Cari Blog Ini

Selasa, 17 September 2013

KELUARGA YANG BERSEKUTU : KELUARGA KUDUS NAZARET (Luk 2:41-52)

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2013 : 
KELUARGA BERSEKUTU DALAM SABDA
REFLEKSI MINGGU KE 3

Keluarga Kristiani sering disebut Ecclesia Domestica artinya Gereja Domestik atau Gereja Rumah Tangga. Maksudnya, keluarga kristiani diharapkan menjadi perwujudan Gereja, persekutuan hidup dalam iman akan Yesus Kristus yang menghadirkan nilai-nilai Injili. Nilai-nilai itu terutama kasih dan ketaatan kepada Allah dan sesama, serta kerendanan hati.KELUARGA YANG BERSEKUTU : KELUARGA KUDUS NAZARET (Luk 2:41-52) Tiga pilar ini menjadi tiang utama penyangga persatuan hidup berkeluarga. Keluarga dipanggil untuk melayani hal-hal jasmani dan sekaligus juga hal-hal rohani. Hal ini dapat kita pelajari dari Keluarga Kudus Nazaret, khususnya dari kisah tentang Yesus yang ditemukan di Bait Allah dalam Luk. 2:41-52. Maria dan Yusuf yang setiap tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah menjadi teladan bagi kita dalam kesetiaan melayani Allah dan menaati hukum-hukum-Nya.

Kisah dalam Luk. 2:41-52 dapat dibagi dalam tiga bagian, yakni Yesus yang berusia dua belas tahun diajak orangtuanya pergi ke Yerusalem (ayat 41-42), Yesus tertinggal di Yerusalem (ayat 43-50), dan Yesus kembali ke Nazaret (ayat 51-52).

Beberapa pertanyaan refleksi:
Maria dan Yusuf sangat patuh pada peraturan peribadatan. Mereka membangun keluarganya berpusat pada ibadah dan berusaha menjaga keseimbangan antara melayani Tuhan dan bekerja untuk hidup sehari-hari. Bagaimana dengan keluarga kita? Apakah liturgi, khususnya Ekaristi, sudah menjadi puncak dan sumber kehidupan kita? Bagaimana dengan ibadat keluarga di rumah?

Yusuf dan Maria cemas mencari Yesus karena mereka merasa kehilangan Dia. Pernahkah keluarga kita merasa kehilangan Yesus, merasa sepertinya Yesus tidak hadir dalam keluarga kita? Apakah kita bersusah payah mencari-Nya? Ke mana? Sebenarnya Yesus tidak pernah hilang karena Ia ada dalam Bait Allah, dan seperti Paulus katakan, "Kamu adalah bait Allah" (1Kor. 3:16). Paulus katakan "kamu" (jamak) bukan “engkau", artinya kita bersama dalam persekutuan, keluarga domestik, merupakan bait Allah. Kita merasa kehilangan mungkin karena kita kurang peduli dengan Dia atau terlalu menyepelekan Dia.

Jika seandainya kita kehilangan anak, ke mana kita akan mencarinya? Mungkinkah kita akan menemukannya di gereja, ataukah di tempat-tempat hiburan dan permainan? Mengapa anak-anak kita merasa lebih nyaman di diskotek atau tempat hiburan daripada di gereja?

Jawaban Yesus kepada Maria, "Mengapa kamu mencari Aku?" menyadarkan kita bahwa Yesus bukanlah pertama-tama milik Maria dan Yusuf, melainkan milik Allah. Pernahkah kita berpikir bahwa anak itu bukan obyek yang harus kita miliki, melainkan subyek yang dipercayakan kepada kita? Apakah kita termasuk orangtua yang terlalu mau mengontrol anak, mengatur, dan mengarahkannya sesuai dengan kemauan kita tanpa mempedulikan keinginannya? Apakah kita kurang memberi keleluasan kepada anak? Terkadang anak melangkah tidak sesuai dengan harapan kita, tetapi apa yang dilakukannya itu bisa jadi merupakan langkah untuk berada lebih dekat dengan Bapa di surga.

Maria dan Yusuf menunjukkan kepada kita pentingnya pembinaan iman sejak usia dini. Sejak kecil anak-anak perlu dibiasakan berdoa, beribadat, dan membaca Kitab Suci, baik itu melalui pembinaan di rumah maupun kegiatan bersama dalam komunitas. Bagaimana dengan pendidikan anak kita? Apakah kita hanya mementingkan pendidikan intelektualnya, dan kurang memperhatikan segi spiritual dan sosialnya, sehingga anak-anak kita tidak bisa dewasa secara menyeluruh dan dikasihi Tuhan dan sesama?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar