Cari Blog Ini

Kamis, 28 November 2013

Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya

Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang belum diketahui banyak orang. Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.
Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.
Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.
Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih - masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.
Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.
Lingkaran Adven diletakkan di tempat yang menyolok di gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi - santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.
Jadi, nanti jika kalian melihat atau memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Jumat, 22 November 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN (23-24 November 2013)

 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

* Rusdy Ursal & Lisa Litandi Kawilarang 
(Pengumuman II)
* Juordan Alexander Wintono & Lina Libero 
(Pengumuman II)
*  Hugo Rahmat Saputra & Tinny Hamnto  
(Pengumuman I)
* Surhaja Hadi Winata & Heldy Jakem  Precelly T. 
(Pengumuman I)
* Stefanus Ambeng & Yenny Chandra (Pengumuman I)

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Mengenal Siklus Tahun Liturgi

1.Masa Adven
Masa Adven mulai pada hari Minggu keempat sebelum Natal. Natal selalu dirayakan pada tanggal 25 Desember. Selama masa Adven kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Kristus dengan sebaik-baiknya. Adven berasal dari kata Latin “Adventus”, yang berarti “kedatangan”. Pada masa ini imam memakai kasula berwarna ungu. Warna ungu berarti; prihatin, matiraga, tobat. Dalam masa Adven nyanyian “Kemuliaan” ditiadakan.
Nyanyian gembira itu berasal dari para malaikat yang bernyanyi di Betlehem, ketika Yesus lahir. Pada masa Adven kita tidak menyanyikannya dulu. Kita mau prihatin. Baru dalam Misa Malam Natal kita menyanyikan bersama para malaikat, sebagai tanda kegembiraan kita atas kelahiran Kristus.

2. Masa Natal
Masa Natal dimulai dari malam Natal sampai hari raya Pembaptisan Tuhan. Kita merayakan kelahiran Yesus di kandang Betlehem. Putera Allah menjelma untuk menjadi Penebus kita. Ia turun dari surga membuka pintu surga bagi kita, kita bersukaria karena Allah telah menebus kita. Maka pada hari Natal imam memakai kasula berwarna putih. Sebab putih adalah warna kegembiraan.
Pada hari Minggu setelah Natal kita merayakan Keluarga Kudus, yaitu Yesus, Maria dan Yusuf. Keluarga kudus merupakan teladan bagi keluarga-keluarga kita.
Pada tanggal 28 Desember kita merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci, yaitu anak-anak kecil di Betlehem dibunuh atas perintah Raja Herodes. Dengan cara demikian Herodes mau membunuh Yesus yang baru lahir. Tetapi Yusuf yang telah diberi-tahu malaikat sudah lebih dahulu mengungsikan Yesus. Kanak-kanak Betlehem telah wafat bagi Kristus. Maka pada hari ini mereka dirayakan sebagai orang kudus.
Tepat seminggu setelah hari Natal (1 Januari) kita merayakan Santa Maria, Bunda Allah. Kelahiran seorang anak merupakan hari raya bagi ibunya. Apalagi kalau yang lahir Yesus, Putera Allah sendiri yang telah menjelma. Maka Bunda Yesus kita rayakan sebagai Bunda Allah. Tanggal 1 Januari juga dirayakan sebagai Hari Perdamaian Dunia.
Tanggal 6 Januari atau sekitar tanggal itu dirayakan Penampakan Tuhan (kadang masih “Tiga Raja”). Kita memperingati kedatangan sarjana-sarjana dari Timur untuk menyembah Kanak-Kanak Yesus. Hari itu dinamakan “Penampakan Tuhan” sebab bintang menunjukkan kepada mereka tempat Yesus berada, Yesus sebagai Raja baru yang mereka cari. Yesus telah datang sebagai Raja semua orang.
Masa Natal berakhir pada hari Minggu setelah 6 Januari, yaitu hari raya Pembaptisan Tuhan. Dalam keluarga Katolik biasanya kalau kita masih kecil sudah di baptis, tetapi tidak bagi Yesus, Ia di baptis ketika berumur 30 tahun. Yesus meninggalkan Nazaret dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Setelah itu Ia mulai berkeliling mewartakan Kerajaan Allah di seluruh Tanah Suci. Karena Yesus sudah memulai tugasnya, maka pada hari ini masa Natal berakhir.

3. Masa Prapaska atau puasa
Masa Puasa mulai pada hari Rabu Abu dan berlangsung selama 40 hari (hari Minggu tidak terhitung). Dalam Perjanjian Lama, orang Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Selama 40 tahun itu mereka belajar mengenal Allah dan percaya. Dari Injil kita mengetahui bahwa Yesus juga berpuasa selama 40 hari, setelah dibaptis oleh Yohanes.
Hari pertama dalam masa Puasa adalah Rabu Abu. Pada hari ini kita menerima salib abu di dahi, untuk mengingatkan bahwa kita dari debu dan kembali kepada debu. Maka kita berniat akan hidup untuk hal yang penting. Kita mau bertobat dan melakukan matiraga atas segala dosa kita dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian.
Masa Prapaska berakhir pada hari Minggu Palma, dan akan di mulai Trihari Suci. Minggu Palma adalah hari pertama dari Minggu Suci, yang akan berlangsung sampai Sabtu Sepi. Dinamakan Minggu Suci karena penderitaan dan wafat Yesus telah dibuka kembali bagi kita.

4. Tri Tunggal
Selama tiga hari kita memperingati penderitaan, wafat serta kebangkitan Kristus. Mulai dari Kamis Putih sampai Minggu Paska. Oleh penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus kita telah ditebus. Itulah peristiwa paling penting yang pernah terjadi. Maka dari itu Trihari Suci merupakan perayaan terbesar dalam tahun liturgi.
Pada hari Kamis Putih, Yesus telah mengadakan perjamuan malam terakhir bersama dengan para muridNya. Perjamuan terakhir itu merupakan pertama kalinya dilakukan Yesus bersama para murid. Peristiwa yang penting pada hari ini adalah pembasuhan kaki, Yesus yang menjelma menjadi manusia masih mau untuk melayani para muridNya dengan membasuh kaki. Apakah kita dapat berbuat seperti yang Yesus lakukan?
Pada hari Jumat Agung, kita mau mengenangkan penderitaan Yesus. Didera, dijatuhi hukuman mati dan disalibkan. Sekitar jam tiga Yesus wafat. Maka dari itu diadakan upacara penghormatan salib suci.
Pada hari Sabtu dalam Trihari Suci dinamakan Sabtu Suci/Sabtu Sepi, sebab pada hari itu Tubuh Yesus tinggal dalam makam. Kita berkabung. Tidak diadakan Misa. Kebangkitan Kristus baru mulai dirayakan pada malam harinya, dalam upacara Malam Paska. Upacara itu dimulai dengan tuguran. Kita berjaga sambil merenungkan nubuat-nubuat dari para nabi dan menantikan kebangkitan Tuhan.

5. Masa Paska
Masa Paska mulai pada hari Minggu Paska dan berakhir pada hari Pentakosta. Pentakosta berasal dari bahasa Yunani yang berarti “Hari ke-50”. Sebab perayaan kebangkitan Kristus dimulai pada hari Paska, tetapi diteruskan sampai hari yang ke 50 itu. Selama masa Paska imam memakai kasula putih, sebab putih adalah warna kegembiraan.
Kenaikan Tuhan ke surga kita rayakan pada hari ke 40 sesudah kebangkitanNya. Ia berjanji kepada para muridNya akan datang lagi yaitu pada akhir zaman untuk mengadili semua orang.
Hari Pentakosta menutup masa Paska, warna dari hari ini adalah merah. Merah melambangkan Roh Kudus (lidah api) dan cinta kasih. Banyak orang kudus rela mati bagi Dia. Misalnya Santo Petrus dan Paulus dan juga Santo Tarsisius. Merah juga melambangkan darah dan para martir.

6. Masa Biasa
Masa yang bukan Adven, Natal, Prapaska atau Paska dinamakan Masa Biasa. Lamanya 33 (atau 34) minggu. Warna liturgi adalah hijau. Dalam Masa Biasa terdapat beberapa hari raya penting :
- Tritunggal Mahakudus adalah hari Minggu sesudah Pentakosta.
- Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah hari Kamis berikutnya, dirayakan hari raya Sakramen Mahakudus didirikan Kristus ketika Kamis Putih.
- Hari Raya Hati Kudus Yesus adalah hari Jumat setelah hari Kamisnya. Cinta kasih Kristus paling nampak di salib, ketika lambungNya ditikam dengan tombak, sehingga lambung yang terbuka memancarkan darah dan air.
- Hari Raya Kristus Raja adalah Minggu terakhir dalam tahun liturgi. Kita mengakui dan merayakan Kristus sebagai Raja semesta alam. Hari Minggu ini sekaligus menutup semua perayaan selama satu tahun.

Santo Yakobus dari Persia, Martir

Yakobus dari Beth-Lapeta, Persia (sekarang: Iran) lahir pada akhir abad keempat. Beliau seorang bangsawan Kristen kaya raya dan berpangkat tinggi di dalam Kerajaan Persia sebagai penasehat raja. Tetapi kebesarannya ini justru kemudian mendatangkan kecelakaan atas dirinya. Ketika raja mulai menganiaya orang-orang Kristen, Yakobus mengkhianati imannya dengan maksud supaya terlindung dari bahaya mati dan terus hidup terjamin.  Namun isteri serta ibunya tetap setia kepada Kristus. Dengan terus terang mereka menegur Yakobus dan menunjukkan kesalahannya. Meskipun sejak itu mereka segan bergaul dengannya, namun karena terdorong oleh cinta sejati, mereka tetap mendoakan agar hatinya berbalik lagi kepada Kristus.
Demikianlah akhirnya, oleh sinar cahaya rahmat ilahi yang menembusi hatinya yang tegar dan keras, Yakobus kembali kepada Tuhan. Semenjak itu ia tidak pernah lagi pergi ke istana bahkan dengan berani meletakkan jabatannya yang tinggi itu. 
Perubahan sikapnya itu tak dibiarkan begitu saja oleh raja. Yakobus dipanggil lalu dimintai pertanggungjawabannya tentang sikapnya itu. Ia menyatakan secara tegas bahwa ia seorang Kristen yang tidak boleh bekerja sama dengan raja yang lalim. Maka murkalah raja, lalu segera memanggil pembesar-pembesar kerajaan dan hakim-hakim untuk menentukan hukuman yang tepat atas orang-orang Kristen.
Tuduhan yang dikemukakan ialah bahwa orang-orang Kristen menghina dan tidak mau menyembah dewa-dewa nasional. Oleh karena itu hukuman mati pantas dijatuhkan atas mereka termasuk Yakobus. Anggota badan Yakobus dipotong-potong. Menyaksikan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Yakobus, orang-orang Kristen tak putus-putusnya berdoa agar Yakobus dapat bertahan dan berkanjang dalam menahan sengsara yang ditimpakan kepadanya. 
Doa mereka itu dikabulkan. Yakobus dengan gembira dan tersenyum menanggung penderitaan itu. Ia bahkan mengucap syukur kepada Allah karena boleh turut serta menanggung sengsara Kristus. Yakobus mati sebagai martir Kristus pada tahun 421.

HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Hari ini seluruh Gereja menyambut Hari Raya Kristus raja Semesta Alam sebagai penutup tahun Liturgi Gereja. Minggu depan adalah permulaan tahun Liturgi Gereja. Yesus bukan Raja duniawi (politis), tetapi Raja rohani. Dia menjadi segala-galanya bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tahta-Nya bukan terbuat dari emas, namun tahtanya berada di hati setiap manusia. Apakah kita, Anda dan saya, sungguh mengalami bahwa Dia meraja dan bertahta di hati kita?
Untuk bisa mengalami seperti ini kita hendaknya terbuka pada kasih-Nya dan membiarkan diri dibimbing serta dipimpin oleh kasih-Nya, sehingga kita menyatu dengan Dia. Kita hidup dan dihidupi oleh Kristus. Marilah kita berkeyakinan seperti Paulus: "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal 2: 20).
Di depan Pilatus Kristus bersaksi bahwa Dia seorang Raja yang bukan dari dunia ini, sekalipun dengan resiko ditolak, bahkan dijatuhi hukuman salib. Seperti Kristus, demikian pula kita hendaknya bersaksi di tengah masyarakat plural agama-agama yang sebagian besar belum, apalagi mengenal dan mengimani Kristus Raja.
Bagaimana kita bersaksi? Jadilah Injil yang hidup. Caranya ialah menampilkan Kristus yang hidup dalam diri kita masing-masing lewat pergaulan kita dalam hidup sehari-hari. Tujuannya ialah agar Kristus yang tak kelihatan menjadi kelihatan melalui sikap, penampilan serta tutur kata yang menyejukkan. dengan melakukan hal itu berarti kita mau bersaudara dan membangun persaudaraan tanpa membedakan siapapun.
Dasar mau menerima sesama sebagai saudara ialah bahwa kita percaya dan melihat Kristus ada dalam diri sesama yang kita jumpai, entah dia itu orang yang menyenangkan atau sebaliknya. Terutama melihat orang yang paling hina, karena tidak mustahil Kristus ada dalam diri orang yang sering kurang kita perhitungkan atau kurang kita hargai.
Ingat Sabda-Nya: "Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25: 40). Jika kita bisa melihat wajah Yesus pada diri sesama, maka kita menjadi orang terberkati yang layak menerima anugerah kekal. Bila tidak, kita menjadi orang terkutuk dan cocok untuk hukuman kekal.
Di mana dan kapan kita membangun persaudaraan insani? ? Ada banyak kesempatan:
• Di RT-RW. Kita dengan tetangga mau akrab, membantu yang kekurangan.
• Di tempat kerja. Menyapa satpam, cleaning service, pegawai kecil dsb.
• Hadir dan berperan di kegiatan Lingkungan dan paroki.
Semoga dengan demikian kita menumbuhkan simpati kita sebagai pengikut Kristus.
Marilah kita menjadi Injil yang hidup dan menjadi berkat bagi siapapun. Amin.

Jangan Mencoba Apa yang Dilakukan Orang Gagal

Apakah Anda tahu alasan mengapa banyak orang tidak sesukses seperti apa yang mereka inginkan? Rasa takut! Ya, rasa takut yang berlebihan! Takut untuk melakukan kesalahan dan takut untuk gagal. Perbedaan antara orang yang sukses dengan orang gagal hanya ditentukan oleh cara pandang terhadap garis finishnya yang akan dilalui. Orang yang sukses adalah mereka yang tidak peduli apakah melintasi garis finishnya ditempat pertama atau terakhir, tapi yang mereka pikirkan hanya bagaimana cara untuk melintasi garis finish tersebut.
Orang gagal adalah mereka yang berhenti sebelum waktunya menang. Sebagai contoh, ia berlari 95 meter dari pertandingan 100 meter setiap harinya dalam hidup. Dalam dunia kewirausahaan, Anda juga harus mengalahkan rasa takut. Jangan menunggu segalanya berjalan dengan sempurna, tapi lakukanlah apa yang orang gagal lakukan.
Orang yang gagal pada waktunya bisa menjadi seorang yang profesional yaitu menunggu tiga hal secara bersamaan. Pertama, menemukan orang yang tepat. Kedua, menemukan peluang yang tepat dan ketiga, mempunyai uang yang banyak.
Dari situ ada terlihat masalah, bahwa ketiga bagian itu jarang sekali muncul pada saat yang bersamaan. Seringkali, orang yang gagal ini masih terpaku dengan mesin yang masih mati, yang artinya ia diam ditempat dan selalu beranda-andai. Tentu saja mereka yang gagal karena tidak pernah mencoba untuk melakukan.
Sebagai entrepreneur, Anda harus tidak peduli apakah satu atau dua kali mencoba, tapi lakukanlah terus menerus sampai garis finish yang Anda akan lalui. Anda juga harus mencari berbagai macam peluang, uang dan orang yang tepat, bukan menunggu orang gagal.
Tapi pada intinya, Anda harus bertegang teguh pada tujuan, fokus dan konsisten. Sekali Anda mengambil keputusan, kalahkan rasa takut dan cemas Anda. Ingat, jangan lakukan apa yang telah dilakukan oleh orang gagal.

Awal Tahun Liturgi

Kalender yang kita gunakan memang disebut kalender Masehi, tetapi tidak berarti Gereja harus mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh kalender itu. Peletakkan awal Tahun Liturgi Gereja pada masa Adven mengikuti sebuah teologi yang bertujuan mengajak seluruh anggota Gereja untuk menghidupi kembali masa penantian akan kedatangan penebus, seperti yang dialami oleh umat Israel. Masa penantian ini dijiwai dengan semangat pertobatan untuk menyambut kedatangan Penebus. Dengan demikian, Tahun Liturgi mengikuti proses penebusan, yang mulai dengan Inkarnasi sampai kemudian berpuncak pada Misteri Paskah Kebangkitan. Ibarat musik, kalender liturgi kita mengalami crescendo, dengan titik puncaknya pada saat Kebangkitan Kristus. Pusat iman kita memang adalah kebangkitan. Tetapi tidak perlu bahwa Tahun Liturgi dimulai dengan Kebangkitan, karena pengaturan yang sekarang itu lebih tepat, yaitu kebangkitan dijadikan sebagai titik puncak (klimaks) perjalanan liturgis sepanjang tahun. Kebangkitan inilah yang kemudian mewarnai seluruh perayaan sepanjang tahun. Jika Tahun Liturgi dimulai dengan Kebangkitan, maka masa penantian akan anti-klimaks. 

lilin vs bintang

Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin.  Lilin itu berkata, "Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." 
Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan."
Seperti lilin, kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, "Andai saja aku bisa memilih... "
Jangan pernah mengeluh, Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab  Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus,  yang masih kamu lakukan sampai sekarang."  ( Ibrani 6 : 10 ) Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin.  Lilin itu berkata, "Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." 
Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan."
Seperti lilin, kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, "Andai saja aku bisa memilih... "
Jangan pernah mengeluh, Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab  Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus,  yang masih kamu lakukan sampai sekarang."  ( Ibrani 6 : 10 )

Jumat, 15 November 2013

Sikap menghadapi kiamat


Oleh: RD. Paulus Tongli 
Hari Minggu Biasa ke XXXIII 
Inspirasi Bacaan: Mal. 4:1-2a; 2 Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19


Menghadapi bahaya misalnya penyakit atau kecelakaan orang bereaksi sangat berbeda-beda. Rasa takut tampaknya merupakan reaksi yang pertama dan utama. Lalu orang berusaha untuk menemukan jalan keluar. Orang-orang optimis mengatakan: semoga tidak terlalu fatal. Orang-orang pesimis mengatakan: matilah saya. Inilah akhir segalanya. 


Juga ketika seseorang tidak secara langsung merasa terancam bahaya penyakit atau kecelakaan, dan hanya mengikuti perjalanan waktu dan sejarah dunia, orang dapat juga sampai pada rasa takut dan reaksi ingin melarikan diri. Umat manusia berkembang begitu pesat dalam hal jumlah, sehingga bahaya kelaparan dan krisis energi tidak dapat dihindari. 

Sumber energi atom tidak akan pernah 100% aman. Kerusakan lingkungan berdampak pertama-tama kepada air dan udara, lalu kepada tanaman dan binatang dan akhirnya kepada manusia. Penganut paham optimisme akan mengatakan: tidak akan terlalu sulit. Selalu akan ada jalan keluar. Seorang pesimistis akan mengatakan: tidak ada lagi masa depan; bahaya akan segera datang, dan manusia tidak bisa lain. 

Bukan baru sekarang, tetapi juga sudah pada zaman Yesus manusia sudah sangat akrab dengan hal-hal yang mengejutkan. Pada zaman Yesus umat manusia sudah mengeluh akan kelaparan, perselisihan, revolusi berdarah dan perang, penyiksaan, kesewenang-wenangan penguasa, pembunuhan dan pemusnahan massal. Yesus bahkan sudah meramalkan yang lebih buruk lagi: penghancuran baid Allah di Yerusalem, suatu bencana yang sangat sulit dipahami. Baid Allah adalah tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Penghancurannya berarti bahwa Allah telah meninggalkan umat-Nya. 

Saudara-i terkasih, apa yang Yesus sabdakan kepada para murid-Nya dan dengan demikian juga kepada kita? Apakah Ia mengatakan: Jangan takut, sekalipun hal itu terjadi, kami tidak akan apa-apa? Atau apakah Ia mengatakan: sekarang saatnya semuanya akan berlalu? Tidak, Yesus justru mengatakan bahwa hal ini semua mungkin akan terjadi atas kita, kita harus memperhitungkannya. Penyakit, kelaparan, penderitaan, penganiayaan, bahkan kematian. Tetapi Ia bukanlah Allah orang-orang mati melainkan Allah orang-orang hidup. Allah dapat menyelamatkan kita seperti Yunus dari perut ikan (Yun 2:11), seperti Daniel dari mulut singa (Dan 6:2-29), seperti anak muda dari dapur api (Dan 3:91-97). 

Menghadapi musibah-musibah yang tak terelakkan, Yesus mengarahkan pikiran kita dari bumi kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Apa yang telah Allah ciptakan tidak ditinggalkan-Nya sendirian, Ia pun tidak meninggalkan kita dalam kesalahan dan kelalaian kita, tidak menyerahkan kita kepada kebebasan yang sering kita salah gunakan. Dunia tidak hanya diciptakan oleh Dia, tetapi juga untuk kemuliaan nama-Nya. 

Berhadapan dengan derita yang tak terelakkan, manusia sepanjang zaman bertanya: kapan akhir dunia itu akan datang? Akan ada banyak nabi-nabi palsu, orang-orang yang bahkan merasa mengetahui dengan tepat saat hari kiamat. Yesus memperingatkan: jangan dibingungkan, jangan mengikutinya; jangan disesatkan. Akhir dunia pasti akan datang. 
Namun tiada orang yang mengetahuinya. Hanya Allah yang tahu, kapan episode terakhir di atas panggung dunia ini terjadi, dan kapan tirai ditutup kembali. Setiap saat adalah kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan diri menyongsong datangnya akhir dunia. 

Oleh karena itu Yesus menuntut dari para murid-Nya suatu kombinasi sifat dan sikap antara kerajinan realisme dan kepasrahan kepada Allah; antara keberanian dan kegigihan; tetapi juga harapan yang kokoh bahwa juga kematian dan hari kiamat masih ada dalam genggaman Dia yang di dalam Wahyu Yohanes disebut: „Lihat, Aku menjadikan segalanya baru!” (Why 21:5). 


Untuk Apa Kamu yang Sadar dan Pintar Ikut-ikutan Menjadi Bodoh

Dahululu di sebuah kota di Tiongkok hidup seorang hakim yang sangat dihormati, karena dia bijaksana saat memutuskan perkara, hatinya jujur, dan sikapnya tegas.  Suatu hari, datanglah dua orang laki-laki menghadap hakim itu.  Mereka bertengkar hebat, bahkan nyaris beradu fisik di depan hakim itu, kalau tidak dicegah oleh para petugas keamanan.  Apa yang membuat mereka bertengkar?  Keduanya berdebat tentang berapa hasil hitungan 3 x 7.  Si A mengatakan hasilnya 21, sedangkan si B bersikukuh mengatakan bahwa hasilnya 37.   Setelah mendengarkan pangkal persoalannya, hakim itu menjatuhkan hukuman cambuk 10 x bagi si A, orang yang menjawab 3 x 7 sama dengan 21.  Spontan si A memprotes. Dia mengatakan bahwa jawabannya benar dan bertanya mengapa dia yang dihukum.  Seharusnya si B yang dihukum karena dia menjawab salah.
Sang hakim menjawab, "Aku memang menjatuhkan hukuman kepadamu.  Hukuman ini bukan karena hasil hitunganmu, tetapi untuk kebodohanmu.  Mengapa engkau mau berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3 x 7 adalah 21?  Dia (sambil menunjuk ke si B) salah dan diingatkan, tetapi dia masih ngotot dengan pendapatnya sendiri.  Untuk apa kamu yang sadar & pintar ikut-ikutan menjadi bodoh?"
Hikmah dari cerita ini adalah bahwa jika kita mau berdebat tentang sesuatu yang tidak berguna, berarti kita juga ikut bersalah, bahkan sebenarnya lebih bersalah daripada mitra bertengkarnya.  Itu berarti dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
Apakah Anda juga pernah mengalaminya?  Mungkin mitra bicara/bertengkar Anda adalah pasangan hidup Anda, saudara, kerabat, sahabat, teman, atau tetangga sebelah rumah.  Berdebat atau bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi dengan percuma.  Anda kehilangan waktu (yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja yang menghasilkan), kehabisan energi, lelah, stres, dan ada risiko pertengkaran itu berkembang menjadi hal yang lebih serius.  Semoga kita, Anda dan saya, mau menjadi orang yang lebih bijaksana.

"SING WARAS YO NGALAH"

BAGAIMANA KITA BERDOA BAGI MEREKA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA?

Hal paling ampuh yang dapat kita lakukan ialah mengadakan Misa untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian, atau mohon intensi misa (intensi misa = ujub Misa yang terkadang diminta oleh umat) bagi jiwa seseorang yang telah meninggal dunia. Devosi lain yang amat bermanfaat ialah Doa Rosario dan Jalan Salib demi jiwa-jiwa menderita tersebut. 

Kita juga dapat melakukan matiraga. Semua matiraga kita, bahkan matiraga yang terkecil sekali pun, kita persatukan dengan penderitaan Yesus dan kita persembahkan ke dalam tangan kasih Bunda Maria demi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian. Indulgensi (indulgensi = pengampunan/ penghapusan hukuman dosa di api penyucian) juga berlaku bagi mereka yang telah meninggal dunia. Jadi ingatlah untuk senantiasa berdoa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi jiwa-jiwa tersebut.

Sebuah buletin berjudul “The Holy Souls Will Repay Us a Thousand Times Over”(Jiwa-jiwa Akan Membalas Kita Seribu Kali Lipat), mengatakan, “Ketika pada akhirnya jiwa-jiwa di api penyucian telah terbebas dari penderitaan mereka dan menikmati sukacita surgawi, mereka tidak akan melupakan saudara-saudarinya yang masih ada di dunia. Ungkapan rasa terima kasih mereka tidak mengenal batas. Sujud menyembah di hadapan Tahta Allah, mereka tak henti-hentinya berdoa bagi saudara-saudarinya yang telah mendoakannya. 

Dengan doa-doanya, jiwa-jiwa itu melindungi saudara-saudarinya dari mara bahaya serta dari segala kejahatan yang mengancam. Dan kelak, ketika saudara-saudarinya itu tiba di api penyucian, jiwa-jiwa itu akan mendoakan mereka sehingga masa tinggal mereka di api penyucian dapat dipercepat dan diperingan atau bahkan mereka dapat memperoleh pengampunan SEUTUHNYA.” (Imprimatur: Herbert Cardinal Vaughan).  

“Yesus, Maria, aku mengasihi-Mu, selamatkanlah jiwa-jiwa.”

PENGUMUMAN PERKAWINAN (16-17 N0vember 2013)


 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
* Rusdy Ursal & Lisa Litandi Kawilarang 
(Pengumuman I)
* Juordan Alexander Wintono & Lina Libero 
(Pengumuman I)
*  Leonardo Jemmy Gosal & Wenda Suciady 
(Pengumuman III)
*  Fransiskus Juniadi  Bisono & Devina Fransisca 
(Pengumuman III)
*  Jerri Chandra & Lidwina Nelly Aliandu 
(Pengumuman III)
*   Wong Eng Yong & Olivia Loardi 
(Pengumuman III)

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Jangan Selalu Menunggu Hari Senin

Kamu tentu masih ingat kisah gadis kembar asal Iran, Laden dan Laleh Binjani, yang meninggal setelah dilakukan operasi pemisahan kepala di rumah sakit Raffles, Singapura pada 8 juli 2003 silam. Operasi pemisahan ini merupakan salah satu operasi berisiko tinggi dan belum pernah dilakukan sebelumnya mengingat operasi ini baru dilakukan setelah kedua gadis itu berumur 29 tahun. Bayangkan! Selama 29 tahun mereka harus hidup dengan ubun-ubun yang berdempetan satu sama lain atau dalam bahasa kedokterannya disebut craniopagus vertical.

Hidup berdempetan kepala tak hari menghalangi hidup. Hal yang menakjubkannya adalah mereka berdua lulus sebagai sarjana hukum. Namun, mereka mempunyai keinginan dan cita-cita yang berbeda. Laden yang bersuara lantang, menginginkan hidup terpisah dari saudari kembarnya sebagai seorang pengacara di kota kelahiran mereka, Shiraz. Sedangkan Laleh, sebelum dilakukan operasi dia mengatakan ingin menjadi seorang wartawan di Teheran. Cita-cita yang timbul dari semangat untuk menjadi lebih baik. Meski cita-cita itu harus kandas setelah operasi itu tak berhasil memisahkan keduanya secara sempurna.

Mengapa baru pada usia 29 tahun keduanya baru dioperasi? Mengapa pula mereka tetap bersikeras untuk dioperasi meski keduanya tahu bahwa operasi dempet kepala memiliki banyak dimensi mikroteknik saraf yang sangat rumit? Keduanya pun tahu resiko yang akan terjadi bila aliran darah ke otak terputus meski hanya sejenak. Namun, semangat yang besar dari keduanya untuk menjadi dirinya masing-masing secara terpisah menjadi inspirasi yang luar biasa.

Memiliki cita-cita adalah hak setiap manusia, seperti halnya hak untuk hidup. Akan tetapi hidup dengan cita-cita itu adalah pilihan. Karena hidup tanpa cita-cita tak ubahnya berlayar tanpa arah. Maka tinggal tunggu saja saat karam perahunya. Bahkan si kembar Laleh dan Laden pun memiliki hak untuk bercita-cita. Meski tak sempat menjadi nyata. Maka lihatlah kemauan keras dari kedua manusia yang ditakdirkan Yang Maha Berkehendak untuk bersahabat dengan “cacat”, namun memiliki keinginan untuk tetap survive. Bahkan mereka dapat membuktikan bahwa ketidaksempurnaan bukanlah suatu penghalang bagi seseorang untuk terus belajar dan berprestasi.

Lalu bagaimanakah dengan kita yang normal? Sudahkan kita memiliki cita-cita? Cita-cita yang tak sekedar cita-cita, tapi cita-cita yang menjadi arah hidup kita. Tak ada salahnya untuk mulai menyusunnya dari sekarang, tanpa harus menunggu momen tertentu. Momen yang kadang tidak selalu sempat kita dapati ketika kita menunggu-nunggu.

Jangan menunda untuk mulai mengubah hidup, esok, lusa, atau tahun depan. Mulailah mengubah hidup sekarang, jangan tunggu hari Senin. Masa depan sudah mulai ditentukan hari ini. Jangan rusakkan masa depan dengan kegiatan tak berguna hari ini.

Santo Feliks dari Valois, Pengaku Iman

Feliks lahir di Valois, Prancis pada tahun 1126 dari sebuah keluarga bangsawan Prancis, dan meninggal di Soissons, Prancis pada tanggal 4 Nopember 1212. Ia bersama muridnya Santo Yohanes dari Malta dikenal sebagai pendiri Ordo Tri Tunggal Mahakudus yang mengabdikan diri dalam karya penebusan para tawanan Kristen dari tangan kaum Muslim. Konon, semasa mudanya ia suka menolong orang-orang miskin dan sakit. Pakaiannya yang masih bagus sering dihadiahkan kepada para pengemis.  Ia kemudian menjadi rahib di hutan Gandelu di Soissons, Prancis. Salah seorang muridnya ialah Santo Yohanes dari Malta. Bersama Yohanes, Feliks mendirikan sebuah ordo religius: Ordo Tri Tunggal Mahakudus atau Ordo Trinitarian yang mengabdikan diri pada karya penebusan orang-orang Kristen yang ditawan oleh orang-orang Muslim. Pada tahun 1198, Paus Innosensius III (1198-1216) secara remi merestui pendirian ordo religius itu.
Feliks berkarya di Prancis dan Italia. Ia kemudian mendirikan biara Maturinus, atau Maturin di Paris. Rumah induk dari ordo itu adalah biara Cerfroid di Soissons, tempat Feliks menghembuskan nafasnya terakhir pada tanggal 4 Nopember 1212. Menurut dugaan banyak orang, Feliks dinyatakan 'kudus' oleh Paus Urbanus IV (1261-1264) pada tahun 1262, namun kebenaran dugaan tentang kanonisasi itu diragukan. Secara resmi ia dinyatakan sebagai seorang 'santo' oleh Paus Aleksander VII (1655-1667).

Santo Filemon, Rekan Sekerja Santo Paulus

Filemon yang berarti 'yang mengasihi' adalah kawan dan teman sekerja Santo Paulus di Kolose, Turki. Ia seorang Kristen yang kaya raya di dalam jemaat Kolose. Rumahnya sering digunakan untuk merayakan Ekaristi Kudus.

Ia mempunyai seorang budak, bernama Onesimus. Karena sesuatu masalah Onesimus lari ke Roma. Di sana ia ditobatkan oleh Paulus. 
Setelah itu ia dikirim kembali kepada Filemon dengan sepucuk surat pengantar dari Paulus. Surat itulah 'Surat Filemon' yang diakui juga sebagai salah satu surat pastoral dalam Kitab Perjanjian Baru. 
Surat Filemon digolongkan ke dalam kelompok 'surat dari penjara'. Di dalamnya Paulus meminta kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus. Paulus berharap untuk mempertahankan Onesimus selaku pengantar. 
Konon, Filemon yang dikenal dermawan ini menjadi uskup dan mati sebagai martir.

PEMBERKATAN BASILIKA ST.PETRUS DAN PAULUS

Sedikit ulasan yang diposting pada kesempatan ini sebagai penambah pengetahuan demi memperkokoh iman saudara-saudari yang bernaung di bahwa panji Gereja Katolik, yang mana kedua Rasul bersar ini, St. Petrus dan Paulus tetap mendapatkan tempat istimewa. 
Basilika SANTO PETRUS
  Basilika Santo Petrus (Bahasa Italia San Pietro in Vaticano) adalah sebuah basilika utama Katolik di Kota Vatikan, dikelilingi oleh Roma. Bangunan ini digambarkan sebagai gereja terbesar yang pernah dibangun (dia meliputi area 23.000 m² dan memiliki kapasitas lebih dari 60.000) dan salah satu situs tersuci dalam Kekristenan. Konstruksi basilika ini dimulai pada 1506 dan rampung pada 1626.
  Basilika Santo Petrus dibangun atas perintah Kaisar Kristen pertama Konstantin I, pada tahun 326 di tempat Santo Petrus menjadi martir. Seribu tiga ratus tahun kemudian bangunan ini mulai runtuh perlahan-lahan, dan oleh karena itu Paus Nikolas V memerintahkan agar dibangun sebuah basilika yang baru. Tetapi pembangunannya baru dimulai pada tahun 1506 pada masa jabatan Paus Julius II. Pembangunan basilika ini memakan waktu 120 tahun. Michelangelo diminta sumbangan karyanya dengan pieta-nya yang sangat terkenal itu. Waktu itu ia telah berusia 72 tahun. Basilika ini merupakan basilika terbesar di dunia dengan panjang 193 meter dan tinggi 132 meter.
  Tradisi mengatakan bahwa tempat bangunan ini merupakan tempat Santo Petrus, salah satu rasul Yesus dan dianggap sebagai Paus pertama, disalibkan dan dikuburkan. Gereja ini merupakan tempat penguburan St Petrus di bawah altar utama. Paus lainnya juga dikubur di basilika ini.


BASILIKA SANTO PAULUS ROMA
  Di Roma terdapat empat basilika agung: Basilika St. Petrus, St. Yohanes Lateran, Maria Maggiore dan Basilika Santo Paulus. Yang terakhir ini biasa disebut dengan nama resmi: Basilica di San Paolo fuori le Mura (Basilika Santo Paulus di luar tembok). Disebut demikian karena terletak di luar tembok kota Roma.
  Menurut ceritera, Santo Paulus dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya di Roma. Hal itu terjadi saat kaisar Nero berkuasa. Para pengikut Paulus menguburkan jenasahnya serta membuat suatu peringatan di atas makamnya, cella memoriae. Orang-orang kristiani purba kerap berjiarah ke makam rasul besar ini.
  Di atas makam inilah Kaisar Konstantinus mendirikan gereja Santo Paulus yang pertama (Nopember 324). Pada tahun 386, Kaisar Theodosius membangun basilika yang lebih besar, setelah sebelumnya meruntuhkan gereja pertama. Menurut catatan yang tertulis dalam tiang utama, basilika ini diberkati pada tahun 390 namun pembangunannya sendiri baru selesai tahun 395 pada masa Kaisar Honorius memerintah.
  Gereja megah ini dalam perjalanan sejarah, mengalami beberapa kali renovasi. Gereja ini juga beberapa kali mengalami kerusakan. Pada abad ke-sembilan, saat terjadi penyerbuan Saracen, basilika mengalami kerusakan berat. Namun, kerusakan paling parah terjadi pada tanggal 15 Juli 1823. Saat itu basilika nyaris musnah dilahap si jago merah. Hal ini disebabkan kelalaian seorang pekerja yang sedang memperbaiki atap gereja. Selain gereja, turut juga terbakar barang-barang bersejarah yang telah tersimpan selama 1.435 tahun di dalamnya.
  Paus Leo XII menunjuk sebuah komisi untuk membangun kembali basilika dengan ukuran yang sama dengan sebelumnya. Seluruh dunia bahu membahu mendirikan kembali basilika bersejarah ini. Viceroy dari Mesir mengirim pilar-pilar batu pualam, Kaisar Rusia menyumbang barang-barang berharga untuk tabernakel sementara bagian utama diselesaikan atas bantuan pemerintah Italia.
  Basilika Santo Paulus dibuka kembali pada tahun 1840. Kendati demikian, pemberkatan serta peresmiannya baru dilakukan limabelas tahun kemudian oleh Paus Pius IX. Saat itu hadir sekurangnya lima puluh kardinal.
  Patut dicatat, bersebelahan dengan basilika dibangun sebuah beranda oleh keluarga Vassalletti (1208-1235). Sebuah puisi tertulis dalam beranda tersebut yang menggambarkan kehidupan para rahib. Para rahib memang tinggal di biara sekaligus menjadi penjaga basilika.
  Sebagai daya tarik pengunjung, di kompleks basilika, terdapat juga museum serta toko souvenir. Bila sekedar ingin membeli barang-barang religius seperti rosario atau salib, tidak disarankan membeli di tempat ini. 
  Basilika Santo Paulus di luar tembok merupakan gereja terbesar kedua sesudah basilika Santo Petrus di Vatikan. Basilika St. Paulus memiliki panjang 131.66 meter, lebar 65 dan tinggi nyaris 30 meter. Dengan 80 tiang-tiang besar yang terdapat di bagian depan gereja, basilika ini terasa megah. Di bagian depan kanan basilika, terdapat pintu suci yang hanya dibuka pada tahun-tahun jubileum saja atau setiap 25 tahun sekali. Sementara di sayap pintu utama terdapat patung St. Petrus dan Paulus hasil karya Gregorio Zappala (abad 19).
  Ada yang unik dalam gedung basilika ini. Di sekeliling basilika, bagian atas, terdapat lukisan mosaik setiap Paus. Sejak Paus pertama, yaitu Santo Petrus, hingga Paus yang kini bertahta, Benediktus XVI terdapat gambarnya. Dengan demikian, sudah ada 265 gambar Paus terdapat di dalam tempat khusus tersebut. Kalau kita perhatikan, hanya tinggal beberapa tempat saja yang tersisa. Konon, bila semua tempat telah terisi, maka duniapun akan kiamat….
  xPaulus adalah rasul besar yang amat berjasa menyebarkan ajaran Kristus. Basilika megah yang kokoh berdiri adalah bukti penghormatan nyata atas jasa-jasa Paulus. Berjiarah ke tempat ini mengingatkan kita akan perjuangan serta pengorbanan Paulus yang luar biasa demi gereja, demi kita semua

Jumat, 01 November 2013

Orang Kaya juga Menangis

RD. Paulus Tongli
Hari Minggu Biasa ke XXXI
Keb. 11:22-12:2; 2Tes 1:11-2:2; Luk 19:1-10

Boris Becker adalah seorang mantan petenis nomor satu dunia. Pada puncak karirnya, ia telah memenangkan Wimbledon dua kali, salah satunya sebagai juara termuda. Ia sangat kaya dan dapat  memiliki semua hal yang nyaman dan mewah yang ia inginkan. Namun ia adalah seorang yang tidak bahagia. Meskipun ia mencapai prestasi yang luar biasa, hidupnya demikian kosong dan tak bermakna, sehingga ia pernah membayangkan untuk bunuh diri. “Saya tidak memiliki kedamaian batin” katanya. 
Becker tidaklah sendirian di dalam kekosongan batin ini. banyak orang yang sukses yang mengalami hal yang sama, kekosongan makna hidup. Menurut J. Oswald Sanders di dalam bukunya, “Facing Loneliness”, para milioner itu biasanya orang yang kesepian dan para komedian seringkali lebih tidak bahagia daripada penontonnya.
Siapa yang lain yang telah mengetahui hal ini selain Zakeus di dalam injil hari ini? sebagai seorang kepala pemungut cukai di kota Yeriko, Zakeus pastilah termasuk orang kaya pada zamannya. Kepala pemungut cukai bukanlah seorang pekerja dengan gaji yang tetap, ia seorang yang mendapatkan keuntungan dari selisih pajak yang ditarik dari rakyat dan yang harus dibayar kepada pemerintah Roma. Ia setiap tahunnya harus membayar jumlah tertentu kepada pemerintah Roma dan mempunyai hak untuk menetapkan berapa jumlah pajak yang harus dipungut dari setiap rakyat. Ia mempekerjakan orang-orang yang berkeliling untuk menarik pajak dari rakyat. Berapa pun jumlah selisih uang yang dikumpulkannya, itu adalah keuntungannya. Meskipun seorang kepala pemungut cukai memiliki uang yang banyak, ia dibenci di tengah masyarakat, bukan hanya karena ia memungut pajak secara berlebihan, tetapi juga karena ia membantu pemerintah romawi yang kafir itu untuk mengeksploitasi rakyatnya sendiri. Ia digolongkan sebagai pendosa publik, sebagai seorang yang najis di hadapan Allah. Jadi mekipun ia secara finansial mapan bahkan berkelebihan, kepala pemungut cukai menjalani hidup kesepian, tersingkirkan dari masyarakatnya sendiri dan juga dari Allah.
Zakeus kagum kepada Yesus, orang miskin dari Galilea yang menikmati kebaikan dan kesetiaan dari orang banyak. Apa gerangan rahasianya? Itulah yang ingin diketahui oleh Zakeus. Tetapi bagaimana mungkin orang seperti dia dapat berdesak-desakan dengan orang-orang yang sudah diperasnya untuk dapat berjumpa dengan Yesus? Ia memikirkan bagaimana cara bertemu dengan Yesus tanpa dilihat oleh orang lain. Ia memanjat pohon dan bersembunyi di sana. 
Hal ini sebenarnya hal yang tidak pantas untuk dilakukannya, karena memanjat pohon untuk bersembunyi dan mengintip dari atas pohon adalah hal yang biasanya hanya dibuat oleh seorang anak kecil atau budak. Tentulah orang akan menertawakan dia seandainya ada dari antara kerumunan orang itu yang melihatnya. Dapatlah dibayangkan rasa malu yang akan dialaminya seandainya hal itu terjadi. Tentulah orang mengejek dia. Tetapi ejekan itu berhenti ketika Yesus melihat Zakeus di atas pohon dan berkata: “Zakeus, segeralah turun; karena hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk 19:5). Ia segera turun dari pohon dengan senyuman yang mekar pada wajahnya dan orang membuka jalan untuknya ketika ia mendatangi Yesus dan membawa Yesus ke rumahnya.
Pada saat makan Yesus tidak berkotbah kepada Zakeus bahwa ia harus bertobat, dan kalau tidak pastilah ia masuk neraka. Tetapi penerimaan Yesus yang tidak menghakimi dan tanpa syarat itu berbicara lebih banyak kepada Zakeus, langsung menyentuh hatinya lebih daripada kotbah yang paling baik sekalipun. 
Zakeus berdiri dan berkata kepada Tuhan dan dengan penuh keyakinan di hadapan orang banyak,” Setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang-orang miskin; dan jika ada yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (ay 8). Dengan memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan menggunakan setengah yang tersisa untuk membayar apa yang diperasnya empat kali lipat, semua harta milik Zakeus akan habis. Untuk apa lagi uang itu apabila orang sudah menemukan makna dan kepenuhan hidup itu?
Ada begitu banyak Zakeus yang lain, entah laki-laki atau perempuan, yang bersembunyi di atas pohon yang kita lalui setiap hari. Yesus menantang kita untuk memandang ke atas dan mengundang mereka untuk makan bersama. Kita harus mengambil langkah pertama untuk menjangkau mereka, karena banyak dari antara mereka yang begitu terintimidasi oleh vonis-vonis yang menyebabkan mereka menarik diri dari kebersamaan di dalam masyarakat atau di dalam lingkup paroki atau rukun kita. 
Bilamana kita mengundang mereka dengan kasih yang tanpa syarat dan tanpa menghakimi untuk dapat berbagi makanan atau minuman dengan kita, kita mungkin akan terkejut untuk melihat bahwa ternyata kita menebarkan kabar baik akan cinta Allah lewat cara-cara yang menyentuh hati mereka lebih daripada sejumlah kotbah yang bisa kita buat. 

Kisah si Rusa Emas

Dikisahkan ada seorang raja yang sangat serakah. Supaya diri dan kerajaannya semakin kaya, ia akan berbuat apa saja. Suatu hari ia mendengar, bahwa di hutan nun jauh di sana ada seekor rusa emas. Katanya setiap kali rusa itu menghentakkan kakinya, satu keping emas akan jatuh di depannya. Raja yang serakah itu sangat ingin memiliki rusa emas ajaib itu. Sudah puluhan prajurit beliau kirim untuk menangkap rusa emas itu, tapi selalu tidak berhasil. Karena gagal, ya kepalanya dipancung.
Akhirnya raja memerintahkan panglimanya sendiri untuk menangkap rusa itu. Ia terkenal sangat baik, suka menolong dan murah hati.Selama berbulan-bulan ia berada di hutan, tapi tidak sekalipun melihat rusa ajaib itu. Ia hampir putus asa. Suatu hari, tiba-tiba lewat di depannya seekot rusa yang dikejar oleh tiga orang pemburu dan anjing mereka. Rusa itu dalam keadaan luka parah. Selain gembira karena rusa itu adalah rusa emas yang dicari-carinya, ia juga terkejut, sebab ia berlari kepadanya dan minta disembunyikan dari kejaran tiga orang pemburu dan anjing-anjingnya. “Bantu saya. 

Sekali kelak saya akan membantumu”, pintanya. Panglima itu langsung memapah si rusa masuk ke sebuah gua di dekatnya. Bahkan ia juga menjaga di mulut gua. Lalu dengan pemburu yang merangsek masuk, panglima itu menghadapinya. Perkelahian tiga lawan satu terjadi. Si rusa emas menyaksikannya penuh kagum terhadap pelindungnya. Walau penuh luka, panglima berhasil menang. Si rusa emas pun bertanya, “Mengapa Anda berada di hutan ini?” Panglima menjawab pertanyaan itu terus terang, dan berkata, “Saya akan pulang dan melaporkannya kepada raja, bahwa saya gagal menangkap rusa yang dirindukannya. Kalau karena itu saya dipancung, saya siap”. Mendengar itu, si rusa emas berkata, “Paduka telah menolong saya. Sekarang giliran saya untuk menolong paduka. Marilah kita pergi menemui sang raja!”

Ketika raja yang serakah itu melihat panglimanya pulang dan membawa rusa emas, hatinya bersorak senang. Rusa emas kini dijadikan dewa kekayaan, dan semua rakyat disuruh menyembahnya. Dan raja sendiri minta, supaya rusa emas itu mulai menurunkan emas bagi kerajaannya. Tapi… sebelum rusa emas memenuhi keinginan raja, ia mengajukan satu syarat, “Saya akan menurunkan emas, tapi baginda raja tidak pernah boleh menghentikannya. Kalau baginda menyuruh berhenti, maka semua emas itu akan berubah menjadi abu”. Dengan gembiranya raj berkata, “Tentu… tentu… saya tidak akan menyuruh berhenti”.

Maka mulailah si rusa emas menghentakkan kakinya. Dan setiap kali ia melakukan itu, sekeping emas jatuh di depan kaki baginda. Tumpukan keping emas makin lama makin tinggi menggunung, sampai setinggi kepala raja dan menutupi seluruh badannya. Karena panik, raja berteriak, “Berhenti… berhenti…”. Seketika itu juga semua emas itu berubah menjadi abu dan raja mati terkubur abu tanah yang menggunung itu.

APA ITU INDULGENSI?

Dalam rangka “Peringatan Mulia Arwah Semua Orang Beriman” tanggal 2 November, setiap orang Katolik dapat memperoleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal. Caranya : mengunjungi makam dan/atau mendoakan arwah orang yang meninggal. Yang menjalankan setiap hari dari tanggal 1 s.d. 8 November memperoleh indulgensi penuh. Yang menjalankan pada hari-hari lain, memperoleh indulgensi sebagian.

Indulgensi adalah harta pusaka surgawi yang istimewa yang dianugerahkan Gereja kepada kita untuk melunasi hutang dosa kita kepada Tuhan serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa.


Tuhan memberikan wewenang kepada Gereja untuk memberikan indulgensi atas perbuatan-perbuatan atau doa-doa tertentu, sehingga ketika kita melakukan perbuatan atau doa tersebut, kita boleh memperoleh indulgensi.


Meskipun indulgensi tidak dapat dipergunakan untuk orang lain yang masih hidup (mereka harus memperoleh indulgensinya sendiri!), kita dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian agar lebih cepat tiba di surga dengan mempergunakan indulgensi yang kita terima untuk membantu mereka melunasi hutang dosa mereka kepada Tuhan.

Kerinduan akan Tuhan

Akhir-akhir ini, sulit sekali untuk mengatasi kelemahan-kelemahanku. kepalaku yang nyuut..nyuuut berenti, banyak tugas..yang uda mw mikir aja malas.. tetapi harus diselesaikan. karena hidup harus dijalani.. namun sungguh aku tertolong ketika aku buka surat doa dari seorang pemimpin yang sangat kukagumi; Bpk. Justi Patikawa; dalam surat doa itu ia membagikan kisah zakheus dalam Lukas 19:1-11, kisah ini menunjukan bahwa Yesus masih terus berusaha untuk menyelamatkan yang hilang, hanya beberapa hari sebelum penyalibanNya, inilah tujuan kedatanganNya di dunia. dalam perjalananNya menuju Yerusalem, Yesus melewati Yerikho dan bertemu dengan Zakheus. Zakheus adalah kepala pemungut cukai yaitu orang yang mencari nafkah dengan mengumpulkan pajak lebih banyak daripada yang seharusnya ia peroleh dari rakyat. oleh karena hal ini pemungut cukai sangat dibenci oleh orang yahudi dan dipandang rendah oleh masyarakat. 


Zakheus ingin melihat Yesus namun ia tidak berhasil karena orang banyak dan karena badanya pendek. Inilah 2 hal yang merupakan penghalang untuk melihat Yesus. penghalang pertama adalah orang banyak yang menggambarkan penghalang dari luar dan badan pendek sebagai penghalang dari dari dalam dirinya. sama seperti yang dialami Zakheus aku dan teman2 juga sering mengalami hal yang sama sewaktu ingin bersekutu dengan Bapa di sorga. kita memikirkan orang banyak di sekeliling kita, entah itu keluarga, teman2 pelayanan, teman2 kampus, dll. orang banyak ini yang menjadi penghalang sewaktu kita bersekutu dengan Tuhan, kita ingat apa yang kita janjikan dengan mereka, rencana kita dengan mereka, semuanya terpola dalam bentuk2 kegiatan yang dapat menghalangi dalam bersekutu dengan Tuhan. begitupula dengan penghalang yang dari dalam diri kita, mungkin kita tidak pendek seperti Zakheus, namun kita punya banyak pergumulan dalam diri yang menjadi penghalang baik itu fisik (kelemahan2 tertentu) maupun non fisik (masa lalu, konsep diri, kegagalan, kedewasaan, kenyamanan,dll) apa yang harus dilakukan???? 


Zakheus berlari mendahului orang banyak dan memanjat pohon ara. dia tidak bersembunyi dan berdalih dibalik kelemahannya, namun dia berlari (berusaha untuk meninggalkan) mendahului orang banyak dan memanjat pohon ara. seharusnya, kita mendahulukan Tuhan lebih utama dari semua orang yang berhubungan dengan kita dan berusaha menaruh persoalan dan pergumulan kita di kaki Tuhan agar kita dapat melihat kemuliaanNya sewaktu Dia menyatakannya kepada kita. kita harus menyingkirkan kelemahan2 baik itu dalam diri kita maupun yang dari luar agar kita dapat mendengar Tuhan bicara kepada kita sewaktu membaca FT. Apa yang terjadi kemudian???

Ketika lewat, Yesus berseru...turun sebab hari ini aku menumpang di rumahmu. kerinduan untuk melihat Yesus membuat Zakheus menerima sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Yesus akan menumpang di rumahnya. Kalau kita rindu untuk bersekutu dengan Tuhan, Dia tidak pernah mengecewakan kita. apa yang dirindukan jiwa kita tentang diriNya akan dinyatakan, Dia akan menyambut kita dan akan menerima kita karenan Tuhan Yesus dapat melakukan kepada kita hal2 yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya oleh kita. 


Ada 2 macam respons terhadap pernyataan Yesus untuk menumpang di rumah Zakheus : 

1. respons Zakheus : 
Ia segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. yang pertama dilakukannya adalah turun. ini adalah ketaatan kepada apa yang dikatakan oleh Yesus. hal yang kedua yaitu dia melakukan ketaatannya dengan sukacita. ini mengingatkan kita sekaligus mengevaluasi apakah kita juga menerima Yesus dengan sukacita atau terpaksa?? bagaimana sikap kita setiap kali mendengar Firman Tuhan?? apakah kita juga menerima Firman Tuhan dengan sukacita?? atau hanya suatu rutinitas dan legalisme?? 


2. respons orang banyak: 
Setelah mendengar apa yang Yesus katakan mereka bersungut2. persungutan itu muncul dari iri hati kepada orang lain, karena tidak mau melihat orang lain mengalami yang baik, karena yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena tidak puas. selanjutnya setelah persungutan orang banyak itu menyalahkan dan menghakimi Yesus, IA menumpang di rumah orang berdosa. mereka juga menghakimi orang lain sebagai orang berdosa tanpa menyadari kesalahan dan keberdosaannya. hati yang bersungut akan membuat kita tidak mendengar ALLAH berbicara bahkan sebaliknya akan menyalahkan Tuhan dan orang lain sambil membenarkan diri sendiri. 

Akhir dari semua itu, Zakheus menyadari kesalahannya dan itu mendorong dia untuk menanggulangi harta kekayaannya dan membereskan hidup masa lalunya yang penunh dengan dosa. ini adalah pengakuan yang sebenarnya akan dosa dan iman sejati yang menyelamatkan kepada Kristus akan menghasilkan suatu tekad untuk mengubah kehidupan lahiriah kita. tidak seorangpun dapat mengenal Yesus, menerima tawaran keselamatanNya dan pada saat yang sama tinggal didalam dosa. 

Belajar dari Zakheus, aku dan teman2 juga harus belajar untuk mengatasi berbagai pergumulan, masalah, kelemahan dan kesibukan kita supaya dapat mendengar Tuhan berbicara dengan sikap menerima semua perkataanNya dengan sukacita. 

Doa dan kerinduanku, agar kita semua memiliki persekutuan yang indah dengan Yesus dalam Doa dan saat teduh setiap hari.. supaya dapat melakukan kehendakNya dan mengenal lebih banyak apa yang Yesus mau kita lakukan.