Cari Blog Ini

Jumat, 27 September 2013

Dihukum tanpa bersalah

RD. Paulus Tongli

Hari Minggu Biasa ke XXVI
Inspirasi Bacaan dari : Lukas 16: 19-31

Bayangkanlah kisah ini. Seseorang meninggal dan tiba di hadapan kursi pengadilan Allah. Hakim Ilahi membuka buku kehidupan dan tidak menemukan nama orang itu di dalamnya. Maka ia memaklumkan kepada orang itu bahwa tempatnya ada di neraka. Orang itu keberatan, “Tetapi apa yang sudah saya lakukan? Saya tidak melakukan sesuatu!” “Persis itu sebabnya”, jawab Allah, “itulah sebabnya engkau harus ke neraka.” Orang itu bisa seperti orang kaya dalam perumpamaan hari ini. 

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lasarus telah menimbulkan pertanyaan mengapa orang kaya itu harus masuk neraka. Tidak diceriterakan bahwa ia mendapatkan kekayaannya dengan cara yang jahat. Juga tidak diceriterakan bahwa ia penyebab kemiskinan dan penderitaan Lasarus. Tidak diceriterakan bahwa ia telah melakukan kejahatan. Yang diungkapkan adalah bahwa Lasarus mengemis kepadanya dan ia menolak untuk membantu Lasarus. Semua yang kita dapat baca adalah bahwa orang kaya itu berpakaian mewah dan makan makanan yang mewah sebagaimana yang juga orang-orang sukses lainnya lakukan. Kalau begitu mengapa ia harus masuk neraka? 

Persoalan mengapa orang itu harus masuk neraka berkaitan erat dengan persoalan paham kita tentang dosa. Kita kadang berpikir bahwa kita hanya berdosa dengan pikiran, perkataan dan perbuatan. Kita melupakan hal yang keempat dan merupakan cara yang sangat sering orang berdosa, yakni dengan kelalaian. Di dalam doa “Saya mengaku” kita mengucapkan kata-kata ini: “Saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian”. Namun betapa sering kita melupakan dosa kelalaian. Perumpamaan kita hari ini mengingatkan kita bahwa dosa kelalaian dapat menghantar seseorang ke neraka. Inilah yang terjadi kepada orang kaya itu. 

Lasarus, orang miskin itu, berbaring di depan pintu. Dan orang kaya itu sama sekali tidak peduli. “Apa yang terjadi kepada Lasarus yang berbaring dekat pintu masuk rumahku bukanlah urusanku. Itulah yang selalu dibuatnya, bahkan saya akan senang sekali kalau ia tidak di situ lagi” demikian mungkin yang dipikirkannya. “Saya mengurus urusanku sendiri dan orang lain harus mengurus urusannya sendiri.” Kemudian orang kaya itu mungkin menelpon polisi untuk melaporkan bahwa ada orang asing yang berbaring di depan rumahnya. Sementara itu anjing-anjing datang dan menjilat borok Lasarus. Dan orang miskin itu meninggal. Pekerja-pekerja sosial datang mengambil jenasahnya dan menguburkannya di pekuburan orang-orang yang tidak dikenal. Orang kaya itu kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya dan kemudian melanjutkan meminum kopi. Tentu saja ia tidak melakukan hal melawan Lasarus. Tetapi ia lalai untuk melakukan kebaikan. Ia lalai untuk mengulurkan tangan menjangkau orang-orang yang berkekurangan dengan berkat yang ada padanya. Dosanya adalah kelalaian, dan untuk itu ia harus menderita di neraka. 

Masalah lain yang kita hadapi di sini adalah mengapa Lasarus masuk surga? Satu hal yang tidak terungkap di sini adalah bahwa dia adalah orang yang sangat mengandalkan Allah atau ia telah melakukan hal yang baik. Namun memperhatikan nama yang digunakan, hal itu sangatlah berarti. Di dalam kitab suci, nama sangatlah penting karena nama seringkali mengandung kepribadian dan sifat-sifat dasar seseorang. Di dalam perumpamaan-perumpamaan yang digunakan Yesus, di sinilah satu-satunya kesempatan Yesus mengungkapkan karakter seseorang melalui nama. Maka nama Lasarus di sini mempunyai peranan penting untuk memahami perumpamaan ini. 

Nama “Lasarus” adalah bahasa Yunani dari kata Ibrani “Eleasar” yang berarti “Tuhanlah pertolonganku”. Lasarus karena itu tidak sekedar orang miskin, tetapi seorang miskin yang percaya kepada Allah. Mengapa ia duduk di pangkuan Abraham di dalam surga, adalah karena iman dan kepercayaannya kepada Allah bukan hanya karena dia miskin. Karena mengabaikan arti nama Lasarus di dalam mengartikan perumpamaan ini, banyak orang yang menganggap bahwa akan ada perubahan otomatis di dalam hidup yang akan datang: orang kaya akan menjadi orang miskin dan sebaliknya orang miskin akan menjadi kaya. Tetapi bukan inilah inti dari perumpamaan ini. Orang kaya yang menggunakan kekayaannya untuk melayani Allah di dalam sesamanya akan tetap terberkati di dalam hidup yang akan datang. Orang miskin yang menghabiskan seluruh hidupnya di dalam penderitaan dan menolak untuk percaya dan tidak mengandalkan Allah seperti Lasarus tentu akan tetap menderita di dalam hidup yang akan datang. 

Pesan dari perumpamaan ini adalah: jika anda merasa seperti Lasarus saat ini, menderita karena penyakit atau kemiskinan, dilupakan oleh orang lain dan oleh mereka yang menikmati banyak anugerah Tuhan di dalam hidup ini, tetaplah percaya kepada dan mengandalkan Allah, karena yakin bahwa jiwa anda akan diselamatkan di dunia akhirat nanti. Jika anda melihat diri anda sebagai salah seorang yang banyak menikmati berkat Allah di dalam hidup ini, bukalah pintu anda dan lihatlah, mungkin ada seorang Lasarus terbaring di depan pintumu yang memtutuhkan uluran tanganmu, tetapi selama ini belum anda perhatikan. 

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria

Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan Ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.

Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)

Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen, dan terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian jugaa, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. 

Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.
Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman.

Pesta Para Malaekat Pelindung

Gereja percaya bahwa Tuhan  Allah memberikan kepada setiap orang beriman seorang malaekat pelindung. Kepercayaan akan perlindungan malaekat sebagai utusan Allah sudah ada semenjak Perjanjian lama. Bacaan pertama dalam Misa Kudus hari ini menunjukkan bahwa Tuhan memberikan malaekatNya sebagai pelindung dan penasehat bangsa Yahudi: "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaekat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. . . "(Kel 23:22 dst). Bangsa Yahudi harus selalu mendengarkan dia agar bisa selamat. Dalam Injil, Yesus mengatakan: "Ingatlah, janganlah menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaekat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapakKu yang di sorga" (Mat 18: 10).
Setiap kita mempunyai seorang malaekat pelindung. Ia bertugas melindungi, membimbing dari mempersembahkan doa dan karya-karya kita kepada Allah. Kita harus selalu menghormati malaekat pelindung kita, karena dialah sahabat kita yang ditugaskan Tuhan untuk mendampingi kita dalam hidup ini.

SIAPA ITU PADUAN SUARA MALAIKAT? 
Katekismus gereja Katolik dengan sangat jelas mengatakan kebenaran iman ini,  bahwa ada makluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci disebut “MALAIKAT”. Maka sudah sepantasnya  setiap anggota gereja menerima dan mempercayai kebenaran iman ini. Malaikat dapat digambarkan sebagai makluk rohani murni dan wujud pribadinya memiliki akal-budi dan kehendak bebas. Malaikat tidak dapat mati. Sejak abad ke-4, malaikat digolongkan dalam SEMBILAN paduan suara. Dikenal dengan sebutan paduan suara para malaikat. Dijelaskan kurang lebih seperti berikut:

KETIGA  PADUAN SUARA  yang pertama MENATAP DAN BERSEMBAH SUJUD langsung di hadapan Tuhan:
1. SERAFIM, artinya “yang bernyala-nyala”. Serafim memiliki nyala kasih yang paling berkobar di hadapan Tuhan dan hadir di hadapan Tuhan dengan pemahaman yang sungguh mendalam. <LUCIFER adalah salah satu dari Serafim yang terang benderang itu, tetapi kemudian berubah menjadi kegelapan>
2. KERUBIM, artinya “kesempurnaan kebijaksanaan”. Kerubim berdiri di hadapan kebijaksanaan Ilahi; merenungkan penyelenggaraan dan rancangan Allah bagi makluk ciptaan-Nya.
3. TAHTA, melambangkan keadilan Ilahi dan kuasa pengadilan. Tahta berdiri dengan merenungkan kuasa dan keadilan Allah.

KETIGA PADUAN SUARA berikutnya MENUNAIKAN RENCANA PENYELENGGARAAN ILAHI bagi alam semesta :
1. PENGUASA, nama ini menyiratkan otoritas. Dikenal juga sebagai pemimpin paduan suara yang lebih kecil.
2. KEUTAMAAN, nama ini menimbulkan kesan daya atau kekuatan. Dikenal siap melaksanakan perintah Penguasa dan memimpin kelompok surgawi.
3. KEKUATAN, nama itu menunjuk pada tugas menghadapi serta melawan kuasa-kuasa jahat yang menentang rancangan peyelenggaraan Ilahi.

KETIGA PADUAN SUARA yang terakhir berhubungan langsung DENGAN MASALAH-MASALAH Manusia:
1.  KERAJAAN,  melindungi kerajaan-kerajaan duniawi, seperti bangsa-bangsa atau kota-kota.
2. MALAIKAT AGUNG, menyampaikan pesan-pesan Allah yang paling penting kepada umat manusia. (Bdk. Malaikat Mikael-Gabriel dan Rafael)
3. SETIAP MALAIKAT, mengemban tugas sebagai pelindung setiap kita. Sering disebut malaikat pelindung masing-masing kita.
Walau ini “bukan merupakan” dogma resmi, tetapi penggolongan ini sangat popular pada abad pertengahan, salah satu buktinya dalam tulisan-tulisan St. Thomas Aquinas.

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.  “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor . Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya” Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa yg terakhir itu adalah Albert Einstein.
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.  “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor . Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya” Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
 
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa yg terakhir itu adalah Albert Einstein.
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.  “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor . Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya” Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
 
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa yg terakhir itu adalah Albert Einstein.
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.  “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor . Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya” Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
 
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa yg terakhir itu adalah Albert Einstein.
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.  “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor . Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya” Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
 
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa yg terakhir itu adalah Albert Einstein.
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.  “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor . Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya” Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
 
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa yg terakhir itu adalah Albert Einstein.

Tata Perayaan Ekaristi 2005

1. PROSESI : PERARAKAN MASUK
a. Saat : Imam dan Pelayan dari sakristi menuju altar, “pada Hari Raya” masuk dari tengah/depan bagian Altar dan (diiringi dengan Nyanyian Pembuka)
Sikap tubuh Umat : Berdiri
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berarak, B...erdiri
b. Saat : Setiba Imam dan Pelayan di depan altar
Sikap tubuh Umat : Membungkuk, Berdiri
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : 
Membungkuk, Berdiri
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Membungkuk, Berdiri

2. PROSESI : TANDA SALIB & SALAM
Sikap tubuh Umat : Berdiri, Tanda Salib
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : 
Berdiri, Tanda Salib
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri, Tanda Salib

3. PROSESI : PENGANTAR
Sikap tubuh Umat : Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.

4. PROSESI : TOBAT
Sikap tubuh Umat : Berlutut.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.

5. PROSESI : KEMULIAAN
Sikap tubuh Umat : Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.
Keterangan : Diucapkan seluruh Umat bersama-sama atau silih berganti antara umat dan Imam, bisa pula dinyanyikan oleh Koor dengan umat.

6. PROSESI : DOA PEMBUKAAN
-  Saat “Marilah berdoa…”
Sikap tubuh Umat : Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.
7. PROSESI : BACAAN 1
Sikap tubuh Umat : Duduk.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Duduk.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Duduk.

8. PROSESI : MAZMUR
Sikap tubuh Umat : Duduk.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Duduk.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Duduk.

9. PROSESI : BACAAN 2
Sikap tubuh Umat : Duduk.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Duduk.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Duduk.

10. PROSESI : ALLELUYA/BAIT PENGANTAR INJIL
Sikap tubuh Umat : Duduk.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Duduk.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Duduk.

11. PROSESI : INJIL
Sikap tubuh Umat : Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.

12. PROSESI : HOMILI
Sikap tubuh Umat : Duduk.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Duduk.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Duduk.

13. PROSESI : SYAHADAT
a. Saat : “Aku percaya…”
Sikap tubuh Umat : Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.
b.  “…Yang dikandung dari Roh Kudus, Dilahirkan oleh Perawan Maria…”
Sikap tubuh Umat : Membungkuk, Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Membungkuk, Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Membungkuk, Berdiri.
Keterangan : Pada Hari Raya Natal : Berlutut.

14. PROSESI : DOA UMAT
Sikap tubuh Umat : Berdiri.
Sikap tubuh Umat (apabila tanpa tempat berlutut di Aula) juga untuk Koor : Berdiri.
Sikap tubuh Putra Altar/Putri Gereja dan Prodiakon : Berdiri.

Bersambung Di Edisi berikutnya.....

Find and See

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak.
- Amsal 13:20

Pelikan adalah burung penangkap ikan yang ulung. Tetapi di kota Monterey, California hal seperti ini tidak terjadi. Di kota ini, burung-burung pelikan tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan ikan, karena banyak sekali pabrik-pabrik pengalengan ikan. Selama bertahun-tahun mereka berpesta dengan ikan-ikan yang berserakan. Tetapi hal yang menakutkan terjadi ketika ikan di sepanjang pesisir mulai habis, dan pabrik-pabrik pengalengan mulai tutup, burung-burung tersebut mengalami kesulitan. Karena sudah bertahun-tahun tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas. Ikan-ikan yang dulu mereka dapatkan dengan mudah sudah tidak ada, sehingga satu persatu dari mereka mulai sekarat dan mati.
Para pencinta lingkungan hidup berusaha keras untuk menyelamatkan mereka. Berbagai cara dicoba untuk mencegah populasi burung ini agar tidak punah. Sampai suatu saat terpikirkan oleh mereka untuk mengimport burung-burung pelikan dari daerah lain, yaitu pelikan-pelikan yang berburu ikan setiap hari. Pelikan-pelikan tersebut lalu bergabung bersama pelikan-pelikan setempat. Hasilnya luar biasa. Pelikan-pelikan baru tersebut dengan segera berburu ikan dengan giatnya, perlahan-lahan pelikan-pelikan yang kelaparan tersebut tergerak untuk berburu ikan juga. Akhirnya pelikan-pelikan di daerah tersebut hidup dengan memburu ikan lagi. 
Les Giblin, seorang pakar hubungan manusia menjelaskan bahwa manusia belajar sesuatu dari panca inderanya. 1% dari rasa, 1½ % dari sentuhan, 3½ % dari penciuman, 11% dari pendengaran, dan 83% dari pengelihatan. John C Maxwel, seorang pakar kepemimpinan dalam sebuah surveinya membuktikan bahwa, “Bagaimana seorang menjadi pemimpin?” 5% akibat dari sebuah krisis, 10% adalah karunia alami, dan 85% adalah dikarenakan pengaruh dari pemimpin mereka.
Demikian halnya jika Anda ingin semakin maju, maka salah satu cara terbaik adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang berprestasi yang bisa anda temui. Perhatikan cara mereka bekerja, lihat hidup mereka, pelajari cara berpikir mereka, lihat bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka. Memang benar kita dapat belajar dari Tuhan langsung atau melalui pimpinan Roh Kudus, tapi kita juga harus terbuka ketika Tuhan menempatkan orang-orang terbaik yang bisa memacu hidup kita.

Carilah pergaulan yang dapat membangun kerohanian dan kehidupan Anda!

Jumat, 20 September 2013

Merencanakan Masa Depan

RD. Paulus Tongli
Hari Minggu Biasa ke XXV
Inspirasi Bacaan dari : Lukas 16: 1 - 13

Saudara-i terkasih, kekuatiran akan masa depan merupakan kekuatiran setiap orang. Tentang kekuatiran inilah yang dibicarakan oleh injil hari ini. “Apa yang hendak kulakukan?” demikian tanya bendahara itu dengan tidak berdaya. Tampaknya baginya tidak banyak pilihan: pekerjaan yang halal tetapi jujur tidaklah mungkin dilakukannya. Sedangkan untuk mengemis ia malu. 

Di dalam situasi seperti ini ia merencanakan suatu tindakan tidak jujur lainnya atas harta milik tuannya, yang pada saat itu masih ada di dalam kuasanya. Tindakan tidak jujur yang lain baginya dapat menjadi jalan keluar dari situasi yang mendesak itu. Ia memanggil orang-orang yang berutang kepada tuannya, mencoret sebagian kewajiban yang harus mereka bayar, dan mengurangi secara drastis kewajiban para kreditur itu. Dengan tindakan itu ia berharap agar mereka karena rasa terima kasih mereka, mereka mau membuka pintu rumah mereka untuknya bila mana tuannya memecatnya. Dengan itu orang masih dapat menerima dia ke dalam rumahnya.

Tetapi tidak ada sesuatu yang lain yang terjadi. 
Perumpamaan itu, sebagaimana Yesus menceriterakannya kepada para pendengarnya, berakhir dengan ungkapan: dan tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak cerdik” tuan di dalam perumpamaan itu adalah tuan dari bendahara itu. Memang mengherankan karena bendahara itu tidak menerima hukuman; malahan pujian. 

Di dalam konteks injil Lukas, tuan yang telah memuji bendahara itu, adalah Tuhan Yesus sendiri. Yesus memuji bendahara itu, dan tentu hal itu menghadapkan kita pada beberapa persoalan. Apakah penipuan dapat menjadi alternatif atas pekerjaan? Penipuan ganda dapat menjadi jalan keluar dari krisis? Pastilah Yesus tidak menganjurkan hal itu. Tetapi inti dari perumpamaan itu terletak pada pokok yang lainnya. Dua hal dapat menjadi titik tolak pemahaman. Di satu pihak bendahara itu merencanakan masa depannya; ia memikirkan bagaimana ia harus menghadapi masa depannya. 

Di lain pihak ia melakukan sesuatu yang baik meskipun dengan cara yang sangat meragukan: ia melepaskan utang; ia meringankan orang yang berbeban berat. 

Bahwa kita mencari pesan teks ini ke arah ini, diteguhkan oleh ungkapan Yesus: „Aku berkata kepadamu, ikatlah persahabatan dengan menggunakan mamon yang tidak jujur supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”. Kedua pemikiran itu dapat kita temukan di sini. 

Perencanaan akan masa depan: perencanaan itu tetaplah sangat sempit bila tidak menjangkau ujung hidup ini dan dari sana memikirkan akhir hidup ini. Menabung untuk masa depan tentulah harus dilakukan, tetapi kita tidak hanya membutuhkan tempat tinggal di bumi ini, kita juga membutuhkan tempat tinggal abadi di surga, tempat tinggal yang juga sudah harus mulai di bangun saat ini. Yang kedua berkaitan erat dengan yang pertama ini. Menjalin persaudaraan dengan menggunakan uang dan harta milik. Kegembiraan seperti ini dihasilkan orang dengan cara bantuan yang murah hati, di mana orang menjangkau orang yang menderita dan miskin. Teman-teman yang demikian dapat tampil menjadi pembela di depan pengadilan, atau kebaikan akan berbicara sendiri dan untuk kita. 

Pepatah mengatakan: pakaian orang mati tidak memiliki saku, tidak ada sesuatu yang dapat kita bawa serta ke dalam kubur. 

“Apa yang akan aku lakukan?” tanya bendahara itu di dalam perumpamaan, dan Yesus memberikan jawaban yang jelas. Pertanyaan serupa sudah sering kita ungkapkan, entah dengan sadar atau tidak. Jawaban Yesus karena itu juga berlaku untuk kita: memikirkan masa depan, pasti, tetapi jangan terlalu membatasi pada hal duniawi saja. Jaminan terakhir tidaklah datang dari harta duniawi, melainkan dari Allah. Bila kita bertindak demikian, dapatlah kita berharap akan janji Yesus: „Di dalam rumah bapaku ada banya tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk mempersiapkan rumah kediaman abadi bagi kalian” (Yoh 14:2).

KELUARGA SEBAGAI SARANA MENUJU KESUCIAN (Ef 5:21-6:4)

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2013 : 
KELUARGA BERSEKUTU DALAM SABDA

REFLEKSI MINGGU KE 4

Nasihat Paulus agar istri tunduk kepada suami sepertinya tidak relevan bahkan bertentangan dengan gagasan kesetaraan yang didengung-dengungkan dewasa ini dan oleh Paulus sendiri dalam Gal. 3:28. Namun, bila disimak lebih dalam, kesamaan dan kesetaraan yang diwartakan oleh Paulus dalam Gal. 3:28 tidak bermaksud menyangkal perbedaan gender, etnis, maupun sosial, melainkan menekankan kesatuan dan kesamaan orang Yahudi dan non-Yahudi di hadapan Allah. Semuanya memperoleh pembenaran dan keanggotaan yang penuh dalam umat Allah melalui iman akan Kristus. Kesatuan dan kesamaan keluhuran kita dalam Kristus tidak menghapus perbedaan. Sebaliknya perbedaan perlu untuk saling melengkapi (1Kor. 12:12-28).

Bila kita baca teks Ef. 5:2-10:32 secara keseluruhan, tentu tidak sulit menerima perintah "tunduk" kepada suami, karena konteksnya suami mengasihi istri. Selain itu, suami juga harus merendahkan diri dan melayani istri, bukan bersikap main kuasa. Apalagi dalam ayat 21 dianjurkan agar setiap orang saling merendahkan diri. Tapi bagaimana kita bisa menghubungkan kesamaan dan tunduk?

Gagasan kesamaan dan tunduk perlu dilihat dalam terang relasi yang terdapat dalam pribadi-pribadi Allah Tritunggal, khususnya antara Bapa (Allah) dan Putra (Kristus). Dalam 1Kor. 11:3, Paulus menggambarkan hubungan perempuan dan laki-Iaki seperti hubungan Kristus dan Allah, "Kepala dari perempuan ialah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah". Gambaran kepala di sini jelas menunjukkan tunduknya Kristus pada Allah, seperti nyata pula dalam 1Kor. 15:28, "Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia". Tunduknya Kristus pada Allah hanyalah untuk menunjukkan perbedaan peranan yang terdapat dalam Allah Tritunggal dan perbedaan relasi di antara mereka, sedangkan masing-masing pribadi itu memiliki kodrat yang sama. Perbedaan, bahkan takluk-Nya Putra kepada Bapa, sama sekali tidak meniadakan kesamaan fundamental mereka. Oleh karena itu, persekutuan Allah Tritunggal patut menjadi model persekutuan semua anggota Gereja, khususnya persekutuan antara suami dan istri dalam perkawinan. Suami dan istri tetap sama dan sederajat, meskipun suami adalah kepala istri.




Perbedaan istri dan suami

Paulus meminta istri untuk tunduk (ayat 21) dan hormat (ayat 33) kepada suami, sedangkan para suami diminta untuk mengasuh (memberi makan) dan merawat istri (ayat 29). Mengapa ada perbedaan seperti itu, apakah tidak cukup bahwa relasi mereka dibangun atas dasar saling merendahkan diri? Perbedaan ini mungkin merefleksikan perbedaan kebutuhan laki-Iaki dan perempuan. Laki-laki lebih membutuhkan hormat, sedangkan perempuan lebih membutuhkan perhatian dan kehangatan. Suami merasa nyaman dan bahagia ketika istrinya menunjukkan rasa hormat kepadanya, percaya dan mengandalkan dia. Sebaliknya istri merasa bahagia ketika suaminya menempatkan kebutuhannya sendiri sesudah kebutuhan istrinya. Apakah memang demikian?




Kewajiban dan bukan hak

Ketika membahas hubungan suami-istri, Paulus hanya menunjukkan tanggung jawab masing-masing pihak dan bukan hak-hak mereka. Hal ini tidak berarti bahwa ia tidak peduli dengan hak masing-masing pasangan. Yang mau dia tekankan ialah agar masing-masing pihak melakukan tanggung jawabnya masing-masing tanpa syarat. Dia tidak meminta suami mencintai istrinya jika si istri menghormati dan tunduk kepadanya. Ia juga tidak menyuruh istri-istri untuk tunduk kepada suami mereka jika suami mereka mengasihi dan mengurbankan dirinya untuk mereka. Bagaimana dengan relasi dalam keluarga kita? Apakah masing-masing pihak lebih memikirkan kewajiban orang lain daripada tanggung jawabnya sendiri? Menuntut orang lain berubah, dan bukan dirinya sendiri?




Kuasa dan kerendahan hati

Dalam keluarga perlu ada tata susunan relasi. Ada yang menjadi kepala dan ada yang menjadi tubuh. Tidak bisa semuanya menjadi kepala. Namun, meskipun ada perbedaan itu, pusat perhatian masing-masing anggota keluarga, khususnya suami, bukanlah menunjukkan otoritasnya, melainkan merendahkan diri, melihat kepentingan orang lain lebih dari kepentingannya sendiri.




Kewajiban orangtua mendidik anak

Perubahan-perubahan nilai dalam budaya modern cenderung mendorong anak kurang menghargai dan menghormati orangtuanya. Selain itu, tanggung jawab orangtua untuk mendidik anak di dalam Tuhan juga menjadi tugas yang sulit dijalankan, padahal itu sangat vital. Ketika dunia dan media massa menawarkan nilai-nilai yang berbeda bahkan bertentangan dengan nilai-nilai kristiani, orangtua diharapkan mampu memberi pengarahan agar anak tidak bingung dalam memilih jalannya. Adanya sekolah Katolik dan katekese di paroki tidak menggantikan peran orangtua sebagai yang pertama mendidik anak-anaknya dalam hal keagamaan.

Banyak orangtua telah menyadari tanggung jawab mereka memperkenalkan liturgi, sakramen, katekismus, dan rosario kepada anak-anaknya, tetapi mengapa begitu sedikit yang sudah memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anaknya? Orangtua dapat belajar berbicara tentang firman Tuhan dengan anak-anak mereka dan membangun keluarga yang mempunyai kebiasaan mengakui pentingnya dan kudusnya Kitab Suci, misalnya dengan membiasakan diri membuat ibadat keluarga memakai buku yang sudah diterbitkan oleh LBI. Orangtua dapat memakai kesempatan-kesempatan atau perayaan-perayaan khusus, seperti Natal, Paskah, dan Pentakosta untuk menerangkan iman Katolik dari Kitab Suci.***

Santo Sergius dari Radonezh, Abbas

Sergius atau Sergij lahir di Rostov, Rusia pada tahun 1315 dari sebuah keluarga petani sederhana. Di kalangan rakyat Rusia, Sergij dikenal luas karena kesucian hidupnya. Ia hidup bertapa di sebuah hutan rimba di luar kota Moskwa. 
Banyak orang datang kepadanya untuk menjadi muridnya. Karena banyak muridnya, ia akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah biara pertapaan dekat kota Zagorsk. 


Biara itu dinamakannya Biara Tritunggal Mahakudus; sampai kini biara itu tetap menarik perhatian banyak peziarah, walaupun mereka diolok-olok oleh kaum komunis Soviet.

Seperti St. Bernardus di Eropa Barat, demikian juga Sergij sering dimintai nasehat dan pendapatnya oleh para pembesar Gereja dan negara. 

Karena kesalehan hidup dan kejujurannya, Sergij beberapa kali ditawari jabatan Uskup atau Patriark Moskwa, namun ia selalu menolak tawaran itu karena lebih suka hidup menyendiri bersama rekan-rekannya di hutan rimba. 

Demikian juga seperti St. Fransiskus Asisi, Sergij juga dikenal sebagai pencinta lingkungan hidup. Dalam hidupnya Sergij menaruh devosi yang besar kepada Santa Perawan Maria setelah ia mengalami peristiwa penampakan Maria. 

Ia meninggal dunia pada tahun 1392 di tengah saudara-saudaranya sebiara dalam usia 83 tahun.