Cari Blog Ini

Jumat, 22 Februari 2013

DENGARKANLAH DIA


HARI MINGGU PRAPASKAH II
Oleh  Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan dari : 
Kej. 15:5-12, 17-18; Flp. 3:17-4:1; Luk. 9:28b-36

Ada seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Mereka berjalan bersama-sama di suatu jalan protokol yang sangat ramai. Tiba-tiba teman yang dari desa itu berhenti dan berkata kepada temannya: “ Akhirnya, di tengah kota yang bising dan ramai ini ternyata ada juga bunyi jangkrik. Sungguh tak kusangka”. Temannya dari kota berkata, “ Saya tidak mendengarnya! Apakah kau tidak salah dengar?”. “ Tidak!”, jawab teman dari desa itu. “ Saya kira jangkrik itu ada di balik tanaman hias itu, “ lanjutnya, sambil menunjuk ke sudut sebuah taman yang ada di pinggiran jalan tersebut. 

Keduanya menyibak rerumputan di sekitar taman hias itu, dan benar….. di sana ada seekor jangkrik yang sedang menyanyi. Teman dari kota itu berkata, “ Wah, telingamu tajam sekali!”. “ Ah tidak “, jawabnya. “ Telingamu sama tajamnya dengan telingaku; juga telinga semua orang yang hilir mudik di depan dan di belakang kita ini. Kalau tidak pecaya, coba perhatikan……!”. Lalu ia mengambil uang logam dan menjatuhkannya di atas trotoar. Hampir semua orang menoleh karena mendengar gemerincing yang logam tersebut. 
Lalu teman dari desa itu berkata, “ Lihat…! Betul khan? Banyak orang kota mendengarkan gemerincing uang logam itu padahal bunyinya sama keras dengan bunyi jangkrik tadi. Pasti bunyi jangkrik itu tidak mereka dengar. Kita memang sering mendengarkan dengan hati, bukan hanya dengan telinga. Kita mendengar kepada apa yang hati kita tertaut!”
(disadur dari Percikan Kisah-Kisah Anak Manusia, karya Pst. Yosef Lalu, Pr.)

Injil hari ini mengajak kita untuk “mendengarkan Dia, Yesus, Anak Allah yang dikasihi-Nya”.
Setelah pengakuan Petrus tentang Diri-Nya, “Engkaulah Mesias dari Allah” (Luk.9:18-21), Yesus memberitahukan tentang penderitaan-Nya dan syarat-syarat mengikuti Dia (Luk. 9:22-27). Yesus nampaknya menyadari bahwa para murid-Nya belum memahami sepenuhnya apa yang diajarkan-Nya (bdk. Mrk. 8:31-9:1 dan Mat. 16:21-28). Karena itu, Yesus mengajak mereka ke atas gunung untuk berdoa (Luk. 9:28) agar bisa mengendapkan dan merenungkan apa yang diajarkan-Nya itu. Sementara berdoa, Yesus berubah rupa dan menampakkan kemuliaan-Nya (ay.29), dan Dia didampingi oleh Musa dan Elia (ay.30) dua orang tokoh dan Nabi besar dalam Perjanjian Lama. 

Setelah terbangun dari tidurnya (ay.32) dan ketika melihat kemuliaan Yesus, Petrus secara spontan mengungkapkan kekaguman dan kebahagiaanya serta ingin tetap tinggal dalam situasi kekaguman dan kebahagiaan itu (ay.33).
Petrus memang memiliki spontanitas yang amat tinggi; dan karena spontanitas itu dia sering tidak memahami sendiri apa yang dia katakan (ay.33b). bahkan Yesus sendiri pernah menegur sikap spontanitas Petrus itu (bdk. Mat. 26:34; Yoh. 13:38). Dan ketika para murid masih diliputi suasana kekaguman itu, terdengarlah suara dari dalam awan yang menyelimuti mereka, “ Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah DIa” (ay. 35).
Suara yang mirip juga terdengar ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, “ Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan “. (Luk. 3:22).  
Suara surgawi pada saat setelah pembaptisan Tuhan hendak menegaskan siapakah Yesus, yakni Anak Allah yang kepada-Nya Allah sendiri berkenan. Sedangkan suara surgawi pada saat Yesus menampakkan kemuliaan-Nya hendak menegaskan maksud perutusan Yesus, yakni agar pewartaan-Nya didengarkan, bukan hanya dikagumi saja.
Apa makna bacaan Injil bagi kita di masa Prapaskah ini?
Seperti dalam kisah di atas, kita lebih terarah pada hal-hal yang menarik hati kita sendiri, dan kurang memberi perhatian, bahkan melupakan hal lain. Kita pada umumnya lebih suka mendengarkan berita-berita yang menyenangkan kita. Hal yang sama dialami oleh Rasul Paulus ketika menghadapi umatnya di Filipi. Nampaknya nasehat-nasehat Paulus kurang didengarkan di Filipi, sehingga dia menuliskannya sambil menangis karena banyak orang hidup sebagai musuh-musuh Kristus (Flp. 3:18).

Pada masa Prapaskah ini kita diajak untuk 
1. Memberi perhatian dan mengarahkan telinga hati dan budi kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Sekurang-kurangnya pada waktu Perayaan Ekaristi kita mencoba mendengarkan Sabda Allah ketika dibacakan dan ketika dijelaskan dalam kotbah / homili.
2. Hening dan berdoa mendengarkan bisikan Tuhan dalam hati ketika kita belum memahami siapa Yesus dan apa kehendak-Nya bagi kita. Sikap spontan seperti Petrus malahan semakin membuat kita tidak tahu arah. 
3. Mengubah sikap dari mengagumi karya Allah yang dinikmati sendiri ke sikap memngagumi karya Allah yang dibagikan / disharingkan kepada sesame, khususnya orang0orang terdekat di sekitar kita
Membangun sikap untuk mendengarkan membutuhkan pertobatan.  

Memupuk Sikap Rendah Hati dalam Hidup


Tentu Anda yakin bahwa Tuhan sangat menyukai orang yang sungguh rendah hati. Mengapa? Karena orang yang rendah hati mampu melihat kebutuhan sesamanya.
Booker T. Washington, seorang pendidik berkulit hitam yang terkenal. Ketika ia menjadi pimpinan pada Institut Tuskegee di Alabama, Amerika Serikat, ia senang berjalan-jalan di pinggir kota. Suatu hari ia dihentikan oleh seorang wanita kaya berkulit putih. Karena tak mengenal Washington, maka ia menawarkan apakah laki-laki kulit hitam itu mau ia beri upah dengan memotongkan kayu untuknya.
Setelah mengingat bahwa tak ada urusan mendesak pada saat itu, maka Profesor Washington menyatakan kesediaannya. Ia tersenyum. Ia menggulung lengan bajunya dan mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta wanita itu. Kemudian ia membawa kayu-kayu itu ke dalam rumah dan meletakkannya di dekat perapian.
Seorang gadis kecil yang mengenalnya, kemudian mengatakan kepada wanita itu siapa Pak Washington sebenarnya. Keesokkan harinya, wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kantor Washington untuk meminta maaf. Ia merasa sudah melecehkan seseorang yang sangat dihormati itu.
Washington tersenyum menyaksikan perilaku wanita kaya itu. Lantas ia berkata, ”Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sangat senang dapat menolong Anda.”
Wanita kaya itu dengan hangat menjabat tangan Washington. Ia memuji apa yangg telah ditunjukkan oleh Washington bagi dirinya. Ia berkata, ”Sikapmu yang terpuji itu tertanam dalam hatimu.”
Tidak lama kemudian, wanita kaya itu menyatakan penghormatannya dengan menyumbang beribu-ribu dolar untuk Institut Tuskegee.
Sahabat, banyak orang mengalami kesulitan untuk menjadi orang yang rendah hati. Lebih mudah orang mengagung-agungkan dirinya. Lebih mudah orang membusungkan dadanya daripada harus dengan rendah hati mau melayani sesamanya. Orang merasa bahwa dirinya mempunyai gengsi yang begitu tinggi.
Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa kerendahan hati itu mendatangkan buah-buah kebaikan bagi kehidupan. Kerendahan hati itu menumbuhkan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Kerendahan hati tidak membuat seseorang terpuruk dalam hidupnya. Justru orang mempraktekan ajaran agamanya dengan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan.
Karena itu, yang dibutuhkan dari orang-orang yang hidup di zaman sekarang ini adalah memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu tanpa pamrih. Banyak orang melakukan suatu pekerjaan karena terpaksa. Orang tidak sampai pada usaha untuk mencintai apa yang dikerjakannya. Nah, sering orang terjebak dalam situasi seperti ini. Akibatnya, mereka gagal dalam banyak hal.
Mari kita berusaha untuk senantiasa rendah hati. Dengan demikian, kita mampu melakukan hal-hal yang spektakuler dengan penuh kasih. Kita lakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama dengan tanpa pamrih. ”…barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan,” kata Yesus (Matius 23:12). Tuhan memberkati. **
Sumber: Renungan Pagi.

MENGAPA MASA PRAPASKAH BERLANGSUNG SELAMAT 40 HARI?


Pada awalnya, empat puluh hari masa tobat dihitung dari hari Sabtu sore menjelang Hari Minggu Prapaskah I sampai dengan peringatan Perjamuan Malam Terakhir pada hari Kamis Putih; sesudah itu dimulailah Misteri Paskah. Sekarang, Masa Prapaskah terbagi atas dua bagian. Pertama, empat hari dari Hari Rabu Abu sampai Hari Minggu Pra-paskah I. Kedua, tiga puluh enam hari sesudahnya sampai Hari Minggu Palma. Masa Prapaskah bagian kedua adalah masa Mengenang Sengsara Tuhan.

Makna empat puluh hari dapat ditelusuri dari kisah Musa yang sebagai wakil Hukum (Taurat) dan Elia yang sebagai wakil Nabi. Musa berbicara dengan Tuhan di gunung Sinai dan Elia berbicara dengan Tuhan di gunung Horeb, setelah mereka menyucikan diri dengan berpuasa selama empat puluh hari (Keluaran 24:18, IRaja-raja 19:8). Setelah dibaptis, Tuhan Yesus mempersiapkan diri untuk tampil di hadapan umum juga dengan berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun. Di sana Ia dicobai setan dengan serangan pertamanya yaitu rasa lapar. Serangan yang sama digunakannya juga untuk mencobai kita agar kita gagal berpantang dan berpuasa dengan godaan keinginan daging. Kemudian setan berusaha membujuk Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya agar malaikat-malaikat dari surga datang untuk menatang-Nya. Setan mencobai kita juga dengan kesombongan, padahal kesombongan sangat berlawanan dengan semangat doa dan meditasi yang dikehendaki Tuhan. Untuk ketiga kalinya Setan berusaha membujuk Yesus dengan janji akan menjadikan Yesus sebagai penguasa jagad raya. Setan mencobai kita dengan keserakahan serta ketamakan harta benda duniawi, padahal Tuhan menghendaki kita beramal kasih dan menolong sesama kita.
Selama Masa Prapaskah selayaknya kita hidup sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran. (Efesus 5:8-9).

Sejarah dan Asal Mula Jalan Salib


Umat Kristen abad pertama sangat menghormati tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan, karya, dan kematian Yesus. Di tempat-tempat yang suci itu didirikan kapel/gereja ataupun diletakkan batu khusus. Berdasarkan sebuah tulisan kuno dari Siria (abad V), Bunda Maria sendiri mengunjungi tempat-tempat itu. 

Umat Kristen tinggal di kota Yerusalem hingga kira-kira tahun 70M. Menjelang serangan tentara Romawi terhadap bangsa Yahudi, mereka melarikan diri. Akibat serangan Roma, hancurlah Yerusalem serta Bait Sucinya. Serangan kedua, yang lebih dahsyat dilancarkan oleh Roma pada tahun 135M. Di atas puing-puing Yerusalem lama, Roma mendirikan sebuah kota baru dan beberapa kuil untuk dewa-dewi mereka.

Sesudahnya, semua orang Yahudi diusir dari Yerusalem dan dilarang berdiam di sana lagi. Dengan sendirinya semua orang Yahudi yang beriman Kristen terpaksa meninggalkan kota itu. Mereka mengungsi ke berbagai negara tetangga.

Nasib semua orang Kristen menjadi lebih baik pada awal abad IV setelah Konstantinus menjadi Kaisar Roma. Ia penguasa Romawi pertama yang berani mendukung umat Kristen. Ia memerintahkan bawahannya untuk mendirikan gereja yang indah di tempat Yesus pernah disalibkan dan dimakamkan. Gereja itu dikonsekrasikan pada tahun 335M dan dipandang sebagai gereja terindah di bumi zaman itu.

Tidak lama sesudahnya, kota Yerusalem dan tempat-tempat yang dikuduskan oleh Yesus, Maria (Bunda Yesus), dan para rasul mulai diziarahi oleh umat Kristen. Pada hari Kamis Putih, para peziarah dan umat Kristen yang tinggal di Yerusalem berkumpul di Taman Zaitun. Kemudian, mereka secara bersama-sama mengenang sengsara Yesus dengan menyusuri jalan dari Taman Getsemani hingga Bukit Golgota. Inilah catatan pertama tentang awal devosi yang kini dikenal sebagai Jalan Salib.

Mula-mula tidak ada perhentian-perhentian Jalan Salib seperti sekarang. Rute yang ditempuh dalam rangka Jalan Salib berubah dari waktu ke waktu. Malahan, masing-masing kelompok umat menawarkan sejumlah perhentian berbeda dan menetapkannya pada lokasi yang berbeda pula.

Pada abad XI—XIII, demi merebut tempat-tempat suci dari tangan bangsa asing yang menduduki Tanah Suci, umat Kristen melancarkan serangkaian perang yang dikenal dengan nama Crusade atau Perang Salib. Sejak itulah mulai ditunjuk sejumlah tempat yang berhubungan dengan Jalan Salib, antara lain Pintu Gerbang yang dilalui Yesus pada saat Ia keluar dari Yerusalem menuju Golgota, istana Herodes, tempat Pilatus mengadili Yesus, tempat Yesus disalibkan, lubang tempat berdirinya salib Yesus, lokasi makam Yesus, tempat Yesus menyapa perempuan-perempuan Yerusalem yang menangisi-Nya, tempat Yesus berjumpa dengan bunda-Nya, tempat Veronika mengusap wajah Yesus.
Sejak tahun 1320 Ordo Fransiskan (OFM) diangkat sebagai ordo yang secara resmi wajib melindungi semua tempat suci di Tanah Suci. Sejak itu OFM rajin mempopulerkan devosi Jalan Salib, lebih-lebih karena St. Fransiskus Asisi mengalami stigmata.
Para biarawan Fransiskan mulai menetapkan nama dan tempat perhentian pada Jalan Salib. Mereka biasa memulai kebaktian Jalan Salib di Bukit Golgota dan mengakhirinya di istana yang dulu ditempati oleh Pilatus. Jumlah perhentiannya agak banyak. Dulu ada perhentian di tempat Yesus dicambuk, Yesus dimahkotai duri, Yesus diperlihatkan kepada rakyat oleh Pilatus (Ecce Homo), dan lain-lain.

Sejak abad XVI rute Jalan Salib dibalik sehingga Gereja Makam Suci di Golgota menjadi perhentian yang terakhir. Pada abad XVIII (tahun 1731) Paus Klemens XII baru menetapkan jumlah dan lokasi perhentian Jalan Salib secara definitif.

Sampai sekarang devosi Jalan Salib menjadi salah satu kebaktian utama para peziarah di Tanah Suci. Kebaktian itu diadakan di jalan-jalan Yerusalem yang sangat ramai dari dulu hingga sekarang. Oleh karena itu, kebanyakan peziarah memilih untuk melakukan Jalan Salib ketika masih sangat pagi agar terhindar dari berbagai gangguan pada jam-jam ramai.


Ibadat Jalan Salib juga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat-tempat peziarahan katolik, misalnya Gua Maria atau Gereja. Jarak antar perhentian dimodifikasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat peziarahan. Tetapi yang terpenting dalam melakukan setiap ziarah dan/atau jalan salib adalah kesadaran bahwa hidup kita di dunia inipun adalah sebuah peziarahan, sebuah perjalanan menuju Tuhan, maka Tuhanlah seharusnya yang menjadi tujuan dari setiap kegiatan/karya dalam peziarahan ini, dalam kesadaran itu pula dibangun semangat untuk peduli pada sesama teman sepeziarahan di dunia ini

Selasa, 12 Februari 2013

Pesan Paus Benediktus XVI untuk Masa Prapaskah 2013

"Percaya dalam amal membangkitkan amal"
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16)


Saudara dan saudariku terkasih, Perayaan Prapaskah, dalam konteks Tahun Iman, menawarkan kita kesempatan berharga untuk merenungkan hubungan antara iman dan amal : antara percaya dalam Allah - Allah dari Yesus Kristus - dan amal, yang merupakan buah dari Roh Kudus dan yang menuntun kita di jalan pengabdian kepada Allah dan sesama.

1. Iman sebagai tanggapan terhadap kasih Allah
Dalam Ensiklik pertama saya, saya menawarkan beberapa pemikiran tentang hubungan erat antara keutamaan iman dan amal kasih secara teologis. Berangkat dari pernyataan tegas yang mendasar dari Santo Yohanes: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16), saya mengamati bahwa "menjadi Kristiani bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan luhur, tetapi perjumpaan dengan suatu peristiwa, seseorang, yang memberi kehidupan suatu cakrawala baru dan suatu arah yang pasti ... Karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita (bdk. 1 Yoh 4:10), kasih kini tidak lagi menjadi 'perintah' belaka; kasih adalah tanggapan terhadap karunia kasih yang dengannya Allah mendekat kepada kita" (Deus Caritas Est, 1). Iman ini merupakan ketaatan pribadi - yang melibatkan seluruh pancaindera kita – bagi pernyataan kasih Allah yang tanpa syarat dan "penuh gairah" bagi kita, sepenuhnya terungkap dalam Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Allah yang adalah Kasih melibatkan tidak hanya batin tapi juga akal budi: "Pengakuan akan Allah yang hidup adalah salah satu jalan menuju kasih, dan 'ya' dari kehendak kita terhadap kehendak-Nya menyatukan akal budi, kehendak dan perasaan kita dalam seluruh pelukan tindakan kasih. Tetapi proses ini selalu akhir yang terbuka; kasih tidak pernah 'selesai' dan lengkap"( Deus Caritas Est, 17). Oleh karena itu, untuk semua orang Kristiani, dan terutama untuk "pekerja amal", ada kebutuhan untuk iman, untuk "supaya perjumpaan dengan Allah di dalam Kristus yang membangkitkan kasih mereka dan membuka jiwa mereka bagi orang lain. Akibatnya, sehingga boleh dikatakan, kasih kepada sesama tidak akan lagi bagi mereka perintah yang dibebankan dari luar, melainkan suatu konsekuensi yang berasal dari iman mereka, iman yang menjadi aktif melalui kasih "(Deus Caritas Est, 31a). Orang-orang Kristiani adalah orang-orang yang telah ditaklukkan oleh kasih Kristus dan oleh karena itu, di bawah pengaruh kasih itu - "Caritas Christi urget nos" (2 Kor 5:14) - mereka amatlah terbuka untuk mengasihi sesama mereka dengan cara nyata (bdk. Deus Caritas Est, 33). Sikap ini muncul terutama dari kesadaran dikasihi, diampuni, dan bahkan dilayani oleh Tuhan, yang membungkuk untuk mencuci kaki para Rasul dan memberikan diri-Nya di kayu Salib untuk menarik umat manusia ke dalam kasih Allah.

Iman mengatakan kepada kita bahwa Allah telah memberikan Putra-Nya demi kita dan memberi kita kepastian kemenangan sehingga hal itu sungguh benar: Allah adalah kasih! ..... Iman, yang melihat kasih Allah dinyatakan dalam hati Yesus yang tertikam di kayu Salib, menimbulkan kasih. Kasih adalah cahaya -, dan pada akhirnya, satu-satunya cahaya - yang dapat selalu menerangi dunia yang meredup dan memberi kita kegigihan yang diperlukan untuk tetap hidup dan bekerja" (Deus Caritas Est, 39). Semua ini membantu kita untuk memahami bahwa tanda dasariah yang membedakan orang-orang Kristiani adalah justru "kasih yang didasarkan pada dan dibentuk oleh iman" (Deus Caritas Est, 7).

2. Amal sebagai kehidupan dalam iman
Seluruh kehidupan Kristiani adalah tanggapan terhadap kasih Allah. Tanggapan pertama justru adalah iman sebagai penerimaan, yang dipenuhi dengan takjub dan syukur, akan prakarsa ilahi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mendahului kita dan mengetengahkan kita. Dan "ya" dari iman menandai awal dari sebuah kisah persahabatan yang berseri-seri dengan Tuhan, yang memenuhi dan memberi makna penuh bagi seluruh hidup kita. Tapi itu tidak mencukupi bagi Allah karena kita hanya menerima kasih-Nya yang tanpa syarat. Tidak hanya membuat Ia mengasihi kita, tetapi Ia hendak menarik kita kepada diri-Nya sendiri, untuk mengubah kita sedemikian mendalamnya sehingga membawa kita untuk berkata bersama Santo Paulus : “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (bdk. Gal 2:20).

Ketika kita membuat ruang bagi kasih Allah, maka kita menjadi seperti Dia, berbagi dalam amal milik-Nya. Jika kita membuka diri terhadap kasih-Nya, kita memperbolehkan Dia untuk hidup dalam kita dan membawa kita untuk mengasihi bersama Dia, dalam Dia dan seperti Dia; hanya berlaku demikian iman kita menjadi benar-benar "bekerja oleh kasih" (Gal 5:6), hanya berlaku demudian Dia tinggal di dalam kita (bdk. 1 Yoh 4:12).

Iman adalah memahami kebenaran dan mematuhinya (bdk. 1 Tim 2:4); amal adalah "berjalan" dalam kebenaran (bdk. Ef 4:15). Melalui iman kita masuk ke dalam persahabatan dengan Tuhan, melalui amal persahabatan ini dihidupkan dan ditumbuhkembangkan (bdk. Yoh 15:14dst). Iman menjadikan kita merangkul perintah Tuhan dan Guru kita; amal memberi kita kebahagiaan mempraktekkannya (bdk. Yoh 13:13-17). Dalam iman kita diperanakkan sebagai anak-anak Allah (bdk. Yoh 1:12dst); amal menjadikan kita bertekun secara nyata dalam keputraan ilahi kita, menghasilkan buah Roh Kudus (bdk. Gal 5:22). Iman memampukan kita untuk mengenali karunia yang telah dipercayakan Allah yang baik dan murah hati kepada kita; amal membuat mereka berbuah (bdk. Mat 25:14-30).

3. Keterkaitan yang tak terpisahkan dari iman dan amal
Dalam terang di atas, jelaslah bahwa kita tidak pernah bisa memisahkan, apalagi dengan sendirinya mempertentangkan, iman dan amal. Kedua keutamaan teologis ini terkait erat, dan adalah menyesatkan untuk menempatkan perlawanan atau "dialektika" di antara mereka. Di satu sisi, akan terlalu sepihak untuk menempatkan penekanan kuat pada prioritas dan ketegasan iman serta merendahkan dan hampir-hampir meremehkan karya amal nyata, mengecilkan karya itu ke paham kemanusiaan yang samar-samar. Di sisi lain, meskipun, sama-sama tidak membantu untuk melebih-lebihkan keunggulan amal dan kegiatan yang dihasilkannya, seakan-akan karya bisa mengambil tempat iman. Bagi kehidupan rohani yang sehat, perlu untuk menghindari baik fideisme maupun aktivisme moral.

Kehidupan Kristiani mencakup secara terus-menerus pendakian gunung untuk berjumpa Allah dan kemudian turun kembali, memberikan kasih dan kekuatan yang diambil dari-Nya, agar supaya melayani saudara dan saudari kita dengan kasih Allah sendiri. Dalam Kitab Suci, kita melihat bagaimana semangat para Rasul untuk mewartakan Injil dan membangkitkan iman orang-orang terkait erat dengan kepedulian mereka yang bersifat amal untuk pelayanan kepada kaum miskin (bdk. Kis 6:1-4). Dalam Gereja, kontemplasi dan aksi, yang dilambangkan dalam beberapa cara oleh tokoh Injil, Maria dan Marta, harus saling berdampingan dan saling melengkapi (bdk. Luk 10:38-42). Hubungan dengan Allah harus selalu menjadi prioritas, dan setiap pembagian harta benda, dalam semangat Injil, harus berakar dalam iman (bdk. Audiensi Umum, 25 April 2012). Kadang-kadang kita cenderung, pada kenyataannya, mengecilkan istilah "amal" untuk solidaritas atau bantuan kemanusiaan belaka. Namun, penting diingat bahwa karya terbesar dari amal adalah evangelisasi, yang adalah "pemerintahan sabda". Tidak ada tindakan yang lebih bermanfaat - dan karena itu lebih beramal - terhadap salah seorang dari sesama daripada memecahkan roti sabda Allah, berbagi bersama Dia Kabar Baik akan Injil, memperkenalkan Dia kepada hubungan dengan Allah: evangelisasi adalah yang promosi tertinggi dan paling menyeluruh dari pribadi manusia. Sebagai hamba Allah Paus Paulus VI menulis dalam Ensiklik Populorum Progressio, pernyataan akan Kristus adalah penyumbang pertama dan utama bagi pembangunan (bdk. no. 16). Ini adalah kebenaran primordial kasih Allah bagi kita, yang hidup dan dinyatakan, yang membuka hidup kita untuk menerima kasih ini dan memungkinkan pengembangan menyeluruh dari kemanusiaan dan dari setiap orang (bdk. Caritas in Veritate, 8).

Pada dasarnya, segala sesuatu berasal dari Kasih dan cenderung menuju Kasih. Kasih Allah yang tanpa syarat dibuat kenal kepada kita melalui pewartaan Injil. Jika kita menyambutnya dengan iman, kita menerima kontak pertama dan sangat diperlukan dengan Yang Ilahi, mampu membuat kita "jatuh cinta dengan Kasih", dan kemudian kita tinggal di dalam Kasih ini, kita tumbuh di dalamnya dan kita dengan sukacita mengkomunikasikannya kepada orang lain.

Mengenai hubungan antara iman dan karya amal, ada bagian dalam Surat Efesus yang mungkin menyajikan catatan terbaik keterkaitan antara keduanya : "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (2:8-10). Dapat dilihat di sini bahwa prakarsa penebusan seluruhnya berasal dari Allah, dari kasih karunia-Nya, dari pengampunan-Nya yang diterima dalam iman; tetapi prakarsa ini, jauh dari pembatasan kebebasan kita dan tanggung jawab kita, sebenarnya adalah apa yang membuat mereka otentik dan mengarahkan mereka menuju karya amal. Ini terutama bukan hasil dari usaha manusia, yang di dalamnya mengandung kebanggaan, tetapi karya amal tersebut lahir dari iman dan karya amal itu mengalir dari kasih karunia yang diberikan Allah dalam kelimpahan. Iman tanpa perbuatan adalah seperti pohon tanpa buah: dua keutamaan saling memaknai. Masa Prapaskah mengundang kita, melalui praktek-praktek tradisional dari kehidupan Kristiani, memelihara iman kita dengan seksama dan memperbesar pendengaran akan sabda Allah serta dengan penerimaan sakramen-sakramen, dan pada saat yang sama bertumbuh dalam amal dan dalam kasih kepada Allah dan sesama, tidak sekedar melalui praktik puasa, pengampunan dosa dan derma.

4. Pengutamaan iman, keunggulan amal
Seperti setiap karunia Allah, iman dan amal memiliki asal mereka dalam tindakan Roh Kudus yang satu dan sama (bdk. 1 Kor 13), Roh dalam diri kita yang berseru "Abba, Bapa" (Gal 4:6), dan membuat kita berkata: "Yesus adalah Tuhan!" (1 Kor 12:3) dan "Maranatha!" (1 Kor 16:22, Why 22:20). Iman, sebagai karunia dan tanggapan, menjadikan kita mengetahui kebenaran Kristus sebagai Kasih yang menjelma dan disalibkan, sebagai ketaatan penuh dan sempurna pada kehendak dan rahmat ilahi yang tak terbatas terhadap sesama; iman tertanam dalam hati dan memikirkan keyakinan teguh bahwa hanya Kasih ini mampu menaklukkan kejahatan dan kematian. Iman mengajak kita untuk melihat ke masa depan dengan keutamaan harapan, dengan pengharapan yang pasti bahwa kemenangan kasih Kristus akan datang kepada penggenapannya. Untuk bagian ini, amal mengantar kita ke dalam kasih Allah yang terwujud dalam Kristus dan menggabungkan kita dalam cara yang bersifat pribadi dan nyata terhadap pemberian diri Yesus yang menyeluruh dan tanpa syarat kepada Bapa serta saudara dan saudari-Nya. Dengan memenuhi hati kita dengan kasih-Nya, Roh Kudus membuat kita mengambil bagian dalam pengabdian Yesus kepada Allah dan pengabdian persaudaraan bagi setiap orang (bdk. Rm 5:5).

Hubungan antara kedua keutamaan ini menyerupai antara dua sakramen dasariah Gereja: Baptis dan Ekaristi. Baptis (sacramentum fidei) mendahului Ekaristi (sacramentum caritatis), tetapi diarahkan kepadanya, Ekaristi menjadi kepenuhan perjalanan Kristiani. Dalam cara yang sama, iman mendahului amal, tetapi iman adalah sejati hanya jika dimahkotai oleh amal. Segala sesuatu dimulai dari penerimaan iman yang sederhana ("mengetahui bahwa manusia dikasihi oleh Allah"), tetapi harus sampai pada kebenaran amal ("mengetahui bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama"), yang tetap untuk selama-lamanya, sebagai pemenuhan semua keutamaan (bdk. 1 Kor 13:13).

Saudara dan saudari terkasih, dalam Masa Prapaskah ini, ketika kita mempersiapkan diri untuk merayakan peristiwa Salib dan Kebangkitan - di dalamnya kasih Allah menebus dunia dan menyorotkan cahayanya di atas sejarah - Saya mengungkapkan kehendak saya sehingga Anda semua dapat menghabiskan waktu berharga ini menyalakan kembali iman Anda dalam Yesus Kristus, agar supaya masuk bersama Dia ke dalam kasih dinamis bagi Bapa dan bagi setiap saudara dan saudari yang kita jumpai dalam kehidupan kita. Untuk maksud ini, saya memanjatkan doa saya kepada Allah, dan saya memohonkan berkat Tuhan atas setiap orang dan atas setiap komunitas!

Dari Vatikan, 15 Oktober 2012


BENEDIKTUS XVI

(diambil dari HIDUP)

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2013 Keuskupan Agung Makassar

"MENGHARGAI KERJA "

Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar: Salam sejahtera dalam Kristus Yesus Tuhan kita, yang “sama dengan kita, telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Hari Rabu Abu, yang menandai awal Masa Prapaskah, jatuh pada tanggal 13 Februari 2013 yang akan datang. 

Tahun ini kita sudah berada di tahun ke-2 lingkarang 5 tahunan (2012-2016). Dengan tema pokok penggarapan pastoral APP: “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Adapun sub-tema APP Nasional tahun 2013 ini ialah “ MENGHARGAI KERJA”. Memang untuk mewujudkan hidup sejahtera, manusia tidak dapat tidak harus bekerja. 

Bagaimana sesungguhnya ajaran Kitab Suci mengenai KERJA? Syahadat Gereja yang singkat (Syahadat Para Rasul) berbunyi: “ Aku percaya akan Allah… pencipta langit dan bumi”. Sedangkan Syahadat panjang (Syahadat Nikea-Konstantinopel) mengaku: “Aku percaya akan satu Allah… Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan”. Kitab Kejadian dimulai dengan kisah allah menciptakan langit dan bumi serta isinya (1:102:7). Setiap satu tahap tertentu penciptaan selesai, ditegaskan: Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (1:10.12.18.21.25.31). kemudian ditegaskan: “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu” (2:2). Tradisi Imam atau tradisi P (=Priester Codex) menggambarkan Allah bekerja melalui sabda-Nya (Kej. 1:1-2: 4a). sedangkan tradisi Yahwis, disingkat Y (Kej. 2:4b-3:24)menampilkan Allah berkarya dengan tangan-nya: Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah…” (Kej. 2:7). 

Bagaimanapun juga, Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah-lah mengadakan segala sesuatu dari tiada menjadi ada. Dialah Pencipta segala sesuatu. Sebagai Pencipta, dia bekerja melalui sabda dan tangan-Nya. Sedemikian itu, jelas Kitab Suci menampilkan Allah sebagai “Pekerja” atau “Karyawan” asal-mula dan utama. Tetapi jangan dilupakan Allah tetap bekerja sampai sekarang: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang ini, maka Aku pun bekerja juga”, sabda Yesus (Yoh. 5:17). Selanjutnya dikatakan: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya …; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Kalau salah satu ciri utama Allah ialah ‘Dia yang bekarya’, maka manusia sebagai gambaran-Nya juga tidak dapat lain dari ‘manusia yang bekerja’. Selanjutnya, sebagai gambar atau cermin Allah, maka semakin maju manusia itu seharusnya semakin dia menampakan keagungan dan kemuliaan Allah. Seperti ditegaskan Ireneus, “Gloria Dei, vivi homo” (“Manusia yang hidup adalah kemuliaan Allah”). Menurut pandangan Kitab Suci, aslinya tidak ada persaingan atau pertentangan antar Allah dan manusia, seakan-akan semakin maju manusia semakin Allah tidak dibutuhkan dan disingkirkan saja. Perintah untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya (Kej. 1:28), juga harus ditafsirkan dalam konteks ‘manusia sebagai gambar Allah’ itu. Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dalam keadaan baik. Maka sebagai gambar Allah, manusia tidak boleh menaklukkan bumi secara semena-mena, sehingga merusak tata ciptaan yang baik itu. Ini jelas dalam kisah taman Eden (Kej. 2:8-25): “Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkannya manusia yang dibentukknya itu” (2:8), “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (2:15). Jadi, manusia sebagai gambar Allah berkewajiban mengolah bumi bagai sebuah taman, dan bukan sebagai lahan tambang yangboleh dikuras demi kepentingan ekonomis belaka. 

Tetapi kemudian manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:1-24). Kisah kejatuhan manusia intinya ialah bahwa manusia tidak tunduk kepada Allah. Ia meninggalkan jatidirinya sebagai citra Allah. Ia ,elepaskan ketergantungannya pada Allah, dan mau menjadi Allah Sendiri. Manusia tertipu godaan ular: “Sekali-kali kamu tidak kamu tidak akan mati, tetapi … kamu akan menjadi seperti Allah” (3:4-5). Sebagai akibatnya, rencana asil penciptanya ditunggangbalikkan. Tidak terkecuali dalam hal ini soal KERJA. 

Kerja yang aslinya merupakan salah satu ciri hakiki manusia sebagai gambar Allah kini berubah menjadi hikiki manusia sebagai gambar Allah kini berubah menjadi hukuman: “Terkutuklah tana karena engkau; dengan susah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” (3:27); “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil” (3:19). Akibat dosa, maka KERJA yang semua merupakan aktualisasi jatidiri manusia sebagai gambar Allah, berubah menjadi beban berat untuk mempertahankan hidupnya. Kerja membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Kecuali itu, pekerjaan juga menjadi ajang eksplotasi manusia atas sesamanya. 

Namun Allah tidak pernah meninggalkan manusia sama sekali. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal … bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:16-17). Tetapi jalan yang dipilih Allah untuk menyelamatkan duni ini ialah fengan cara solider sepenuhnya dengan manusia, menuju misteri Paskah (Kebangkitan). Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia (lih Yoh. 1:1-18), turut merasakan kelemahan-kelemahan kita; Ia menjadi sama seperti kita dalam segalah hl, kecuali dalam hal dosa (Lih. Ibr. 4:15). Ia menjadi manusia pekerja, anak tukang kayu. Dan dengan cara itu, Sang Sabda yang menjelma itu memulihkan kembali nilai asli KERJA, mengangkatnya dan menyusikannya. Bagi-Nya taka da pekerjaan yang hina. Ia rela membasuh kaki murid-murid-Nya yang dalam tradisi Yahudi merupakanpekerjaan seorang hamba. Dan setelah itu, ia menegaskan: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15). Ia mengajarkan para murid: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mrk. 10:43; Mat 20:26; 23:11). Secara menyeluruh, Konsili Vatikan II merumuskan halnya dengan ringkas sebagai berikut: “Hendaklah umat kristiani bergembira, bahwa mereka mengikut teladan Kristus yang hidup bertukang, dan dapat menjalankan segala kegiatan duniawi, sambil memperpadukan sema usaha manusiawi, kerumahtanggaan, kejuruan, usaha di bidang ilmu pengetahuan maupun teknik dalam suatu sintesa yang hidup-hidup dengan nilai-nilai keagamaan, yang menjadi norma tertinggi untuk mengarahkan segala sesuatu kepada kemuliaan Allah” (GS.43). 

Pernyataan Konsili tersebuat menegaskan, bahwa dalam Kristus segala pekerjaan manusiawi, apapun jenisnya, mempunyai nilai luruh, sepanjang diarahkan kepada kemuliaan Allah. Dengan menempatkan KERJA dalam konteks kemuliaan 

Allah dalam Kristus, manusia kristiani kembali ke jatidiri aslinya sebagai citra Allah, Sang Pencipta, sang ‘Pekerja’ pertama dan utama. Kalau demikian kerja tak lagi membuat manusia terasing dari dirinya sendiri; kerja kembali menjadi aktualisasi atau pengejawantahan jatidiri aslinya sebagai gambar Sang Pencipta. 

Namu segera harus ditambahkan bahwa di dunia ini penebusan dalam Kristus belum selesai, masih dalam proses menuju pemenuhannya. Itulah misteri Paskah: Kehidupan – salib (penderitaan-kematian)- dan kebangkitan. Di dunia ini efek dosa tetap membayangi hidup manusia. Dalam Kristus, Sang Sabda yang menjelma dama mengambil jalan solider hingga akhir dengan manusia, juga mengalaminya. Tetapi dalam Kristus, salib atau penderitaan bukanlah semata-mata merupakan akibat dosa. Dalam Kristus salib pertama-tama adalah ungkapan ketaatan penuh kepada kehendak Allah, Bapa-Nya. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Jangan dilupakan inti dosa asal, dosa Adam, ialah melawan kehendak/perintah Allah. Di Taman Getsemani Yesus pun mengalami godaan yang sama: “Ya Abba, Ya Bapa, ambillah cawan ini daripada-Ku. Tetapi kemudian Dia menegaskan ketaat-Nya secara penuh: “Janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan secara penuh: Engkau kehendaki” (Mrk. 14:36). 

Selain merupakan ungkapan ketaatan penuh kepada kehendak Allah, salib Kristus juga merupakan ungkapan kasih-Nya tanpa batas kepada manusia. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Dan kasih sejati menuntut pengorbanan: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia kana menghasilkan buah yang banyak” (Yoh. 12:24). 

Dalam salib Kristus juga dipulihkan hubungan harmonis dengan seluruh alam semesta. Oleh Kristus, yang “adalah gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol. 1:15), Allah “memperdamaikan segala sesuatu deangan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surge, sesudah ia mengadakan perdamaian oleh darah salib Kristus “Kol. 1:20). 

Namun, misteri Paskah Tidak tutup dengan kematian Kristus. Misteri Paskah memuncak pada KEBANGKITAN. Dalam misteri Paskah Kristus, manusia yang pecaya dijadikan ciptaan baru, dipulihkan jatidiri aslinya sebagai gambar Allah. “Kristus telah mati untuk kita semua, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitan untuk mereka… . Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yanglama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:15-17). 

Demikianlah, dalam misteri Paskah Kristus, dipulihkan kembali keutuhab ciptaan, menjadi ciptaan baru. Dan dengan demikian ditegaskan lagi refrain kisah penciptaan: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Dipulihkan jatidiri asli manusia sebagai gambar atau citra Allah. Dalam identitas sebagi “Ciri Allah” inilah ditemukan nilai KERJA manusia. Sifat umat Allah ialah ‘Pekerja’ (Pencipta), yang membuat segala sesuatu dalam keadaaan baik. Dengan kerja manusia mencermintakan sifat utama Allah itu. Dengan demikian kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya bukanlah ancaman yang semakin maengasingkan Allah dari dunia manusia. Sebaliknya, semakin maju manusia seharusnya semakin ia mencerminkan keagungan dan kemulian Allah. Manusia bertugas mengolah bumi demi kesejahteraannya memalui kerja. Kerja manusia atas bumi tidak boleh semena-mena; ia harus mengolah bumi bagai sebuah taman (dimensi ekologis). Sang Pencipta memperuntukkan bumi bagi kesejahteraan semua orang sepanjang zaman. Maka pekerjaan setiap orang harus dihargai menurut prinsip keadilan dan cinta kasih. Dalam Kristus Yesus, gambar Allah yang sempurna (2 Kor. 4:4; Kol. 1:15; 3:10; Ibr. 1:3), setiap pekerjaan manusiawi itu terhormat, taka da yang hina. 

Selamat menjalankan Masa Prapaskah dalam ‘Tahun Iman’! Tuhan memberkati. 


Makassar, Penghujung Januari 2013 



+John Liku-Ada’ 
Uskup Agung Makassar 



PERATURAN PUASA DAN PANTANG


  1. Masa Prapaskah mulai pada HARI RABU ABU tanggal 13 Februari 2013 dan berjalan sampai Pesta Paskah tanggal 31 Maret 2013.
  2. Seluruh Masa Prapaskah adalah waktu bertapa. Karena itu diharapkan dari masing-masing agar selama Masa Prapaskah dengan kesadaran dan kerelaan melakukan pekerjaan amal dan tapa menurut pilihan masing-masing, selain yang diwajibkan di bawa ini.
  3. Secara khusus diminta perhatian untuk AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP), yang dimaksudkan mengumpulkan dana, yang diperoleh dari usaha-usaha penghematan/berpantang. Dana itu diperuntukkan karya-karya sosial, termasuk usaha-usaha pengembangan Komunitas Basis dan pemerdayaan lingkungan. Sesungguhnya menggembirakan melihat animo umat untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan APP semakin meningkat. Kecuali itu dana hasil APP tahun yang lalu di Keuskupan kita naik 34% dibandingkan dengan tahun sebelumnya! Itu berarti kesadaran belarasa umat untuk sesamanya, yaitu saudara-saudari Kristus yang kecil, semakin besar. Sambil mengucapkan terima kasih atas semua itu, kita berharap APP tahun ini akan lebih meningkat lagi.
  4. Di samping itu selama Masa Prapaskah kita wajib berpuasa dan berpantang menurut peraturan: berikut:

a.    Pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung ada kewajiban berpuasa dan berpantang.
b.    Pada hari-hari Jumat Biasa dalam Masa Prapaskah hanya ada kewajiban berpantang.
c.    Berpuasa bearti mengurangi makan, sehingga hanya satu kali saja boleh makan kenyang dalam sehari sehari.  Kewajiban untuk berpuasa ini berlaku bagi mereka yang berumur antara 18 sampai 60 tahun.
d.    Berpantang berarti mengurangi makan mewah sesuai dengan penilaian daerah masing-masing, misalnya berpantang dari daging. Secara perorang dapat pula menentukan wujud berpantang menurut keadaan masing-masing, misalnya berpantang dari berjajan makanan khusus, dari minuman keras, dari rokok, dll. Kewajiban berpantang berlaku bagi mereka berusia 14 tahun ke atas.

  1. 5.    Mereka yang mendapat makanan dari dapur umum, atau yang hidup di tengah keluarga yang seluruhnya belum Katolik, bebas dari wajib pantang, tetapi bebas dari wajib puasa.
  2. 6. Kewajiban Paskah, yaitu kewajiban untuk menyambut komuni (dan kalau perlu sebelumnya mengaku dosa) dapat dipenuhi dari Hari Rabu Abu tanggal 13 Februari 2013 sampai Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 26 Mei 2013.


Jumat, 08 Februari 2013

Pantang dan Puasa


Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2013 dimulai pada hari Rabu  Abu, 13 Februari sampai dengan hari Sabtu, 31 Maret 2013.Jadi sebagai orang Katolik wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat  Agung. Jadi, selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dua hari saja. Yang wajib berpuasa adalah semua orang beriman yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai awal enam puluh (60) tahun. 

PUASA  berarti: 
makan kenyang hanya satu kali dalam sehari.  Untuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih 
• Kenyang, tak kenyang, tak kenyang, atau 
• Tak kenyang, kenyang, tak kenyang, atau 
• Tak kenyang, tak kenyang, kenyang 
Orang Katolik wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci. Jadi hanya 7 hari selama masa PraPaskah.  Yang wajib berpantang adalah semua orang katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas. 
PANTANG berarti 
• Pantang daging, Pantang rokok, atau Pantang garam, Pantang gula dan semua manisan seperti permen, Pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, film. 
Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang,  sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun,  umat beriman,  baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok,  dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa. 
Dalam rangka masa tobat, maka pelaksanaan perkawinan juga disesuaikan. Perkawinan tidak boleh dirayakan secara meriah. 
ARTI PUASA dan PANTANG
PUASA adalah tindakan sukarela Tidak makan atau tidak minum Seluruhnya, yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apapun Atau sebagian, yang berarti mengurangi makan atau minum.
 Secara kejiwaan, Berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa.
Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan. Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya.
Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau.
Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.
Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan doa dan derma, yang terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan. 
Semangat yang sama berlaku pula untuk laku PANTANG. 
Yang bukan semangat puasa dan pantang Katolik adalah:

Berpuasa dan berpantang sekedar untuk kesehatan: diet, mengurangi makan dan minum atau makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu.
Berpuasa dan berpantang untuk memperoleh kesaktian baik itu tubuh maupun rohani.
SABDA TPantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus. Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.(KHK 1251-1252)
 dan berpantang yang lebih berat. Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa.





Hidup Ini Begitu Berharga



Pernahkah Anda merasa terpuruk dalam hidup ini, karena Anda merasa hidup Anda kurang bernilai? Apa yang Anda lakukan? Anda menjadi depresi atau Anda bangkit lagi?

Anda bisa bayangkan, kalau sebuah kursi goyang yang harganya US$3,000 bisa laku US$453,000? Atau sebuah mobil bekas yang ditaksir bernilai US$18,000 laku dilelang seharga US$79,500? Atau gelas biasa yang ditaksir bernilai US$500 ternyata bisa laku dengan harga US$38,000? Ada pula sebuah kalung yang bernilai US$700 bisa laku dengan US$21,1500.

Bukankah ini suatu kegilaan? Tetapi semua kegilaan itu bisa dimaklumi, karena barang-barang yang dilelang itu milik Jacqueline Kennedy Onassis. Yang membuat barang-barang tersebut laku dengan harga yang sangat mahal tentu saja bukan karena barang itu sendiri, tetapi karena siapa yang memilikinya.

Jacqueline Kennedy Onassis adalah mantan ibu negara negeri adidaya Amerika Serikat. Setelah suaminya, John F Kennedy, meninggal, ia menikah lagi dengan Onassis. Onassis adalah salah seorang terkaya di dunia. Karena itu, apa yang dimiliki atau pernah digunakan oleh Jacqueline tentu memiliki nilai yang begitu tinggi. Mengapa? Karena barang-barang tersebut digunakan pada momen-momen yang istimewa pula.

Sahabat, bagaimana dengan hidup kita? Sama seperti barang-barang lelangan milik Jacqueline Kennedy Onassis tersebut, hidup kita sungguh berharga. Bahkan semestinya jauh lebih berharga daripada barang-barang yang fana tersebut. Hal yang membuat hidup ini berharga adalah Tuhan yang memiliki kita. Tuhan yang empunya kehidupan ini.
Tuhan yang empunya kehidupan ini tidak hanya menciptakan kita. Tetapi Tuhan juga memelihara hidup kita. Tuhan menuntun hidup kita menuju keselamatan. Namun sering manusia kurang menyadari hal ini. Dosa dan kesalahan yang diperbuat manusia menyebabkan hidupnya kurang berharga. Hidupnya tidak memiliki daya yang kuat untuk melintasi perjalanan hidup ini.

Mengapa dosa dan kesalahan itu menjadikan hidup manusia kurang berharga? Karena manusia menyombongkan dirinya. Manusia merasa dirinya kuat, sehingga tidak perlu bantuan Tuhan. Manusia mau berjuang sendiri. Manusia tidak mau mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Ada dua hal yang perlu kita buat. Pertama, jangan pernah sombong, sebab yang membuat kita bernilai dan berharga bukan karena diri kita, tapi Tuhan. Orang yang sombong biasanya berada di ambang kehancuran. Orang yang sombong tidak akan bertahan dalam perjuangan hidupnya.

Kedua, ketika kita depresi karena merasa tidak berharga, ingatlah bahwa nilai kita ditentukan oleh Tuhan. Tuhan mengangkat kembali kita saat kita jatuh. Tuhan tidak meninggalkan kita berjuang sendirian dalam hidup ini. Tuhan punya cara sendiri untuk menyelamatkan kita. Karena itu, kita mesti menyerahkan hidup kita ke dalam kuasaNya. Dengan demikian, hidup kita ini tetap berharga di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ

Seberapa besar kadar cintaku?


HARI MINGGU BIASA IV
Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari : (I Kor 13:4-13)
Bacaan kedua hari ini yang dikutip dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus merupakan salah satu renungan yang sangat indah mengenai kasih yang dapat kita temukan di dalam Kitab Suci. 
Bila ingin memahami apa itu cinta, bacalah teks ini berulang-ulang. Kita sering sekali di dalam Gereja berbicara tentang kasih/cinta itu, namun semua ungkapan kita tidak pernah memadai, karena kasih itu tampaknya adalah segalanya. Bahkan Allah pun disepadankan dengan kasih itu sendiri. Maka saat ini saya ingin mengajak kita untuk membaca kutipan ini sebagai bahan introspeksi diri akan praktek kasih yang kita lakukan. 

Daftar untuk mengukur kadar kasih
Bagaimana mengukur kadar kasih anda? Berikut ini sebuah latihan berdasarkan bacaan tadi. 
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13:4-7)

Kini mari kita baca kutipan itu lagi dengan mengganti kata kasih dengan “Yesus”. Teks itu menjadi semakin indah, dan kita dapat menyetujui setiap ucapan kita dengan membaca teks itu. Setelah itu kita dapat membaca teks ini dengan cara lain lagi. Gantilah kata “kasih” dengan nama anda dan kata “ia” dengan kata ganti “saya”. Apakah anda tetap dapat menyetujui dan menerima setiap ucapan anda? Berapa nilai yang anda berikan kepada diri anda sendiri, kalau kita mengambil jenjang nilai itu antara 1 hingga 10? Itu akan menunjukkan kadar kasih anda, seberapa anda sungguh orang yang mampu mencintai. 

Pekerjaan Rumah tentang Kasih
(Diterjemahkan dari A Second Helping of Chicken Soup for the Soul, Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, 46-48.)
Seorang guru pedagogi suatu hari pada akhir kuliah memberikan tugas kepada para mahasiswanya, yang semuanya terdiri dari guru-guru agama yang masih muda. Masing-masing mahasiswa harus mendatangi seseorang yang dicintai untuk mengatakan bahwa mereka mencintainya. Hal itu harus dilaporkan pada pertemuan berikut. Orang itu haruslah orang yang belum pernah mendapatkan ungkapan itu dari mereka, atau sekurang-kurangnya sudah lama tidak mendapatkan ungkapan itu dari mereka. Pada kuliah berikutnya seorang dari antara mahasiswa berdiri dan mengatakan:  “Minggu lalu saya sungguh marah kepada Bapak, ketika Bapak memberikan tugas ini kepada kami. Saya pikir, Bapak ini siapa, sehingga menyuruh kami untuk melakukan hal yang sangat pribadi itu?” Tetapi ketika saya sedang dalam perjalanan pulang, hati kecilku mulai berbicara kepada saya. Ketika itu saya telah menemukan orang yang kepadanya saya harus ungkapkan “saya mencintaimu”. 
Lima tahun yang lalu, bapakku dan saya terlibat di dalam perselisihan yang tidak pernah dapat kami selesaikan. Kami telah menghindari perjumpaan, kecuali untuk saat-saat yang tidak dapat dihindari. Maka ketika saya tiba di rumah minggu lalu, saya memberanikan diriku untuk mengatakan kepada ayahku bahwa saya mencintainya. Sangat sulit untuk melakukannya, seakan saya harus menjunjung sebuah beban yang berat. Namun ketika saya menceriterakan hal itu kepada istri, ia langsung melompat dari tempat tidur dan memeluk saya. Untuk pertama kalinya di dalam hidup pekawinan kami, kami berdua menangis. Kami kemudian duduk berceritera sambil minum teh sampai tengah malam. 
Keesokan harinya saya bangun lebih awal daripada biasanya dengan segar, seakan saya telah tidur lelap sepanjang malam. Saya ke sekolah dan mengajar lebih bersemangat daripada yang biasanya. Pada jam 9 saya menelpon ayah saya dan mengatakan kepadanya bahwa saya akan datang setelah pulang sekolah untuk berbicara dengan dia. Jam 17.30 saya tiba di rumah, dan ketika ayahku membuka pintu, saya tidak membuang waktu lagi. Saya melangkah ke dalam rumah dan memeluknya seraya berkata “Ayah, saya datang hanya untuk mengatakan bahwa saya mencintaimu.” Ketika itu ia langsung tampak berubah. Ia menangis dan balas memeluk saya sambil berkata “Saya juga mencintaimu anakku, tetapi saya tidak pernah mampu untuk mengatakannya”. Ibuku ketika itu mendekat dengan airmata berlinang. Saya tidak lama berada di sana, tetapi saya belum pernah merasakan suasana seperti itu sepanjang hidup saya. 
Dua hari setelah kunjunganku itu, barulah aku tahu bahwa ayahku selama ini menderita masalah jantung berat. Ia mendapatkan serangan jantung dan sampai kini masih berbaring tidak sadarkan diri di RS. Saya tidak tahu apakah ia masih dapat sembuh. Yang saya mau katakan kepada kalian semua di dalam ruangan ini adalah: janganlah menunggu untuk melakukan hal yang harus anda lakukan. Seandainya saya menunggu, saya mungkin tidak akan pernah lagi mendapatkan kesempatan untuk melakukan apa yang telah saya lakukan kala itu.”
Demikianlah saudara-saudariku seiman, pekerjaan rumah untuk minggu ini, pergilah dan katakanlah kepada seseorang bahwa anda mencintainya sebelum hari minggu berikut. Dan orang itu haruslah orang yang sungguh anda cintai, tetapi kepadanya anda belum pernah mengatakan kata-kata itu sebelumnya, atau sekurangnya sudah lama sekali anda tidak lagi mengatakannya kepadanya. Suatu hari anda mungkin akan kembali dan menceriterakan suatu pengalaman akan cinta yang luar biasa. Semoga!

Kamis, 07 Februari 2013

Tuhan Bekerja dalam Peristiwa-peristiwa Hidup Kita


Bagaimana sikap Anda ketika berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang biasa dalam hidup Anda? Anda merasa bosan, karena hidup ini seolah-olah datar saja? Atau Anda mensyukurinya, karena Tuhan tetap bekerja dalam peristiwa-peristiwa biasa itu?
Suatu hati seorang ibu tua mendatangi saya. Berulang kali ia mengucapkan terima kasih atas doa saya bagi cucunya yang sakit. Beberapa hari sebelumnya saya mendoakan cucunya yang terbaring lemah di rumahnya. Cucunya itu sulit menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Entah penyakit apa yang dideritanya, saya tidak begitu tahu pasti.
Saya sendiri merasa bahwa doa saya yang sederhana itu tidak punya pengaruh apa-apa. Apalagi doa saya itu menimbulkan mukjizat yang besar. Karena itu, saya tidak terlalu menggubris nenek itu. Tetapi nenek itu ngotot. Ia mengatakan bahwa berkat doa saya itu, sang cucu kini sudah bisa duduk. Ia juga sudah bisa mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya.
Saya tidak percaya akan hal itu. Saya tersenyum sinis mendengar cerita nenek itu. Melihat saya tidak begitu menanggapi kata-katanya, nenek itu sewot. Ia marah terhadap saya. Ia mengatakan bahwa saya orang yang tidak mau percaya akan kebaikan Tuhan.
Ia berkata, “Bukankah Tuhan telah begitu baik kepada cucu saya melalui doa-doa romo? Mengapa romo tidak mau percaya? Saya harap, kali ini romo mau percaya akan kata-kata saya.”
Saya tetap skeptis terhadap kata-katanya. Karena itu, sore harinya saya mendatangi rumahnya. Benar! Saya menyaksikan sendiri cucunya bisa duduk dan makan. Lantas begitu melihat saya masuk ke dalam rumah, ia pun tersenyum lebar menyambut kehadiran saya. Saya membalas senyumnya untuk memberikan semangat hidup kepadanya.
Sahabat, banyak orang ingin melihat hal-hal ajaib terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang kecil disepelekan. Tidak digubris. Seolah-olah hal-hal kecil itu tidak punya pengaruh sama sekali dalam kehidupan ini. Akibatnya, banyak orang cenderung mencari dan menemukan hal-hal spektakuler dalam hidup ini.
Kisah pengalaman saya di atas mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan pun bekerja melalui hal-hal yang tampak senderhana. Tuhan masuk ke dalam hidup manusia melalui peristiwa-peristiwa hidup kita yang biasa-biasa. Sebuah doa yang sederhana bisa menjadi cara Tuhan hadir dalam kehidupan kita. Ucapan syukur kita yang kita anggap kurang berarti menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk mengalirkan rahmatNya bagi hidup kita.
Kita ambil contoh udara yang kita hirup setiap hari. Sering kita tidak peduli akan pentingnya udara bagi kelangsungan hidup kita. Apalagi udara itu tidak bisa kita lihat atau kita pegang. Karena itu, kita sering merasa cuek saja terhadap kehadiran udara. Apalagi tanpa kita pikirkan atau usahakan pun udara akan ada terus-menerus selama dunia ini masih ada.
Tetapi kalau kita sadar sungguh-sungguh kehadiran udara itu, kita mesti bersyukur atas kebaikan Tuhan. Dengan udara yang tidak bisa dilihat itu, kita boleh mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Kita bisa menjalani hidup ini dengan baik dan normal. Bukankah ini suatu mukjizat yang datang dari Tuhan?
Karena itu, mari kita hargai pemberian Tuhan bagi hidup kita, seberapa kecil pun pemberian itu. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan. Seorang bijaksana berkata, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN. Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi” (Rat 3:22-23). Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ
Sumber: Inspirasipagi.com

KETIKA TUHAN BERKATA "TIDAK"


Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku,
Tuhan berkata, “Tidak, bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakMu yang cacat.
Tuhan berkata, “Tidak, jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, “Tidak, kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, “Tidak, Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri.”

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, “Tidak, penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaKu.”

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, “Tidak, Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

Ya Tuhan bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata, “Ahhhh, akhirnya kau mengerti!”

Kadang kala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sedangkan orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan-

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakan dan kegagalan - orang lain dengan mudah berganti pasangan-

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta,Tuhan tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang. Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.

TANDA SALIB KECIL DI DAHI , MULUT DAN DADA PADA SAAT BACAAN INJIL


PERTANYAAN UMAT :
”Pada waktu menjelang bacaan Injil, umat menjawab Imam: ’Terpujilah Kristus’…sambil membuat tanda salib kecil di dahi, di mulut dan di dada.  Apa makna simbolis gerakan ini dan apa bedanya dengan tanda salib yang biasa kita lakukan?? Ada yang bisa membantu menjelaskan?”"Kiranya ada dua bagian yang ‘berbeda’..(atau mau dikatakan agak ‘terpisah’) antara mengucapkan:”Dimuliakanlah Tuhan” dan gerakan simbolis membuat tiga tanda salib kecil di dahi, di mulut dan di dada. 
Pada hematnya, ucapan ‘dimuliakanlah Tuhan adalah jawaban/tanggapan umat atas seruan Imam: “Inilah Injil (suci) Yesus Kristus menurut….” Lalu umat menanggapinya dengan sadar dengan mengucapkan “dimuliakanlah Tuhan”. Jadi seruan umat itu bukan mengiringi gerakan tanda salib! Inilah saat kesadaran penuh kita diarahkan pada Tuhan yang telah memberikan WahyuNya melalui sabda Kristus yang tertuang dalam kabar baik/Injil yang dibacakan. 
Kesadaran ini kiranya disertai pula rasa syukur dan kesiapan pikiran, hati, dan mulut kita untuk merangkum sabda suci yang akan diterima dengan membuka diri sepenuhnya.

PENCERAHAN DARI PASTOR Martin Nule:
Ketika orang menandai dirinya dengan tanda salib di dahi, mulut dan hati ketika bacaan Injil, orang menyebut kalimat “Di muliakanlah Tuhan” bukan terpujilah Kristus sesuai dengan TPE yang baru. Maksudnya adalah Firman itu adalah Sabda Tuhan, maka harus diterima dengan pikiran yang jernih (sucikanlah pikiranku), diwartakan dengan kata-kata yang sesuai dengan keinginan Tuhan (bukan asal omong) dan disimpan serta dihayati benar dalam hati sesuai kehendak Tuhan (bukan buat sesuka hati).

PENCERAHAN DARI Mas Roms :
Dalam Misa, tanda Salib “hanya” dibuat 3 kali: Pembuka dan Penutup, serta saat Liturgi Sabda (sebelum Injil). Tiga tanda salib yang kita buat lebih tepatnya dibuat setelah menjawab “Dimuliakanlah Tuhan.” Imam saat itu membuat tanda salib pada Buku Injil (Evangelarium/Lectionarium) yang bermakna bahwa “Dalam Injil ini Salib Kristus diwartakan.”
Tiga. tanda salib yang kita buat bermakna: [1] Supaya pewartaan Injil suci menyucikan pikiran, mulut/perkataan, dan hati kita. [2] Suatu doa: Semoga Tuhan membuka pikiran saya untuk menangkap warta injil; Semoga Tuhan menyucikan mulut saya untuk mewartakan Injil; dan, semoga Tuhan membuka hati saya untuk menghayati pesan Injil.
Kebiasan ini sudah lama ada dalam Gereja Katolik. Pada Abad XII, seorang teolog memandang hal itu sebagai nasihat untuk bersaksi akan Sabda Allah dengan gagah berani, tanpa menyembunyikan wajah kita, untuk mengakui Injil ini dengan mulut dan memeliharanya dengan setia di dalam hati kita.

PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik
Kiranya ada dua bagian yang ‘berbeda’..(atau mau dikataOleh karena itu, sesudah mengucapkan “dimuliakanlah Tuhan” kemudian langsung DIIKUTI/DISUSUL dengan gerakan membuat tanda salib kecil di dahi, di mulut, dan di dada. Masalahnya, kedua gerakan ini sering menjadi hal yang ‘automatis’ dalam sikap liturgis kita sehingga tanpa sadar menggabungkannya; lalu seakan gerakan tanda salib (materia) itu dibarengi dengan ucapan ‘dimuliakanlah Tuhan (forma). Ini sepertinya agak kurang tepat, selain-kalau anda jeli memperhatikan-juga bisa bertabrakan. Kalau serempak mengucapkan kata ‘dimuliakanlah Tuhan’ sambil membuat tanda salib, sering2 mulutnya lalu terganggu pas membuat tanda salib di mulut (kecuali yang bibirnya pake lipstik tebal lalu gerakannya tidak menyentuh bibir karena takut luntur lipstiknya he he..)
Maka, sepantasnya ucapan ‘dimuliakanlah Tuhan’ itu merupakan ucapan tanggapan atas seruan Imam (ditujukan pada Imam yang berseru memperkenalkan Injil yang akan dibaca) dan bukan mengiringi gerakan membuat tiga tanda salib. Bukankah kurang sopan kalau ada orang memperkenalkan sesuatu yang penting, kita malah sibuk dengan aktivitas sendiri (membuat tanda salib)?? Jadi setelah kita menjawab seruan Imam, barulah berikutnya membuat tanda salib di dahi, mulut, dan dada sambil hening. Pada saat itu baik membangun kesadaran seperti kebanyakan teman2 di atas menjelaskan.
Intinya, karena ini di awal/sebelum Injil dibacakan, maka kesadaran yang dibangun adalah memohon kepada Tuhan untuk membuka dan menerangi pikiranku dengan terang Roh Kudus (tanda salib di dahi); lalu juga menjadikan mulutku pantas untuk mewartakan Sabda suci dan hanya akan mewartakan/mengucapkan yang baik2 saja seturut Sabda Suci (tanda salib di mulut); dan semoga Sabda itu sungguh meresap dan menjadi sumber kekuatan di dalam hati (tanda salib di dada).
Jangan khawatir akan menambah waktu lebih panjang saat melakukan dua hal ini berurutan/tidak berbarengan sekaligus. Mengucapkan kata ‘dimuliakanlah Tuhan’ lalu berikutnya membuat tanda salib, tidak akan menghabiskan waktu lebih dari lima detik…Thus sekalian itu memberi kesempatan cukup bagi Imam/Diakon untuk mempersiapkan diri tenang sebelum mulai membaca Injil suci. Thanks…

Sumber:imankatolik.com

Santo Hieronimus Emilianus, Pengaku Iman


Hieronimus Emilianus dikenal sebagai seorang panglima perang di Kastelnuovo. Ketika Kastelnuovo jatuh ke tangan musuh, Hieronimus ditangkap dan dipenjarakan di dalam sebuah sel bawah tanah yang dingin dan kotor.

Kondisi tempat itu sangat menyiksa. Namun justru di dalam sel itulah Hieronimus menemukan suatu cahaya kehidupan yang baru yang mendekatkan dia kepada Allah. Kesulitan dan kesengsaraan yang sedemikian hebat di dalam sel itu membawa dia kepada suatu doa yang tulus kepada Bunda Maria: Bunda Maria, lindungilah aku anakmu! Aku berjanji akan memperbaiki hidupku dan menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu. Hieronimus bertobat. 
Doa singkat yang tulus itu terkabulkan. Tak lama kemudian ia dapat meloloskan diri dari penjara itu dan melarikan diri. Tatkala kedamaian telah kembali meliputi seluruh kota, Hieronimus diangkat sebagai Wali kota Kastelnuovo pada tahun 1511. Tujuh tahun kemudian ia ditabhiskan menjadi imam.

Sesuai dengan janjinya kepada Bunda Maria ketika berada di penjara, Hieronimus membaktikan seluruh hidupnya kepada kepentingan Gereja dan usaha-usaha karitatif seperti memelihara anak-anak yatim piatu, menampung anak-anak gelandangan dan lain-lain. Dari Venesia, ia pergi ke Padua dan Verona. Selanjutnya ia menjelajahi seluruh Italia Utara untuk mendirikan panti-panti asuhan bagi anak-anak miskin dan terlantar. 

Anak-anak itu diberi pendidikan yang baik sesuai dengan bakat-bakatnya. Ada yang menempuh pendidikan jurusan teknik, dan adapula yang memasuki sekolah umum. Dalam melaksanakan karya besarnya itu, Hieronimus dibantu oleh empat orang pemuda. Bersama mereka, Hieronimus mulai membentuk tarekatnya, yang disebut Tarekat Imam Imam Regulir dari Somaska. Spiritualisme dan aturan-aturan khusus diciptakan agar ada suatu ciri khas bagi tarekatnya itu. Ia mendirikan kolese kolese dan sebuah seminari Menengah untuk mendidik calon-calon imam, Tuhan senantiasa memberkati karya Hieronimus dengan berkat yang melimpah. Hieronimus meninggal dengan tenang pada tahun 1537.