ke latar. 


Bunyi yang Punya Arti


Suatu hari, seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi rebut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggu orang desa itu.
Kedua orang itu kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba orang desa itu
berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, “Berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?”
Teman kotanya itu menoleh ke arah orang desa itu sambil tersenyum, dan kemudian berkata, “Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu-lalang. Apa yang kau dengar?”
“Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara
nyanyiannya.”
Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jadi kamu pikir kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik?”
Kata orang desa itu, “Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini sekarang.”
Orang desa itu berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat. Orang Indian itu memetik beberapa daun, dan di atas daun itulah terdapat seekor jangkrik yang bernyanyi keras sekali.
Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengar kan suara nyanyiannya. Ketika mereka kembali berjalan-jalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, “Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami.”
Orang desa itu tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Sekarang lihat, saya akan memperlihatkannya kepadamu!”
Lalu, orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantungnya, dan kedua orang itu kembali berjalan-jalan.
Kata orang desa itu, “Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suara jangkrik itu. Alasannya tentu bukan bahwa orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Tidak. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan.”
Seringkali ketika kita dalam masalah, kita berteriak memohon pertolongan pada Tuhan, dan kita merasa Dia diam saja. Ketika membaca cerita ini kita jadi sadar, sebabnya bukan karena Tuhan tidak menjawab, tapi karena kita lebih fokus pada diri kita sendiri dan permasalahannya daripada fokus pada Tuhan dan pertolonganNya.
Kita memasang telinga agar Tuhan menjawab sesuai dengan keinginan dan cara kita dan menolak suara Tuhan yang mengatakan bahwa Dia menyediakan jalan lain yang lebih baik!

Pesta Paroki Katedral 2012


Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus


Setiap tahun Gereja merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus.Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus jatuh pada hari Jumat sesudah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Pada tahun ini Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus jatuh pada tanggal 15 juni 2012

Mengapa kita merayakan  Hati Yesus yang Mahakudus?  
Kita merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus karena Hati Yesus melambangkan kasih-Nya yang begitu besar  bagi umat manusia. Pada tahun 1675, Yesus menampakkan diri kepada St. Maria Margareta Maria Alacoque dan menunjukkan Hati-Nya yang penuh belaskasihan itu berdarah. Yesus menyatakan kerinduan hati-Nya akan kasih umat-Nya dan menunjukkan Hati-Nya yang Mahakudus yang penuh cinta dan belaskasihan serta  penyelamatan. Karena itu, Tuhan menetapkan hari Jumat setelah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus sebagai hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus dan meminta Margereta untuk menghormati Hati-Nya Yang Mahakudus  dengan menerima komuni kudus setiap Jumat Pertama dalam bulan selama sembilan bulan berturut-turut.
      Dengan menghormati Hati Yesus Yang Mahakudus, kita mendapatkan berkat dari hati ilahi-Nya, yaitu kita mendapatkan segala kebutuhan  kita. Kebutuhan yang dipenuhi oleh Hati Yesus  terutama adalah  kedamaian hati. Kedamaian hati  jauh lebih berharga  daripada harta benda. Agar kedamaian hati kita dapat terpelihara, kita hendaknya  berusaha menyangkal  kehendak kita sendiri dan menggantikannya dengan kehendak Hati Yesus  yang Mahakudus. Dengan mengikuti kehendak Hati Yesus yang Mahakudus, kehendak-Nya bagi kita dapat terlaksana  sehingga Ia semakin dimuliakan  dan kita bersukacita karena menjadi  alat-Nya dan percaya sepenuhnya kepada-Nya.
        Marilah pada Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus  ini kita semakin berusaha menyerupai Hati Yesus, yaitu  kerendahan hati dan kelebutan hati. Kerendahan hati dan kelembutan hati  menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup kita. Hidup yang dipenuhi dengan  ketenangan dan kebahagiaan akan membuat hidup kita terasa  ringan. Tuhan memberkati.

Sehubungan dengan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, Paroki Katedral Makassar, juga merayakan Pesta Pelindung Paroki sekaligus memperingati 120 Tahun berdirinya Gereja Katedral Makassar. Pada BERKAT  edisi mendatang , akan di umat Tulisan Seputar Sejarah Gereja Katedral Makassr. Dalam rangkah memperingati Pesta Pelindung Paroki Katedral, Maka akan diadakan beberapa kegiatan dan perlombaan untuk memeriakan Pesta Paroki tahun ini. Kegiatan ini bertujuan untuk memeriahkan Pesta Pelindung Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral Makassar. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mencari bibit– bibit muda (regenerasi) dan sebagai media      penyaluran bakat umat dalam mengembangkan tugas pelayanan, baik dalam lingkup Rukun, Kelompok Kategorial. dan sekaligus juga bertujuan untuk meningkatkan peran serta umat dalam kehidupan menggereja. 
umat sekalian yang berminat untuk mengikuti kegiatan Peta Paroki ini, dapat mendaftarkan diri ke ketua-ketua rukun dan kelompok.

Hari RayaTubuh & Darah Kristus


Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, saya tertarik dengan sesuatu yang saya dapatkan pada Ekaristi di gereja. Ada satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya, mengapa Yesus memberikan perumpamaan tentang diri-Nya sebagai tubuh dan darah yang dapat dimakan dan diminum oleh manusia? Banyak sekali perumpamaan yang sudah diajarkan oleh Yesus kepada para murid, dari perumpamaan yang mudah ditafsirkan hingga yang sulit sekali ditafsirkan oleh para murid. Di penghujung karya-Nya di bumi, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai tubuh dan darah yang disimbolkan dalam roti dan anggur pada perjamuan terakhir.
Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa harus demikian? Kok tidak *misalkan* wajah atau rambut atau jantung atau hati atau otak, melainkan secara sederhana: tubuh dan darah. Inilah yang menjadi misteri kehidupan rohani kita, yaitu Ekaristi menjadi puncak dari keutamaan hidup kita. Secara simbolik, dengan menyantap roti dan anggur bersama dalam sebuah perjamuan: jika kita menghayati makna sesungguhnya dari perjamuan itu, maka roti dan anggur itu mengalami transubstantiatio (perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah). Namun, banyak sekali yang tidak paham makna dari tubuh dan darah itu sendiri.
Secara pribadi, saya mencoba menghayati tubuh dan darah itu dalam istilah yang dapat saya gunakan sehari-hari.

Tubuh Kristus
Jika kita mendengar istilah 'tubuh', yang terbayang dalam benak kita adalah jasad manusia yang terdiri dari kepala, badan, alat gerak, serta organ-organ tubuh di dalamnya. Tubuh memiliki bagian-bagian yang berfungsi secara unik dan membangun sebuah satu kesatuan manusia. Bagian-bagian tubuh yang bersatu inilah yang selanjutnya diidentikkan dengan Gereja. Kepada Petrus, Yesus berkata bahwa dialah batu penjuru di mana di atasnya akan dibangun Gereja-Nya.
Walaupun terdiri dari berbagai macam karisma, mereka bersatu padu membentuk suatu komunitas yang 'hidup'. Siapa yang menghidupkan? Tentu saja Roh Kudus, yang telah dicurahkan kepada manusia. Hanya dengan menyebut nama 'Yesus', antara saya dan Anda yang percaya bisa saling kenal dan akrab. Bahkan tak heran jika dalam suatu komunitas Gereja, mereka bersatu padu untuk saling melayani dalam suatu perayaan Ekaristi (ada yang bertugas sebagai lektor, prodiakon, pelayan persembahan, ada juga tim komunikasi sosial, pemuda, remaja, anak-anak dan lain-lain). Merekalah yang meramaikan gereja dan menjadikan Gereja bukan hanya organisasi, melainkan kehidupan.

Darah Kristus
Bagian kedua adalah 'darah'. Jika saya mendengar istilah itu, saya mengingat bahwa oleh karena darah-lah seluruh organ tubuh kita berfungsi. Darah mengalir di seluruh tubuh untuk melalui beberapa tempat: jantung untuk dipompa, paru-paru untuk dibersihkan, dan seluruh tubuh untuk dimanfaatkan. Sebagai darah, Yesus Kristus ingin memperkenalkan diri-Nya sebagai firman yang hidup dan menghidupi tubuh Gereja-Nya. Liturgi Ekaristi, tentu tidak pernah lepas dengan liturgi sabda karena keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan (inilah keterkaitan antara tubuh dan darah). 
Melalui bacaan firman Tuhan yang kita renungkan sehari-hari baik secara pribadi maupun ketika berada dalam Ekaristi, tentu kita mendapatkan banyak hal. Bahkan dalam satu perikop yang sama, kita bisa mendapatkan penafsiran yang berbeda-beda. Seperti di dalam jantung, firman kehidupan ini didorong ke seluruh tubuh Gereja agar setiap umat memperoleh nutrisi rohani yang segar dari esensi kemurnian firman itu sendiri, Yesus. Seperti juga layaknya di dalam paru-paru, firman kehidupan ini senantiasa dimurnikan oleh kuasa Roh Kudus yang tinggal dan senantiasa mengilhami kita sebagai umat Tuhan pada masa kini.
Kita patut bersyukur, mengapa Yesus telah memperkenalkan diri-Nya sebagai tubuh dan darah. Siapakah yang masih merasa lapar dan haus, jika kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita? Karena Dia telah menyediakan makanan dan minuman rohani itu melalui gereja dan firman Tuhan yang selalu baru setiap pagi. Untuk itulah, Ekaristi menjadi puncak keutamaan hidup kita sebagai orang-orang beriman.
Yesus-lah misteri, dan misteri itu hanya akan terjawab jika kita mengunyah apa yang sudah diperkenalkan-Nya kepada kita. Jadi barangsiapa ingin mengerti dan memahami rahasia ini, baiklah dia mendengar dan menyantap roti kehidupan ini.