Cari Blog Ini

Kamis, 10 Januari 2013

Menjadi Terang bagi Hidup Bersama


Apa yang akan terjadi kalau dunia sekeliling Anda gelap gulita? Apa yang akan Anda lakukan? Tentu saja Anda akan menghidupkan lampu yang ada di dekat Anda. Dengan demikian, tidak terjadi lagi kegelapan di sekitar Anda. Pelita atau lampu bukan sesuatu yang asing dalam hidup kita sehari-hari. Pelita adalah salah satu alat yang penting untuk penerangan pada zaman dulu. Pelita mampu memberi cahaya, jika didukung oleh minyak dan sumbu yang dibakar oleh api. Dalam perkembanganya, alat penerang itu menjadi semakin canggih dengan ditemukannya listrik dan bola lampu. Namun fungsinya tetap sama, yakni memberi terang, menghalau kegelapan.
Pelita sangat akrab dalam kehidupan ini. Pelita berada di gantang atau tempat untuk meletakkan pelita. Apa yang dapat kita pelajari dari pelita bagi hidup ini? Ternyata begitu dekatnya hidup kita dengan pelita. Kedekataan itu membantu kita untuk memahami fungsinya. Yang terpenting adalah kita dapat belajar dari fungsi pelita itu bagi hidup ini.
Mari kita juga belajar dari pelita. Kita selalu membutuhkan pelita yang memberi terang dalam hidup ini. Jika kita melakukan perjalanan pada malam hari, kita membutuhkan pelita sebagai penerang supaya tidak tersesat. Tentu kita juga dapat belajar dari pelita yang menerangi semua orang. Kehadiran kita memberi seberkas cahaya harapan bagi yang dirundung kegelapan masalah hidup ini. Akhirnya masyarakat mampu hidup secara harmonis.
Sahabat, dalam salah satu kotbahnya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di Surga.”
Dari kotbah Yesus itu tampak begitu pentingnya peranan hidup manusia dalam hidup bersama. Kita diajak oleh Yesus untuk menjadi cahaya bagi orang lain. Artinya, kita memberi terang bagi sesama yang masih hidup dalam kegelapan dosa. Kita mengajak mereka untuk kembali kepada Tuhan. Mengapa? Karena hanya Tuhanlah yang menjadi terang sejati bagi hidup kita.
Tentu saja menjadi terang bagi sesama itu tidak gampang. Diri kita sendiri harus dapat menjadi contoh bagi hidup orang lain. Kita mesti berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi nilai-nilai kebaikan dalam hidup sehari-hari. Lantas nilai-nilai itu kita tebarkan bagi hidup sesama kita. Kita dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup bersama.
Kita dipanggil untuk berani menjadi terang bagi masyarakat. Kehadiran orang beriman memberi pencerahan atas situasi kegelapan masyarakat, karena nilai-nilai kemanusiaan yang diabaikan. Kita mempunyai tugas untuk memberi terang bagi yang gelap. Terang itu kita tunjukkan dengan teladan hidup, nasihat, dan peneguhan bagi yang bimbang.
Mari kita memberi terang melalui kata dan perbuatan kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna. Tuhan memberkati. **

SURAT GEMBALA TINDAKLANJUT HASIL SINODE KAMS 2012


Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar! Salam sejahtera dala Kristus Yesus Tuhan kita, yang dating “untuk MELAYANI dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:54). Sinode Diosesan ke-2 Keuskupan Agung Makassar telah berlangsung dari 27-31 Mei 2012 di Makassar. Sinode ini, sebagaimana yang kita tahun, diadakan dalam rangka perayaan 75 tahun usia Gereja lokal kita ini. Sinode telah berjalan lancar dan sukses. 

Kita percaya, ini terjadi karena Roh Tuhan  sendiri yang berkarya. Ternyata Tuhan mengabulkan ‘Doa Persiapan Sinode’, yang dipanjatkan seluruh umat KAMS setiap minggu sejak awal tahun 2011 sampai pelaksanaan Sinode.  Tanpa disadari sebelumnya, ternyata hari pembukaan sidang Sinode tersebut, 27 Mei 2012, adalah Hari Raya Pentakosta. Bukanlah Pentakosta adalah Hari Kelahiran Gereja? Di HUT-nya yang ke-75, rupanya Tuhan berkehebdak memberi kelahiran baru bagi Gereja lokal KAMS lewat penyelenggaran Sinode! Demikian pula hari penutupan sidang Sinode, 31 Mei 2012, sebelumnya tidak disadari hari itu adalah pesta SP. Maria mengunjungi Elisabet! Agaknya Tuhan menginginkan agar Gereja lokal KAMS meneladan spiritualitas KEPELAYANAN Bunda Maria!

Pada dasarnya Sinode menggumuli tiga pertanyaan utama, yang saling berkaitan. Pertama, kemanakah  Gereja lokal ini mengarah dalam kurung waktu kurang-lebih lima tahun ke depan? Setelah mengetahui tujuan, pertanyaan berikutnya ialah: Apa saja yang harus dikerjakan, agar tujuan tersebut dapat tercapai? Setelah mengetahui tujuan dan apa yang harus dibuat agar tujuan tersebut dapat terwujud, maka pernyataan ke-3 adalah: Bagaimana semua ini harus dilakukan tahap demi  tahap demi tercapai semua tujuan? Demikianlah, Sinode, yang persipannya memakan waktu cukup panjang (Panitia Persiapan sudah berkerja sekal awal 2010), telah menghasilkan tiga hal utama, yaitu: Visi, Misi dan Strategi. Adapun visi-misi bersama-sama seringkali disebut arah dasar.

Rumusan visi Gereja lokal KAMS hasil Sinode 2012 berbentuk sebuah kalimat panjang. Dibutuhkan penjelasan bagian demi bagian, agar isinya dapat dipahami secara tepat. Bagian inti berbunyi: “Gereja lokal KAMS… sebagai PELAYAN….” Sosok Gereja sebagai pelayan ini sesungguhnya ditemukan dari hasil pergumulan umat Katolik KAMS mulai dari basis. Rangkuman hasil-hasil pergumulan tersebut yang dikerjakan oleh Panitia Pengarah Sinode menampilkan enam bidang pokok ini;  Keluarga, Pendidikan, Kesehatan, Sosial-Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Sosial-Politik. Perhatikanlah bahwa ke-6 bidang ini menyangkut misi Gereja ke luar (ad extra). Sedemikian itu, dan karena ini merupakan hasil pergumulan umat mulai dari basis, di sini terungkap kesadaran diri Gereja lokal KAMS sebagai Gereja yang MELAYANI. Dua bidang pokok lainya, yang dirumuskan dibawa Judul Re-evangelisasi dan Sarana-Prasarana, baru muncul kemudian dalam proses persiapan Sinode. Patut dicatat, model Gereja sebagai pelayan adalah model yang dicanangkan Konsili Vatikan II khususnya dalam Gaudium et Spes. Model ini didasarkan pada gambar biblis tentang umat Perjanjian Lama, dan kemudian tentang Kristus. Sebagai Hamba Allah. Selanjutnya. Keterbatasan ruang dalam Surat Gembala ini tidak memungkinkan menyajikan penjelasan lengkap untuk bagian visi tersebut. Silakan membaca tulisan lain.

Adapun misi hasil Sinode KAMS 2012 meliputi ke-8 bidang yang sudah disebut di atas: Re-evangelisasi, Keluarga, Pendidikan, Kesehatan, Sosial-Ekonomi, Sosial-Budaya, Sosial-Politik, dan Sarana-Prasarana. Sedangkan paparan strategi, untuk masing-masing dari ke-8 misi, diperinci ke dalam 4 item: tujuan, strategi, indikator percapaian dan pihak/organ pelaksana. Dokumen berisi ‘Visi Misi & Strategi Gereja Lokal KAMS’, hasil Sinode Diosesan 2012, yang telah disahkan Uskup Diosesan, sudah dikirimkan  ke Kevikepan, Paroki, Komisi dan Lembaga yang berkepenting. Maksudnya untuk ditindaklanjuti dalam dua tahap berikutnya secara berurutan, yaitu: program dan aksi, Dipercayakan kepada masing-masing Kevikepan untuk menyusun programnya sesuai dengan situasi dan kondisi Kevikepan bersangkutan. Setiap Kevikepan juga diberi kebebasan menentukan urutan prioritas berkaitan dengan ke-8 misi yang ada. Pada tingkat Keuskupan telah dibentuk “Tim Pendamping Tindaklanjut Hasil Sinode 2012” Tim, yang terdiri dari 9 anggota ini, telah dilantik Uskup Diosesan pada perayaan Ekaristi ‘Ziarah SP. Maria Diangkat Ke Surga’ di Bumi Rajawali, 12 Agustus 2012 disaksikan 7000-an umat peserta ziarah
Satu catatan khusus kiranya baik ditambahkan: Komisi Sosial-Politik dalam Sinode mengusulkan supaya Gereja lokal KAMS menjadikan tahun 2013 sebagai tahun sadar politik. Sinode sendiri, yang ingin tetap konsekwen pada memberi kebebasan kepada masing-masing Kevikepan dalam menentukan prioritas misi.  Memang tidak sampai pada keputusan konkret pencanangan itu. Tetapi salah satu dari ke-8 misi hasil Sinode menyangkut bidang Sosial-Politik. Rumusannya berbunyi: “Membangun kesadaran dan tanggungjawab sosial-politik yang bermartabat di kalangan umat dalam hidup  berbangsa dan bernegara”. Gereja lokal KAMS berikhtiar mewujudkan tugas mewartakan kerajaan Allah dengan meresapi tata dunia (bdk. GS).

Menurut informasi ada Kevikepan yang telah menetapkan pendidikan kesadaran politik umat sebagai program prioritas tahun 2013 Diharapkan agar setiap Kevikepan, walaupun tidak menjadikannya sebagai prioritas utama untuk tahun 2013, tetapi memberi perhatian pada bidang ini, yang memang muskil tetapi luhur dan amat penting. Kita tidak pernha boleh lupa semboyan “100% Katolik dan 100% Indonesia”! 

Perlu diingat pula, bahwa kita sedang berada dalam Tahun Imam yang dicanangakan Sri Paus, dan berlangsung dari tanggal 11 Oktober sampai 24 November 2013. Sri Paus meminta agar di setiap Gereja local (Keuskupan) diorganisir kegiatan-kegiatan sepanjang Tahun-Imam, yang melibatkan seluruh umat beriman. Tetapi mencermati maksud dan isi Tahun Imam, pada dasarnya sejalan dengan visi-misi  hasil Sinode Diosesan kita. Maka program-program yang telah disusun berdasarkan hail Sinode, dapat dipandang sekaligus sebagai implementasi Tahun Imam. Hanya ada satu hal khusus ini; Panitia Pelaksana Tahun Imam menekankan agar Syahadat Imam Nikea-Konstantinopel dikembalikan pada tempatnya yang penting sebagai doa harian setiap umat Katolik. Oleh karena itu Keuskupan akan mengedarkan kartu kecil yang naskah ke-12 pasal Syahadat Iman tersebut, agar dapat digunakan umat beriman sepanjang Tahun Imam baik dalam keluarga, komunitas manapun pada setiap kegiatan pertemuan dalam rangka tindaklanjut hasil Sinode kita, termasuk pula kegiatan-kegiatan APP 2013.

Akhirnya melalui Surat Gembala ini dimaklumkan kepada para Pastor, Biarawan/Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar bahwa Arah Dasar, berupa Visi dam Misi hasil Sinode KAMS 2012, resmi diberlakukan sejak 1 Januari 2013. Hendaknya setiap anggota Gereja local KAMS, sesuai kedudukan dan fungsi masing-masing, berupaya mendukung implementasi amanat Sinode Diosesan ini. Kalau kita percaya bahwa Sinode ini adalah pertama-tama karya Roh Tuhan, maka mengabaikan hasilnya dapat berarti melecehkan Tuhan sendiri!

Selamat Natal & Tahun Baru! Tuhan memberkati!

Makassar, Minggu III Adven, 16 Desember 2012


Mgr. John Liku Ada’,Pr
Uskup Agung Makassar

Santo Hilarius, Uskup dan Pujangga Gereja


Hilarius lahir di Gallia Selatan (sekarang Prancis). Semenjak kecil, ia dididik dengan tata cara kekafiran yang tidak mengenal adat istiadat Kristen. Pada usia setengah baya, ia bertobat dan masuk ke pangkuan Gereja Kudus bersama anak dan istrinya, berkat kebiasaannya membawa buku - buku rohani dan Kitab suci.  Hilarius, seorang yang saleh, pandai dan bijaksana. Karena bakatnya ini, ia ditabhiskan menjadi imam, selanjutnya diangkat sebagai Uskup kota asalnya, Poiters (baca: pwatie

Pada masa kepemimpinannya, bidaah Arianisme semakin menghebat. Tugas para Uskup Ortodoks menjadi semakin berat. Meskipun demikian, Uskup Hilarius tetap menjadi pembela iman yang benar. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dihadapkan kepada Kaisar Konstansius. Ia dibuang ke Phrygia. Selama tiga tahun, ia hidup dipengasingan. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk menulis bukunya yang termasyur mengenai Tritunggal MahaKudus. 
Walaupun dibuang, namun ia tidak pernah membiarkan para Arian merajalela dengan ajarannya yang sesat itu. Sehabis masa pembuangannya itu, ia tidak diijinkan pulang ke tanah airnya di Galelia Selatan. 

Di tempat asalnya ini, Hilarius tetap mencurahkan tenaganya bagi tegaknya ajaran iman yang benar dan kemurnian Iman Kristen, sempai ia wafat pada tahun 368. Hilarius dihormati Gereja sebagai Pujangga Gereja.

Sakramen Baptis dalam Gereja Katolik sekali untuk selamanya

Sebagaimana setiap orang yang telah dilahirkan tidak bisa masuk kembali ke dalam rahim ibunya, demikian pula mereka yang sudah dibaptis. Sekali dibaptis, selamanya Katolik; tidak terbatalkan. Bagi orang Katolik kematian justru melahirkannya kembali, yakni lahir ke dalam hidup abadi. Sakramen Baptis membawa konsekuensi positif dan membahagiakan baik untuk hidup di dunia maupun setelah kematian.

Kelahiran Baru
Sakramen Baptis mempunyai beberapa makna, Pertama, dibaptis berarti dilahirkan kembali dalam Allah (Yoh 3:3). Ini juga bermakna ditenggelamkan dalam wafat dan kebangkitan Kristus (Rm 3:3-4) supaya bisa mengambil bagian dalam hidup dan kemuliaan Yesus Kristus (KGK, 1227). Dengan demikian semua orang yang dibaptis menjadi bagian dari Gereja, tubuh mistik Kristus. 

Kedua, Sakramen Baptis membuka pintu untuk masuk ke persatuan penuh dengan Yesus Kristus dan Gereja-Nya dalam Sakramen-sakramen lain, terutama Krisma dan Ekaristi (bdk. KGK, 1229-1233). Karena itu, hanya mereka yang sudah dibaptis bisa menerima Sakramen Krisma, Pengakuan dosa, Ekaristi, Pernikahan atau Imamat, Pengurapan orang sakit.

Ketiga, setiap orang dilahirkan menjadi putra/putri orang tuanya. Walau ada orang tua yang membuang anaknya, setiap orang mempunyai orang tua (biologis). Demikian juga orang yang dibaptis, mau tidak mau menjadi anak-anak Allah dan mengenakan meterai salib. Meterai ini tidak terhapuskan oleh apa pun. Meski yang bersangkutan tidak mempraktikkan iman Katolik lagi –bahkan menyangkal Tuhan Yesus- tanda sakramen tetap menempel padanya. 
Keempat, Sakramen Baptis menghantar orang memasuki hidup abadi. Mereka yang dibaptis bersatu dengan kematian dan kehidupan Yesus. Karena itu, mereka yang mati dalam Kristus akan dibangkitkan dan mulia bersama dengan Dia (Yoh 6:37; 1Kor 15:22). 

Anugerah dan Tantangan
Sakramen Baptis merupakan anugerah dan sekaligus tugas. Anugerah hidup baru dan kekal yang kita terima dalam Sakramen Baptis mengundang kita untuk hidup seperti Yesus (Kol 2:6) dan hidup dalam terang (1Yoh 1:6). 
Lebih dari itu, menjadi pengikut Kristus berarti memanggul salib kehidupan (Mrk 8:34-35). Bukan dibebani salib, tetapi memanggul salibnya sendiri dengan menggunakan semangat Yesus Kristus. Mereka mesti siap menanggung aniaya (2Tim 3:12) seperti Yesus juga menderita sengsara untuk menyelamatkan dunia. 
Setelah Kristus naik ke surga Dia menampilkan tubuh-Nya dan melanjutkan karya penyelamatan-Nya dalam Gereja, tubuh mistik-Nya. Karena itu, semua orang Katolik menjadi pembawa tubuh Kristus itu. Mereka menghadirkan Kristus dan menjadi saksi-Nya di mana pun dia berada.

Prosesnya Tidak Mudah

Pada umumnya Gereja menganjurkan tiga tahap dalam pembaptisan: persiapan, pelaksanaan, dan program lanjutan. Pertama, tahap persiapan biasanya disebut katekumenat yang meliputi beberapa tahap (KGK, 1232). Hal ini dapat dibaca dalam pedoman calon baptis dewasa atau Rites of Christian Initation of Adults (RCIA). Hanya orang yang sungguh matang dan siap untuk menjadi Katolik akan dibaptis. 
Kedua, pelaksanaan Sakramen Baptis minimal mesti memenuhi dua syarat, yakni rumusan dan tindakan (KGK, 1240). Rumusannya, “Aku membaptis kamu dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Tindakannya ialah tiga kali mencurahkan air pada dahi atau menenggelamkan calon baptis ke dalam air. 
Ketiga, mistagogi atau program lanjutan (bdk. KGK, 1254-1255). Menjadi Katolik tidak berakhir dalam penerimaan Sakramen Baptis. Sebaliknya, itu merupakan langkah awal menghayati hidup baru dalam Kristus, mereka yang baru saja dibaptis perlu terus dibina dan dikembangkan imannya. Bila ini dilupakan, setelah dibaptis iman orang Katolik mandeg (tidak tumbuh). 
Penutup dari uraian di atas perlu ditegaskan bahwa Sakramen Baptis memberikan jaminan kehidupan abadi bersama Kristus. Apakah kita percaya kepada Yesus dan mau dibaptis serta dilahirkan kembali dalam Dia? Semoga melalui Tahun Iman, kita semakin setia dalam menghayati rahmat baptis kita. (Rm. Albertus Herwanta, O.Carm/RUAH) 


Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita. 
--- 1Yoh 3:24